ALICE THE MAGIC ANGEL

ALICE THE MAGIC ANGEL
Episode 22



“Angkat, aku angkat, kamu jangan gegabah.” Alice mengangkat tinggi tangannya dengan patuh, menunjukkan dirinya tidak mengancam, “Kalau kamu mau uang, aku berikan kunci konter, semua uang tunai ada di dalam.”


“Aku tidak mau uang!” Laki-laki berpakaian hitam itu mengeluarkan seutas tali tambang, segera mengikat kedua tangan wanita itu, “Ikut aku! Jika tidak pisau ini akan menusukmu.”


Laki-laki itu memegang pinggang di belakang pinggang wanita itu, memaksanya berjalan keluar pintu toko.


Di luar, sebuah mobil van tua terparkir.


Laki-laki itu memaksanya naik ke mobil.


Alice bersikap koperatif sepenuhnya, dia naik ke mobil dengan diam.


Laki-laki berpakaian hitam itu melakban mulutnya, lalu mengikat erat kedua kakinya, sehigga dia tidak dapat meminta tolong dan tidak dapat bergerak.


Alice tidak memberontak, membiarkan laki-laki itu menyetir membawanya ke piggiran kota yang semakin lama semakin terpencil.


……


Di saat bersamaan, Andrew Wijaya menerima sebuah panggilan.


“Tuan, Nona Qu diculik.”


Andrew Wijaya yang saat itu sedang makan malam, mendengar berita itu, gelas anggur di tangannya dibanting ke meja, katanya dengan marah: “Sampah! Kan sudah kubilang awasi dia.”


Di ujung telepon, bawahnya mengiyakan: “Ya, saya mengawasinya, tetapi Anda menyuruh jangan sampai mengganggu nona.”


Muncul rasa ingin membunuh di dalam hati Andrew Wijaya, dia tidak sempat lagi meminta pertanggung jawaban bawahannya, lalu bertanya: “Alice diculik siapa, lihat mukanya terlihat? Apa mengemudi? Platnya?”


Bawahannya ini sangat setia, namun sangat terperinci dalam menjalankan tugas, segera menjawab: “Saya memfoto situasi di tempat kejadian dan nomor plat, saya kiriman ke Anda sekarang.”


Andrew Wijaya menyipitkan mata hitamnya yang dingin : “Lapor namaku, perintahkan di Menteri Perhubungan mengecek pengawas jalan, aku ingin penculik itu ditemukan secepatnya.”


“Baik!”


Andrew Wijaya mematikan telepon, dirinya segera bangkit berdiri.


“Tuan...”


Beberapa orang di dalam ruang makan saling berpandangan, “Mengapa dia pergi begitu saja? Hal penting apa sampai raut wajahnya berubah.”


“Didengar dari namanya, sepertinya wanita, Qu apa namanya.”


“Ya Tuhan, ada wanita yang disukainya! Seberapa cantik wanita ini sampai membuat Andrew Wijaya menaruh hati?”


Di dalam ruang makan, diskusi terus bergulir.


Hanya Jennie Putri saja yang tetap duduk di tempat, wajahnya muram, kedua tangannya ditaut erat.


Kak Andrew ternyata tidak mempedulikannya, pergi begitu saja!


Wanita bernama Alice itu tidak secantik dirinya!


Tetapi jika lebih cantik pun tidak masalah. Setelah malam ini, Alice pelacur itu tidak akan dapat berbangga diri lagi!


Jennie Putri bangkit berdiri, berjalan meninggal keluar ruang makan, pergi ke sudut yang kosong, menelpon----


“Halo, kondisimu disana bagaimana?”


“Tenang, orangnya sudah diculik, begitu sampai langsung dieksekusi.” Penculik menyetir mobil, lalu melihat sebentar dari spion sosok Alice yang duduk tenang dekat jendela, lalu terkekeh.”


“Tidak usah menunggu sampai tempat tujuan, cari saja tempat terdekat yang sepi dan gelap, eksekusi disana.”


“Mengapa?”


“Idiot! Sudah ada yang menyadari kamu menculiknya, kamu akan segera terlacak. Cepat cari tempat berhenti, eksekusi dia di mobil, lalu rusak wajahnya!” Jennie Putri takut bawahan Andrew Wijaya mendahului menemukan Alice, perintahnya dengan suara melengking, “Sekarang! Segera!”


“Baik baik baik, kamu yang bayar kamu bosnya, aku akan segera selesaikan.” Penculik itu tidak sepaham, dia telah berpengalaman, mobilnya menggunakan plat palsu, setelah berganti plat siapa yang dapat mengejarnya?”


Tetapi, wanita cantik di mobil itu sungguh cantik dan menarik.


Sebenarnya dia sudah tidak sabar, tidak sabar untuk... he he....