ALICE THE MAGIC ANGEL

ALICE THE MAGIC ANGEL
Episode 3



Alice berhasil memasuki Dragonfly. Handy Li, seorang pemuda gagah yang berada disampingnya sungguh sangat menginginkan gadis itu, ia pun menarik paksa gadis itu ke dalam sebuah ruangan.


“Kemarilah, ayo kita bersenang-senang!”


Alice menatap nomor ruangan tersebut, yakni vip888.


Menurut informasi yang diberikan oleh mata-mata Anderson, ruangan ini adalah tempat yang biasa dikunjungi Eric untuk perjamuan makan.


Sembari Alice mengikutinya masuk ke dalam, matanya pun melihat-lihat ke sekitar ruangan tersebut. Tepat seperti dugaannya, ia melihat sosok Eric berada di beranda luar ruangan itu.


Dia sedang berbincang dengan seorang gadis yang terlihat seperti pelayan.


Alice memandang ke arah balkon, ia menjentikkan jarinya dan memanggil pelayan wanita lain. Ia pun bertanya,”Siapa nama gadis yang berada di balkon itu?”


Dengan sangat sopan, pelayan itu pun menjawab,”Namanya adalah Rose.”


“Oh..”Bibir Alice pun membentuk suatu senyum kecil,”Ternyata dia.”


Alice lantas mengambil segelas anggur merah dari nampan yang dipegang oleh pelayan itu. Sambil ia mennyisip minuman tersebut, ia pun menyenderkan dirinya ke tembok sembari mengamat-amati pasangan yang berada di balkon itu.


Gadis yang bernama Rose itu wajahnya lumayan cantik, tubuhnya mungil dan kulitnya putih bersih, terlihat lembut dan lemah gemulai, sungguh tipe wanita yang dapat dengan mudah membuat kaum pria ingin melindunginya.


Menurut info, Rose adalah seorang mahasiswi tahun ketiga, keluarganya sangat miskin. Demi biaya kehidupan sehari-harinya dan biaya pengobatan ibunya, ia terpaksa harus berkuliah sambal bekerja.


Walau baru bekerja selama 3 bulan di Dragonfly, ia sudah akrab dengan Eric.


Rose sangat paham kapan ia harus berpura-pura tak berdaya. Ketika ia dipaksa untuk minum-minum oleh para tamu undangan, maka ia akan langsung bersembunyi di balik Eric, berpura-pura lemah dan tak berdaya.


Sedangkan Eric adalah seseorang yang bersikap layaknya ksatria. Sungguh ironis, ia sudah termakan perangkap gadis itu.


“Nona manis, tidak baik kalau kamu minum anggur sendirian saja disini.”


Handy Li, pemuda gagah yang membawa Alice masuk ke dalam ruangan itu menghampirinya sambal tertawa kecil ,”Kemarilah, ayo temani kami minum-minum.”


“Baiklah.”Alice menyetujuinya dengan girang gembira.


Di dalam ruangan yang sangat luas ini, terdapat suatu ruangan kecil yang merupakan bar minum. Di bar minum itu terdapat sekelompok pria dan wanita yang sedang menikmati minuman mereka, mereka terlihat saling bercengkrama ria.


Alice hanya mengikuti Handy Li masuk ketika pria-pria lainnya mulai menyadari kedatangan seseorang baru. Seketika itu juga para pria itu langsung menunjukkan ketertarikan.


“Hai, Nona yang baru saja kemari, mari kita minum segelas anggur!”Salah seorang pria itu pun mendekatinya dan memberinya segelas penuh anggur.”


“Oke.”Tanpa basa-basi, Alice mengangkat gelasnya dan meminum isinya dalam sekali teguk.


Para pria-pria itu pun tertawa riuh, sambal bertepuk tangan, mereka pun berseru, “Nona ini boleh juga! Mari setiap orang menuangkan segelas untuknya!”


Alih-alih menyetujui maupun menolak, Alice malah mengalihkan pandangan matanya ke arah balkon.


Di Balkon, Eric sudah menyadari kericuhan di sana, ia pun memandang ke arah sana. Secara kebetulan, pandangan matanya dan Alice bertemu.


Bibir Alice pun terangkat membentuk sebuah senyuman, ia pun dengan sengaja mengangkat tinggi gelas anggurnya, dengan sikap seolah-olah hendak meminumnya.


Tujuannya datang ke Dragonfly hari ini sangat sederhana, yakni demi membuat “suami” tercintanya mendapat malu.


Meski Alice hanya meminum dua sampai tiga gelas, namun kesabaran Eric sudah habis, ia pun segera beranjak dari balkon tersebut.


Tanpa sepatah kata terucap, ia hanya mengernyitkan dahi dan mengenggam tangan Alice serta menariknya keluar dari kerumunan pria-pria itu.


“Untuk apa kau datang kemari?”


Ketika kedua orang itu sudah sampai di sebuah pojokkan, Eric bertanya dengan suara kecil.


“Aku hanya ingin datang”,jawab Alice santai.


“Perbuatanmu ini sungguh bodoh.”


Eric melirik kesal,”Siapa yang ingin kau susahkan dengan datang kemari? Meskipun kau membuat keributan disini, kita tetap akan bercerai.”


“Apakah kau menyangka kalau aku datang untuk menangkapmu yang sedang berselingkuh?”


Alice menatap pria itu dengan ekspresi ketidakpercayaan.”Apakah kau pikir aku akan berusaha keras untuk membuat keributan untuk seorang pria yang sudah melenceng sepertimu?


Raut wajah Eric pun seketika berubah.


“Tenang saja. Aku datang hanya untuk bersenang-senang saja.”


Alice bahkan masih memperingatinya,”Tolong bersikaplah seperti kau tidak mengenalku, jangan katakan bahwa aku adalah istrimu, kalau tidak pacar kecilmu itu pasti akan cemburu.”


Rona wajah Eric pun menghitam sebab ia menahan amarahnya.


Namun,Alice bahkan tidak mempedulikan hal tersebut, ia pun berjalan memutarkan tubuhnya dengan elegan dan berjalan melewati pria itu untuk kembali ke kerumunan orang tersebut.


Setelah melewati pintu masuk ruangan kecil itu, langkah kakinya terhenti.


Eh?


Kebetulan sekali.