ALICE THE MAGIC ANGEL

ALICE THE MAGIC ANGEL
Episode 24



Walaupun tangan dan kakinya terikat, sikap Alice sangat santai, dia berkata dengan tidak terburu-buru: “Sekarang dalam hatimu kamu pasti ingin membunuhku untuk tutup mulut kan? Tidak usah buru-buru, biar aku bertanya satu hal padamu.”


“Kamu ingin tanya apa?” Sudah terlanjur begini, Jennie Putri malah menjadi lebih tenang.


Betul perkataan pelacur ini, harus dibungkam.


Niat awal Jennie Putri hanya mencari orang untuk memperkosanya, lalu merusak wajahnya, dia tidak berniat membunuh.


Tetapi sekarang wanita ini cari mati!


Dirinya tidak dapat disalahkan!


“Kudengar, di masa muda Andrew Wijaya, dia tinggal di permukiman kumuh, kekurangan sandang dan pangan. Dan kamu, nona dari keluarga kaya, tidak sengaja melewati perumahan kumuh, membantunya dan mentraktirnya makan?”


Ini adalah informasi yang didapat Alice saat sedang menegcek data Jennie Putri.


Karena kebaikannya ini, beberapa tahun ini Andrew Wijaya memperlakukan Jennie Putri dengan baik.


Walaupun tidak dapat disebut ramah, namun menimbang sifatnya yang dingin, perlakuannya sudah termasuk sangat baik.


Apapun tas dan pakaian yang Jennie Putri ingingkan, cukup dengan mengatakannya, Andrew Wijaya akan menyuruh orang untuk mengantarkan padanya.


Bahkan saat Kelurga Mu hendak menjodohkan mereka, Andrew Wijaya tidak menunjukkan penolakan, sehingga di luar sana beredar kabar bahwa Jennie Putri adalah calon istrinya.


Jennie Putri memanfaatkan kesempatan itu dan bergabung dengan para sosialita.


“Jika iya memangnya kenapa, apa urusannya denganmu!” Jennie Putri menatapnya dengan garang.


Wanita di sisi Kak Andrew Wijaya sejak awal hanya ada dirinya seorang, wanita lain tidak dapat mendekatinya.


 


 


 


Tetapi setelah pelacur Alice ini muncul, Kak Andrew Wijaya berubah!


“Aku hanya penasaran, mengapa begitu kebetulan? Untuk apa kamu pergi ke permukiman kumuh? Bagaimana pula kamu mengetahui Andrew Wijaya melawan seseorang dan telah kelaparan berhari-hari ?” Alice tersenyum menatapnya, “Atau mungkin, sejak awal kamu merencanakan semuanya, sembari menunggu pertunjukan wanita cantik menyelamatkan pahlawan yang jatuh?”


“Kamu nyaris mati dan masih saja memikirkan hal-hal tidak penting.” Jennie Putri tertawa dingin, “Kalaupun aku mengaku, waktu itu aku mengatur semuanya, kamu bisa apa? Hari ini, jangan harap kamu bisa keluar dari sini!”


“Rupanya kamu memang sengaja merencanakannya?”


“Ya, tidak salah.” Jennie Putri tidak membantah, dia tidak perlu berbohong pada orang yang akan mati.


“Pertanyaanmu sungguh bodoh, aku sejak awal sudah mengetahui Keluarga Bo sedang mencari anak mereka yang terlupakan.”


Jennie Putri tidak memiliki kesabaran untuk meladeni omong kosongnya.


Walaupun dirinya telah menggunakan alat pengalih sinyal untuk menghindari Kak Andrew Wijaya, namun tidak menutup kemungkinan lain.


Dia harus segera membereskan pelacur ini.


Jennie Putri melambai, menginstruksikan Steven yang ada di sampingnya, “Lakukan, bunuh dia, aku bayar lima kali lipat, dua puluh dua miliar!”


Mendengar nominal itu, mata Steven berbinar.


“Baik baik baik, aku lakukan sekarang.” Dia mengangkat pisau panjang, menghampiri Alice, “Gadis cantik, jangan salahkan aku, kalau ingin menyalahkan, salahkan nasibmu yang buruk.”


“Begitukah?” Alice tidak takut dan tenang.


“Matilah!” Steven mengangkat pisaunya, mengarah ke dada wanita itu.


Alice memejamkan matanya.


Dalam dunia Anderson dia tidak dapat mati.


Jangan sampai nanti mereka kaget dan terkencing-kencing.


Alice telah bersiap menerima tusukan pisau itu, apa yang diharapkannya terjadi!


Cahaya terang dan percikan, suara ledakan!


Suara senapan!


Peluru mengenai lengan Steven si penculik, pisaunya jatuh ke lantai dengan suara berdentang, mengakibatkan debu-debu berterbangan.


“Siapa, siapa....” Steven menoleh dengan gemetar, di pintu masuk sekelompok pria berpakaian hitam berdiri.


Pria yang memimpin di depan mengenakan celana setelan jas sederhana dan kemeja putih, tinggi, besar dan tegap, sungguh luar biasa.


Wajah tampan pria itu sedingin es, matanya yang hitam menyipit, mengeluarkan sorot yang tajam.


“Tangkap dia” Bibirnya yang tipis mengeluarkan dua patah kata.


Pria berpakaian hitam di belakangnya mendengar perintah, mereka maju dan tampak terlatih, tidak sampai sepuluh detik penculik itu berhasil dibekuk.


Jennie Putri yang ada di samping sedari tadi mematung.