ALICE THE MAGIC ANGEL

ALICE THE MAGIC ANGEL
Episode 37



“Tampan sekali…”


“Apakah ia seorang aktor? Sepertinya aku tidak pernah melihatnya di TV.”


“Mengapa aku merasa ia bahkan lebih tampan dari seorang aktor? Itu Bugatti Veyron, aku hanya pernah melihat gambarnya saja!”


“Sepertinya ia sedang menunggu seseorang, jangan-jangan ia sedang menunggu pacarnya. Wah, aku iri sekali…”


“Aku ingin jadi pacarnya!”


Semua wanita yang lewat itu menjadi terpuKamu.


Alice tak dapat menahan senyumnya setelah mendengar pendapat-pendapat tersebut.


Dengan langkah perlahan ia berjalan mendekat ke mobil tersebut, sambil menyenderkan dirinya pada jendela mobil yang terbuka itu, ia mengulurkan tangannya yang kecil dan putih itu dan menyentuh ringan dagu pria itu, dengan nada genit ia berkata,”Apakah tuan ini sudah ada janji?”


Pria itu menggenggam tangannya yang nakal itu, dengan suaranya yang rendah ia berkata,”Naiklah.”


“Apakah Kamu tidak mau turun dan membukakanku pintu?”, Alice pura-pura bertanya,”Bukankah Kamu bilang akan memanjakanku?”


Andrew Wijaya pun tertawa,”Tunggulah.”


Ia pun turun dari kursi kemudinya. Bahu lebar, pinggang ramping dan kakinya yang amat panjang dibalut dengan setelan kasual-formal, namun pakaian itu tetap tidak bisa menyembunyikan sosoknya yang tinggi, gagah dan tegap.


Dari jauh, Alice mendengar seruan para Kaum wanita yang sudah terpukau dan terpana, mereka terlihat seperti akan pingsan.


“Sepertinya Kamu punya banyak fans”,  ia merujuk pada para wanita-wanita itu dan menjadi cemberut.


Tetapi, Andrew Wijaya bahkan enggan untuk menolehkan kepalanya, ia tidak melirik sama sekali. Ia berjalan ke sisi sebelah mobil dan membukakan pintu untuk wanita itu, dengan lembut ia berkata,”Silakan naik ke mobil, pacarku yang pertama.”


Alice tersenyum puas.


Pacar pertama.


Mendengarnya saja sudah membuatnya bahagia.


Setelah ia duduk, ia bertanya,”Kita mau pergi kemana?”


Lengan Andrew Wijaya yang ramping itu memegang setir mobil dan menyalakan mesin mobil, ia menjawab,”Aku ingin mengajakmu makan siang, sekaligus bertemu temanku.


“Oh, apa Kamu akan memperkenalkanku?”Alice telihat sedikit terkejut.


Mereka baru saja berpacaran, apakah ia akan langsung membawanya bertemu teman-temannya?


“Atau Kamu ingin dibuatkan rumah mewah?”, Andrew Wijaya menoleh dan meliriknya.” Boleh saja. Aku akan memberimu sebuah Villa dan mengurungmu disana, setiap malam kita akan bersenang-senang. Bagaimana menurutmu?”


“Baik sekali niatmu, Kak Andrew .” Alice malah tersenyum-senyum sambil membalas,” Baru sehari semenjak kita berpacaran, namun Kamu sudah ingin memberiku sebuah villa. Kalau begitu, kita tidak jadi makan siang saja. Ayo kita buat surat peralihan properti dulu.


“Cuma villa saja. Karena Kamu sudah membuat Tuan Muda ini begitu senang, maka apapun akan diberikan padamu.”


“Jika Kamu mengucapkan ucapan ini di zaman dulu... … Kamu akan terdengar seperti pejabat bodoh dan tamak.”


Ketika kedua orang itu  asyik bercanda-tawa, tak terasa mereka pun sampai di tempat tujuan.


Tempatnya adalah sebuah restoran keluarga elit.


Restoran ini berlokasi di pusat kota, merupakan tempat yang tenang di tengah hiruk-pikuk perkotaan. Bangunan ini terdiri dari 3 lantai dan desain bangunannya seperti model bangunan barat, elegan, indah dan tenang.


Andrew Wijaya memegang tangan Alice dan berjalan memasuki ruangan yang sudah direservasi.


Pada saat melihat kedua orang yang masuk sambil berpegangan tangan itu, orang-orang yang duduk di meja menjadi tertegun.


“Wah! Kak Andrew , Kamu hebat juga, ya!”


Stanley, teman akrab Andrew Wijaya, adalah yang pertama berdiri dan bersiul menggodanya.


Ia pun maju menghampiri mereka dan memperkenalkan dirinya pada Alice,”Nona, apa Kamu masih mengingatku? Kita sudah pernah bertemu di rumah sakit pada saat Kamu terluka waktu itu.


Alice menganggukan kepalanya, dengan sopan menyapa,”Halo.”


Andrew Wijaya malah menarik wanita itu ke belakangnya, ”Jangan hiraukan dia, dia hanya tuan muda yang genit.”


“Kak Andrew! Kamu menyakiti hatiku!”, kata Stanley menaruh tangan di dadanya, seolah-olah sedang patah hati, ”Saat Kamu bertemu teman baru, Kamu malah melupakan teman lamamu, apakah Kamu sudah lupa kita dulu pernah saling mencintai?”


Andrew Wijaya berpura-pura marah dengan berkata,”Pergi sana.”


Sambil bercanda, ia sambil menuju kursi duduknya.


Andrew Wijaya mempersilakan Alice duduk. Tanpa basa-basi, ia langsung memperkenalkannya pada semua yang hadir di sana, ”Dia adalah pacarku, Alice.”