ALICE THE MAGIC ANGEL

ALICE THE MAGIC ANGEL
Episode 43



Saat siuman, Alice menyadari dirinya ada di kamar rumah sakit.


“Gadis cantik, kita bertemu lagi.”


Di depan tempat tidurnya, berdiri Stanley yang mengenakan jas putih, dia tersenyum dan berkata, “Tenang, kamu tidak menjadi idiot, hanya saja kepalamu benjol.”


“Dokter Stanley?” Alice mengenalinya sebagai sahabat Andrew Wijaya, yang baru dikenalnya saat makan malam.


“Gadis cantik masih mengingat namaku Stanley, sungguh sebuah kehormatan.” Stanley memang pandai bicara, lalu berkata dengan akrab, “Biar kuberitahu sebuah rahasia diam-diam, mengenai apa yang terjadi setelah dirimu pingsan.”


“Rahasia apa?”


Stanley mulai bergosip dengan suara rendah: “Setelah Kakek Wijaya memukul pingsan dirimu, Kak Andrew sangat marah, dia menembaki lampu kristal yang ada di ruangan. Kakek tua itu sangat marah, katanya ada nona kedua kelurga Li yang juga ada disana, dia kaget sekali, lalu ikut pingsan.”


“Mengapa dia begitu marah?” Alice bertanya dengan heran, “Kakek juga tidak berniat memukulku, hanya tidak sengaja.”


“Kamu bisa-bisanya bertanya begitu.” Stanley memutar bola matanya, malas untuk menjawab.


Dia tidak pernah melihat Kak Andrew begitu marah demi seorang wanita.


Seorang pria yang marah demi seorang wanita!


“Kalau begitu dia baik-baik sajakan?” Alice menengok sekelilingnya, tidak menemukan sosok Andrew Wijaya, “Dimana dia sekarang?”


“Aku menyuruhnya menunggu di luar.” Stanley tersenyum puas, “Aku adalah dokter, jadi dia harus menurut padaku.”


Baru saja selesai dia berkata, terdengar bantingan pintu, terlihat Andrew Wijaya mengangkat kakinya yang jenjang, mendobrak pintu.


“Keluar.” Kata Andrew Wijaya pada Stanley dingin.


 


 


 


 


“Oh...” Stanley mengusap hidungnya, keluar dari ruangan dengan muram.


Alice bangkit dan duduk, dia setegah bersandar pada sandaran tempat tidur, melengkungkan alisnya dan tersenyum.


“Mengapa tersenyum konyol?” Andrew Wijaya mendekat, “Otakmu rusak setelah terbentur?”


“Aku senang.” Alice mengulurkan tangannya, mengait jemari pria itu.


“Barusan kudengar dokter Stanley berkata, kamu marah di kediaman Wijaya kan?” Alice mengangkat wajah mungilnya, menatap pria itu, “Aku sangat senang kamu sedikit peduli padaku.”


Andrew Wijaya menggenggam erat jemari wanita itu dengan tangannya : “Hari pertamamu menjadi pacarku sudah dipukuli orang, bagaimana bisa aku tidak marah.”


Alice tersenyum lebar: “Tidak masalah, tidak sakit sedikit pun.”


“Bodoh.”


Andrew Wijaya membungkuk, lalu mencium lembut puncak kepalanya dengan lembut: “Intinya kamu terluka karena aku.”


“Sudah pernah kukatakan aku akan melindungimu.” Kata Alice dengan serius. “Aku orang yang menepati perkataanku. Jika tidak dapat kuwujudkan, aku tidak akan berjanji dengan mudahnya.”


Contohnya, menikah.


Contohnya, bersama seumur hidup.


“Biar kulihat, luka pisau sebelumnya apakah sudah sembuh.” Andrew Wijaya mengangkat pakaiannya, pakaiannya meluncur sedikit melalui bahunya, menampakkan kulitnya yang seputih giok.


Di bagian belakang bahunya, lukanya telah mengering, sebuah garis coklat keunguan sungguh mengganggu pemandangan.


Seperti cacat kecil pada sebuah giok putih.


“Tidak ada lain kali lagi.” Dia memutar badannya dan mencium luka yang mengering itu, “Lain kali giliran aku yang melindungimu.”


“Ai, geli...” Alice sangat tidak suka rasa geli, dia beringsut, bergumam protes, “Kalau bicara ya bicara saja, jangan berbuat yang tidak-tidak.”


“Aku tidak berbuat yang tidak-tidak.” Andrew Wijaya tertawa dengan suara rendah, bibir tipisnya berpindah ke telinganya, “Hanya menggerakkan mulut.”


Telinganya sensitif, pipi Alice langsung memerah.


Dia mengulurkan tangan untuk mendorongnya: “Jangan begini, ini rumah sakit...”


Andrew Wijaya dengan pelan menggigit daun telinganya yang kecil: “Katanya ingin membuatku menderita malam ini?”


Alice teringat kembali saat berada di aula depan kediaman Wijaya, dia memang mengatakan hal itu.


Dia memutar bola matanya, mengangka tangan dan mengait pada lehernya, melengkungkan bibirnya: “Kamu yakin mau mencoba?”


“Coba saja.”


“Kalau begitu jangan menyesal.”


Muncul kilatan keras kepala di mata Alice yang gemilang.