
“Bukankah sudah pernah kukatakan bahwa aku akan mengurusimu.Seseorang harus selalu menepati janjinya, anggap saja uang ini untuk biaya makanmu.”Alice tertawa kecil sembari menyipitkan matanya yang berbentuk seperti almond. “Makanlah dengan perlahan. Aku pergi dulu.”
Andrew Wijaya mengangkat kedua ujung bibirnya, tersenyum samar,”Pengeluaranmu besar sekali.”
Alice mengiyakan pernyataan tersebut. “Lain kali jika ada undangan pesta, tolong ingat untuk memberitahukannya lebih dulu kepadaku. Aku sudah menyiapkan uangmu. Kita tidak boleh mempermalukan tamu, oke?”
Andrew Wijaya tertawa dengan suaranya yang rendah, wajahnya yang tampan itu memperlihatkan ketertarikannya.
Dahulu, ia tertawa dengan nada suara yang sedikit tinggi. Hal tersebut ditertawakan oleh sebagian orang, khususnya para wanita.
Jennie Putri yang melihat hal ini, hanya dapat terdiam dan mengepalkan erat-erat kedua tangannya sendiri, kuku jarinya yang panjang pun menusuk de dalam telapak tangannya.
“Kak Andrew, siapakah gadis ini?” Jennie Putri menahan kecemburuannya dan bertanya dengan riang.
“Jangan memberitahunya…” Alice berbisik pelan.
Ia pun menyenderkan tubuhnya ke dekat telinga Andrew Wijaya, sambil terkikik riang, ia berkata,”Jangan katakan ya, aku adalah orang yang akan membiayaimu.”
Wanita itu dengan jahil meniupi telinganya, setelah itu, dengan santainya ia berjalan keluar dari restoran itu.
Raut wajah Jennie Putri yang lembut dan elegan itu mendadak menjadi pucat, kuku Kristal di jarinya secara tidak sengaja dipatahkannya.
Dari mana datangnya orang miskin itu!
Wanita itu berani datang dihadapannya dan menggoda pria yang dicintainya!
Tunggu saja, ia tidak akan membiarkan wanita itu lolos!
……
Setelah Alice keluar dari restoran itu, moodnya pun membaik. Sambil bersenandung, ia pun memutuskan untuk jalan-jalan santai.
Baru saja ia keluar dari hotel dan menelusuri jalur kecil, ketika tiba-tiba mulai gerimis.
Namun hujan perlahan semakin lebat sampai membasahi pakaiannya.
Alice memang tidak berniat untuk kembali ke hotel, ia hanya berdiri dan membiarkan hujan membasahinya.
Ia ingin menguji sesuatu; ia ingin menguji apabila seseorang itu hatinya benar-benar sedingin dan sekeras baja……
Apabila seseorang hendak menyetir keluar dari hotel, maka sudah pasti ia harus menelusuri jalan kecil ini. Ketika Andrew Wijaya menyetir keluar dari hotel, tentu ia akan menemukan seorang gadis yang dengan bodohnya berdiri di tepi jalan dengan pakaian yang sudah basah kuyup.
Seketika itu juga, hati Andrew Wijaya pun diselubungi amarah. Ia berkata pada supirnya,”Hentikan mobilnya!”
Supir mobil itu langsung memberhentikan mobil.
Andrew Wijaya mengambil payung yang berada di dalam mobil dan langsung turun dari mobilnya.
“Mengapa kamu malah hujan-hujanan disini?” Ia bertanya dengan dingin.
Ucapannya benar adanya.
Ia mengungkapkan dengan terus terang apa yang ada di pikirkannya.
“Bukankah kamu sudah pernah berjanji bahwa kamu tidak akan merepotkanku?” wajah tampan Andrew Wijaya menatap dingin wanita cantik yang wajahnya penuh dengan tetesan air.
Dia sudah menjumpai banyak wanita lain, bahkan wanita yang lebih cantik dan yang lebih elegan darinya.
tapi belum pernah ia menjumpai wanita yang tidak takut mati sepertinya.
“Aku kan tidak merepotkanmu.”Alice menggelengkan kepalanya, ia pun tersenyum dan memperlihatkan lesung pipinya.”Kamu sendiri yang turun dari mobilmu, jadi jangan salahkan aku.”
“Lukamu terbuka.”Andrew Wijaya melihat dari atas pundak wanita itu dan perlahan menyentuhnya, kain kasa penutup luka itu sudah sedari tadi menjadi basah, dan samar-samar ada darah yang merembes keluar.
“Oh.”Alice tidak terlalu memusingkan hal itu, ia pun dengan cepat melambai ke arah pria itu,”Aku duluan ya,dah!”
Setelah ia selalu berbicara, ia pun keluar dari bawah naungan payung pria itu dan berlari ke derasnya hujan.
Ia sudah puas dengan mendapat hasil dari test barusan.
Manusia tidak boleh terlalu serakah, ia akan maju sedikit demi sedikit.
Baru saja ia berlari beberapa langkah, ketika tiba-tiba sebuah payung hitam besar menaungi tubuhnya dan melindunginya dari rintik hujan.
“Eh?” Ia menoleh heran.
“Setelah mengusikku lantas kamu kabur, apakah kamu sering menggunakan trik ini?”Suara Andrew Wijaya yang rendah dan seksi itu bergema dari atas kepalanya.
Tinggi badan pria itu 187 cm, kira-kira lebih tinggi satu kepala darinya.
Perbedaan tinggi badan mereka membuatnya sampai harus mendongakkan kepala untuk melihatnya.
“Tentu tidak.”Alice menatapnya dan berkata dengan sungguh-sungguh,”Aku tidak peduli jika kamu mempercayaiku atau tidak, aku hanya ingin mengujimu untuk mengetahui maksud hatimu saja.”
Pekerjaan atau bukan, ia tidak mungkin mau menggoda pria yang tidak disukainya.
Setiap kali suatu pekerjaan selesai, system akan menghapus ingatannya.
Tetapi ia sangat mengerti dirinya sendiri, setiap kali, ia pasti akan menyakiti pria yang disukainya.
“Menurutmu apakah aku percaya dengan kata-katamu itu?” Andrew Wijaya mendengus kesal.
“Ya sudah jika tidak percaya.” Alice menjadi kesal, ia mendorong payung pria itu dan memutarkan tubuhnya, hendak berjalan pergi,