ALICE THE MAGIC ANGEL

ALICE THE MAGIC ANGEL
Episode 41



“Tuan, Anda ingin menyetir sendiri ke rumah lama atau supir yang menyetir?” Pengurus rumahnya mengerjakan tugas dengan teratur, dengan cepat membuat isyarat mempersilahkan.


“Cukup, tidak perlu. Aku dapat memahami jalan pikiran kakekku yang cerdik.” Andrew Wijaya memutar badannya, kembali ke mobilnya.”


Alice berada di dalam mobil, samar-samar mendengar percakapan mereka.


Dia mengerut-ngerutkan alisnya.


Tampaknya seperti sebuah perangkap.


“Tidak perlu khawatir.” Andrew Wijaya melihatnya mengerutkan alis, mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan wanita itu, katanya dengan suara rendah dan serius, “Sudah kukatakan, selain aku, tidak ada yang boleh mengganggumu. Walaupun kakekku sendiri, juga tidak boleh.”


Alice mencibir, menunjukkan ketiak puasannya: “Apa yang disebut ‘selain dirimu’? Kamu ingin menggangguku?”


Andrew Wijaya mengiyakan, “Di atas tempat tidur.” Wajahnya biasa saja saat mengatakannya.


Alice memelototinya, merasa malu.


Andrew Wijaya mengangkat sudut bibirnya, mengangkat tangannya membelai wanita itu: “Yang patuh, kita pergi ke kediaman Wijaya sekali, sebentar saja lalu kita pulang, kalau kamu tidak senang aku mengganggumu, tidak apa, giliran kamu yang mengganggku di kasur.”


“Hilangkan kata ‘di atas kasur’, begitu lebih baik.” Balas Alice.


“Tidak mungkin.” Balasnya tanpa ragu.


……


Kediaman Keluarga Wijaya merupakan sebuah villa di daerah elit.


Tanah yang ditempati sangat luas, taman bunga di pekarangan depannya cukup untuk digunakan untuk bermain sepak bola.


 


 


Alice mengikuti Andrew Wijaya, dia melihat sekeliling dengan penuh minat.


“Suka model seperti ini?” Tanya Andrew Wijaya, “Ada beberapa villa atas namaku, salah satunya modelnya sepertin ini, kalau kamu suka kita pindah kesana.”


“Siapa yang bilang ingin tinggal denganmu?” Alice menyadari banyak jebakan dalam perkataan pria itu.


Jika tidak hati-hati ia akan terjebak masuk ke dalam.


Sungguh pria bermuka dua!


“Apa gunanya tinggal sendirian di apartemen kecil?” Andrew Wijaya bergumam sendiri, dengan enggan berkata, “Kalau kamu tidak sudi, lebih baik aku kesana bergabung denganmu.”


Alice melihat pengurus rumah memimpin jalan di depan, dia mengulurkan tangannya menutup mulut yang tidak terkendali itu.


Pria itu tidak tahu malu, bagaimanapun sebagai perempuan dia tidak ingin kehilangan mukanya.


Andrew Wijaya tertawa, bibirnya bergerak-gerak dalam genggamannya.


Alice segera menarik kembali tangannya, dia khawatir pria itu semakin tidak terkendali lalu bertindak tidak sesuai tempat.


“Penakut.” Bisiknya ke telinga Alice, mengejek.


“Sekali lagi kamu memancing...” Alice berkata merendahkan suaranya, marah, “Percaya tidak aku akan membuatmu menderita malam ini!”


“Coba saja.” Balasnya masa bodoh.


Alice tidak mempedulikannya.


Rumah utama sudah semakin dekat, di dalam rumah sangat sunyi, tanpa suara.


Suasanannya sedikit janggal.


 


 


“Tidak perlu takut.” Andrew Wijaya menggandeng erat tangannya, mereka berdua masuk berdampingan ke dalam.


Di depan sebuah suara ketukan keras terdengar, seorang pria tua berambut putih yang energik berjalan dengan tongkat, dia mengetuk keras lantai marmer: “Masih ingat pulang?”


Andrew Wijaya menjawab tak bergeming: “Kakek, hati-hati tekanan darah tinggi jika marah seperti itu.”


Kakek Wijaya berkata dengan marah: “Kamu masih memepedulikan orang tua sepertiku?”


Sebenarnya hubungan Andrew Wijaya dengan kakeknya tidak buruk, setidaknya lebih baik daripada hubungannya dengan ayahnya yang hilang tanpa perasaa itu.


Waktu itu, Kakeknya sendiri datang dengan bawahannya untuk menjemputnya pulang.


Kebaikan ini selalu diingatnya.


Dia tidak berdebat dengan kakeknya lebih jauh, dia berkata tanpa basa basi: “Kakek bilang ingin bertemu dengan pacarku, aku membawa pulang. Marganya Qu, namanya Alice. Tidak masalah jika ingin makan malam bersama, tetapi di luar itu sebaiknya tidak kakek lakukan.”


Dia langsung membuntukan jalannya sendiri dalam sekali bicara.