ALICE THE MAGIC ANGEL

ALICE THE MAGIC ANGEL
Episode 23



Kedua tangan dan kaki terikat, dia duduk di kursi barisan belakang, mendengar penculiknya menelepon, dia meminta asisten sistemnya, Shania untuk memeriksa.


“Tuan, yang dihubungi penculik adalah Jennie Putri.”


“Sesuai dugaan.”


Alice mengatakan pada Shania dalam hatinya, “Kamu retaslah telepon genggam penculik itu, gunakan nomornya untuk mengirim lokasi saat ini. Kemudian kirimkan pesan, katakan ada perubahan dan suruh dia untuk menyusul sesuai lokasi.”


Setelah berpikir sejenak Alice menambahkan, “Setelah mengirim pesan blokir nomor Jennie Putri, supaya dia tidak dapat mengkonfirmasi pada penculik itu.”


“Baik.”


Selesai Alice mengatur rencana, dia dengan malasnya bersandar pada jendela mobil, melihat pemandangan di luar.


Drama malam ini, tanpa “pemeran wanita” Jennie Putri di tempat kejadian, bagaimana bisa?


Jennie Putri harus sampai di tempat kejadian, barulah drama yang bagus dapat dipentaskan.


Van itu semakin melaju ke tempat terpencil, sampailah di sebuah bengkel tua, mobil berhenti.


Steven si penculik tersenyum kasar : “Turunlah gadis cantik, kita selesaikan disini.”


Alice yang terikat tidak dapat berjalan.


Penculik itu menggedongnya turun, memasuki bengkel tua itu, lalu meletakkannya di atas sebuah meja.


“Gadis cantik, aku datang!”


Penculik itu tidak sabaran, dia segera mengulurkan tangan hendak merobek pakaian wanita itu.


“Uh uh! Uh uh uh!” Mulutnya yang terlakban tidak dapat berbicara, dia tidak memberontak, hanya berusaha keras untuk bersuara, menunjukkan niatnya untuk berbicara.


 


“Ingin bilang apa gadis cantik?”


Penculik itu menatap wajah putihnya yang mungil dan cantik, menyipitkan matanya dan terkekeh, dengan arogan berkata: “Berteriak sampai tenggorokanmu pecah pun tidak akan ada yang datang menolong. Tempat ini sedari awal sudah tidak digunakan.”


Dengan penuh percaya diri dia merobek lakban di mulutnya, “Teriaklah sekeras yang kamu inginkan, buat aku semakin tertarik.”


Alice akhirnya dapat berbicara.


Wanita itu tidak panik, dia berkata dengan tenang: “Yang menghasutmu untuk menculik itu bermarga Mu kan? Namanya Jennie Putri?”


Penculik itu mencibir: “Ingin menyuruhku buka mulut? Tidak perlu buang-buang tenaga!”


“Tidak mungkin!”


Penculiknya tidak percaya, ditengah keraguannya, dia mengeluarkan telepon genggamnya dan mengecek.


Setelah di cek, ternyata ada pesan yang terkirim, tetapi bukan dirinya yang mengirim.


“Mengapa bisa begini?!” Penculik itu marah, “Wanita Mu itu tidak percaya padaku!”


“Bukan tidak percaya, hanya saja dia ingin membunuh dua burung dengan satu batu. Setelah ini dia akan memanggil polisi untuk menangkapmu. Bahkan sekalian menghemat uang bayaranmu, sempurna sekali bukan.”


Alice sesungguhnya sedang mengulur waktu, sekalian memicu perselisihan.


Penculik itu marah mendengar perkataannya, dengan kesal dia merobek kerah pakaian wanita itu: “Biar aku bersenang-senang dulu, lalu baru membuat perhitungan dengan wanita marga Mu itu!”


 


 


Alice memperkirakan waktunya tidak lama akan habis, dia bertanya pada Shania : “Jennie Putri sudah akan sampai belum?”


Shania: “Sudah sampai di gerbang bengkel.”


Alice tertawa pelan: “Bagus sekali, pementasan dimulai!”


Penculik itu melihat wanita itu masih dapat tertawa, terkejut dan tidak dapat menahan dirinya, dia mengulurkan tangan dan mengusap pipinya yang mungil: “Nona cantik, sangat beretika. Jangan bergerak sembarangan dan memberontak, aku berusaha untuk tidak menyakitimu.”


Alice enggan untuk meladeninya, dia melirik dan melihat seorang wanita memasuki pintu bengkel dengan terburu-buru.


Jennie Putri menutup wajahnya dengan syal, dirinya mengendap-ngendap dan menoleh sekeliling, memastikan tidak ada yang janggal, lalu berkata: “Steven, kamu sedang apa? Ada apa memanggilku?”


Steven, penculik itu, tercengang: “Persetan! Kamu yang sedang apa disini?”


Dua orang itu saling bertatapan, hati mereka bergejolak.


Situasinya tidak beres.


“Aku yang memanggilmu kesini, Nona Mu.”


Alice bangkit untuk duduk di meja, tertawa ramah, “Kamu bukannya sangat ‘perhatian’ padaku? Tiap hari menyuruh orang mengikutiku. Kalau demikian, aku juga harus memperhatikanmu, baru bisa membalas budi.”


Raut wajah Jennie Putri berubah: “Kamu, kamu----“