
Kakek Wijaya tidak peduli, lalu mengayunkan tangannya, berkata: “Xixi, kemarilah.”
Seorang gadis muda yang berdiri dengan diam di samping, berjalan mendekat karena dipanggil, dengan lemah lembut menjawab: “Kakek Wijaya, saya disini.”
Kakek Wijaya membawanya ke hadapan Andrew Wijaya: “Andrew , ini adalah anak kedua paman kelurga Li, Li Xixi. Dia baru pulang dari sekolah di Inggris, berpendidikan, lemah lembut, sangat cocok denganmu.”
Andrew Wijaya tidak dapat menahan tawa: “Kakek, bukannya terlalu kuno? Memaksakan seorang gadis padaku, kakek pikir aku akan menurut?”
Kakek Wijaya bersifat diktator sejak muda, saat tua beliau masih keras kepala, langsung memerintahkan: “Aku tidak peduli kamu menurut atau tidak! Pokoknya, jika ingin berpacaran, aku mengenalkanmu pada gadis yang sesuai dan jelas.”
Alice yang mendengarnya ikut tertawa.
Kakek Wijaya memelototinya: “Apa yang kamu tertawakan? Tidak tahu sopan santun?”
Alice berdeham menahan tawa, membalas: “Kakek yang baik, aku tidak enak tidak membawa oleh-oleh pada pertemuan pertama ini, tetapi aku ingin memberikan anda sebuah kalimat.”
“Kata apa?”
“Dinasti Qing sudah tiada.”
Alice mengatakannya dengan serius.
Andrew Wijaya yang mendengarnya tertawa lepas, lalu mengusap kepala wanita itu: “Nakal.”
Wajah Kakek Wijaya memerah karena marah: “Gadis tidak sopan! Lahir dari keluarga miskin, tidak terdidik! Andrew, dengar, aku tidak akan setuju kamu berhubungan dengan gadis yang pernah menikah!”
Andrew Wijaya mengangkat alis : “Tidak setuju, lalu?”
Kakek Wijaya marah : “Jangan pernah berpikir menikahi gadis yang sudah pernah menikah masuk ke dalam keluarga Wijaya ini!”
“Aku ingin menikahinya, belum tentu dia ingin dinikahi.” Andrew Wijaya menatap Alice.
Wanita itu mensyaratkan hubungan mereka, syarat kedua adalah hanya berpacaran, tidak menikah.
Alice mengangguk padanya.
Tidak salah, tidak menikah.
“Trik untuk menipu laki-laki seperti itu, kamu percaya?” Kakek Wijaya semakin tidak menyukai Alice, gadis ini tentu menjebak dengan cara yang sama.”
Keluarga Wijaya, terkemuka dan kaya, banyak gadis yang m elakukan segala cara agar dinikahi keluarga Wijaya.
Dia tidak ingin dinikahi?
Hanya setan yang percaya!
“Alice, kita pergi.” Andrew Wijaya menggandeng Alice, dengan enteng berbalik dan berjalan pergi.”
“Kamu panggil aku apa?” tanyanya dengan suara pelan.
“Alice.” Dia memberitahu dengan suara pelan, “Jangan harap menyuruhku memanggil dengan sebutan yang lebih menggelikan.”
“Hihi, aku tidak buru-buru, kemajuannya bertahap, cepat atau lambat kamu akan memanggilku begitu.” Alice tersenyum dengan lesung pipi yang dalam.
Kedua orang itu berjalan keluar sambil berbincang, sepenuhnya tidak terpengaruh kemarahan kakek.
Kakek Wijaya yang sangat murka, melempar tongkat di tangannya, lalu berteriak marah : “Cucu tidak berbakti, berhenti!”
Beliau masih tidak sampai berbuat kasar pada seorang gadis, tongkat itu dilemparnya ke punggung Andrew Wijaya.
Andrew Wijaya yang sedang berbincang dengan Alice, merasakan suara tiupan angin yang bergerak ke arahnya dari belakang, dia hendak berbalik menghadapinya, namun Alice bergerak lebih cepat.
“Andrew, hati-hati!” Tanpa berpikir panjang, dia dengan tidak sabar melindunginya, mendorongnya ke samping supaya terhindar dari serangan.
Saat mendorong Andrew Wijaya, kakinya tidak seimbang sehingga dirinya terhuyung dua langkah ke depan. Tongkat itu menghantam kepalanya!
Sebenarnya Kakek Wijaya tidak terlalu keras melempar, hanya saja tongkat itu terbuat dari emas kuning dengan ukiran naga terbang, sehingga saat mengenai kepalanya bunyinya berdentang keras, membuat kaget orang-orang.
Pandangan Alice menjadi gelap, memaksakan diri melihat keadaan Andrew Wijaya: “Andrew , kamu, kamu baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja!” Andrew Wijaya segera membantunya.
“Baguslah kalau begitu....” Wajah wanita itu pucat, bulu matanya bergetar, matanya terpejam dan dia pingsan.