ALICE THE MAGIC ANGEL

ALICE THE MAGIC ANGEL
Episode 47



Alice menuju kamar mandi untuk mandi, tidak disangka dia mendapati-----


Di atas meja rias telah terpajang berbagai macam produk perawatan kulit, juga ada setelan pakaian bergaya victoria yang merupakan produk edisi terbatas dari merk C.


Selain itu, pakaian dalam juga disiapkan dengan lengkap, ukurannya pas, juga ada pembalut berbagai jenis.


Alice menyembunyikan wajahnya....


Dia merasa sedikit malu, tetapi juga senang.


Pria yang dingin itu mulai melembut, sungguh membuat orang tidak dapat menahan diri.


Setelah mencuci muka dan menyikat gigi, dia menguncir tinggi rambut panjangnya, membentuk kunciran ekor kuda, dia tidak mengenakan gaun yang mewah itu, malahan mengenakan kemeja putih Andrew Wijaya yang sedikit kepanjangan, menunjukkan sepasang kaki jenjang yang lurus, putih dan lembut.


Dia mengenakan sendal dan turun ke lantai bawah.


Wanita itu pergi ke dapur terlebih dahulu, dia menyeduh sendiri sereal dengan susu untuk dirinya, lalu mulai memasak makan siang untuk Andrew Wijaya.


Dia tidak berencana memasak makanan yang mewah, dia membuat nasi goreng telur yang sederhana, ditambah semangkuk sup gambas yang dimasak dengan udang kering.


Menu yang sangat rumahan, tetapi dapat diterkanya, pria itu pasti sudah lama tidak makan masakan seperti itu.


“Sudah selesai masak?”


Suara rendahnya yang seksi terdengar mendekat.


Alice menoleh,  terkejut: “Ah, mengapa kamu tidak berpakaian?”


Andrew Wijaya tertawa dengan suara rendah : “Bagaimana aku bisa tidak pakai?”


“Kamu, kamu...." Alice mengangkat tangan menutupi wajahnya, tetapi tetap saja mengintipnya dari sela jari, “Kamu tadi pergi berenang?”


“Ya, tunggu menstruasimu selesai kita berenang bersama.” Pinggang Andrew Wijaya dililiti sehelai handuk putih, otot perutya kencang dan jelas, samar-samar terlihat garis perut bawahnya.”


Dari sela jarinya Alice melihat tetesan air yang mengalir dari dadanya turun ke suatu tempat di handuknya, tanpa disadarinya dia turut memperhatikan tetesan air itu bergerak menurun.


“Kalau ingin lihat, lihatlah dengan leluasa.” Andrew Wijaya menggenggam pergelangan tangan wanita itu, menarik tangannya turun.


“Tidak mau lihat!” Alice memejamkan matanya secepat kilat.


“Sup di dalam panci sudah mendidih.” Andrew Wijaya mengingatkannya.


“Ah?” Alice menoleh.


“Uh.... licik....” tudingnya.


“Tubuhmu harum.” Pria itu menciuminya, bibir tipisnya menjelajah, menggosok pada samping lehernya.


“Yang kugunakan adalah sabun dan sampomu...” belakang pinggangnya bersandar pada meja dapur, terhimpit oleh pria itu, “Cukup, pinggangku pegal...”


Andrew Wijaya mengangkat pinggangnya, telapak tangannya yang besar mengusap-usap pingganggnya, melepasnya sementara, “Tunggu beberapa hari lagi, aku akan ‘membereskanmu’ dengan sungguh-sungguh.”


Alice sedikit malu: “Kamu cepatlah naik dan ganti baju, setelah itu turun dan makan.”


Andrew Wijaya melihat kemeja putih di tubuh wanita itu, menatapnya dari ujung rambut ke ujung kaki, lalu bertanya: “Sudah kusiapkan baju baru, mengapa tidak dipakai? Tidak suka?”


Alice memiringkan kepalanya, berpikir sejenak, lalu menjawab: “Aku suka kemeja putih ala teman pria, karena....”


Mereka berdua saling menatap, lalu tersenyum nakal “Kemeja ini membuat pacarku menjadi nyata.”


 


Yang dimaksudnya adalah kemeja yang dipakainya setelah kehujanan saat di mobil.


Saat itu masih belum menjadi pacarnya.


“Ya, selamat atas suksesnya rayuanmu.” Andrew Wijaya mengejeknya.


“Apaan! Jelas-jelas kamu yang memohon agar aku bercerai...” Alice mencibir, menegaskan, “Jika diperhitungkan dengan benar, kamulah yang mengejarku.”


Bibirnya yang cemberut, berwarna merah muda, mengkilap dan lembap, seperti sedang menggoda diam-diam.


Pandangan Andrew Wijaya meredup, tidak tahan, lalu menunduk menciuminya sekali lagi.


Ciumannya selalu penuh semangat, ditambah kenyataan dia belum dapat melahap wanita itu sepenuhnya semalam, sungguh sulit membendung hasratnya.


“Andrew .... Uh....”


Di bawah ‘perampasan’nya yang begitu dahsyat, kaki Alice melemas jika tidak dipeluknya erat, tidak menutup kemungkinan dia akan jatuh tersungkur.


“Duduk disini.” Andrew Wijaya mengapit pinggangnya, dengan sekali angkat, mendudukkannya di atas meja, segera menunduk lalu kembali menciumnya dengan ganas.