Agatha FA

Agatha FA
6



Suasana kantin mendadak hening melihat kejadian itu.


"Jangan sentuh Agatha dengan tangan kotor lo itu." Ucap Gani dingin. Dia tidak bisa menahan emosinya saat melihat Clara ingin menampar adik tersayangnya.


"K-kok lo belain dia sih?" Tanya Clara sedikit takut.


"Karena gue udah muak ngeliat lo bully orang dengan alasan gak jelas." Jawab Gani.


"Terserah gue lah, lagian gue punya alasan kenapa gue ngebully cewek udik ini. Dia itu udah berani deket deket sama cowok gue." Balas Clara dengan PD nya ngaku ngaku kalau Dafa adalah cowoknya.


"Siapa cowok lo? Emang ada yang mau sama cewek kaya lo." Tanya Vino sarkastis.


"Dafa. Ada lah secara gue kan cantik gak kaya si cupu." Jawab Clara sambil menunjuk Agatha.


"Jijik." Ucap Dafa.


"Hahaha ****** lo, Dafa aja gak mau sama lo, pake ngayal segala jadi pacarnya Dafa." Ucap Rafi.


"Issh, awas lo cupu gue bales." Ucap Clara kesal dan berlalu pergi dengan menahan malu.


"Udah lah mending kita balik ke kelas." Ucap Laure.


"Emangnya udah bel masuk kok gue gak denger sih." Tanya Rafi dengan watados nya.


"Udah dari 5 menit yang lalu lo nya aja yang tuli." Jawab Cecilia.


"Yee santai dong Mkb gak usah ngegas." Balas Rafi.


"Siapa?"


"Lo lah."


"Yang tanya."


Mereka semua tertawa melihat wajah Rafi yang terlihat kesal, sedangkan Dafa dan Agatha hanya tersenyum tipis melihat tingkah para sahabat mereka.


"Ketawain aja terus dedek udah biasa kok diginiin." Ucap Rafi dramatis.


"Hahaha udah udah yok masuk kelas dari pada dihukum." Ajak Vino yang diangguki mereka semua.


******


"Husst, woi tha, bolos yuk bosen nih gue." Ucap Lavena pelan karena mereka sedang proses pembelajaran.


"Iya nih tha gue juga bosen." Sahut Vanya.


"Gak." Balas Agatha.


Setelah Agatha bilang begitu mereka terdiam dan tidak melanjutkan percakapan mereka lagi karena jika Agatha sudah berkata tidak maka tidak ada yang bisa membatahnya baik itu keluarganya sekalipun.


Mereka pun kembali memperhatikan guru yang sedang mengajar sambil menunggu bel istirahat kedua.


Tett tett tett


Akhirnya bel yang ditunggu tunggu pun berbunyi membuat semua murid gembira bahkan ada yang sampai sujud syukur. Hehe gak deng bercanda😉😉


"Huh akhirnya istirahat, bosen bat gue tadi." Ucap Lavena lega.


"Sama." Ucap Vanya, Lauren dan Cecilia bersamaan.


"Kantin kuy." Ajak Cecilia bersemangat.


"Kuy." Balas mereka kecuali Agatha yang sedari tadi hanya diam saja dengan tatapan kosong.


Sahabat sahabat nya yang menyadari itu pun merasa ada yang aneh dengan Agatha yang hanya diam.


"Tha, lo kenapa?" Tanya Lauren lembut namun Agatha tidak menjawabnya, dia tetap pada posisi awal.


"Tha."


"Agatha."


"Agatha."


"AGATHA." Teriak Cecilia kesal karena sedari tadi Agatha tidak menyahut bahkan dia berteriak pun Agatha masih tidak menoleh.


Hanya ada satu cara- gumam Vanya dalam hati.


"Elin" Kini giliran Vanya yang memanggil.


"Jangan panggil gue Elin, cuma dia yang boleh manggil gue dengan nama itu." Ucap Agatha dingin lalu beranjak pergi meninggalkan sahabat sahabat nya yang menatapnya dengan tatapan sendu.


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤


Agatha POV


Sekarang gue ada di rooftop buat nenangin diri. Ntah kenapa hari ini gue keinget dia terus. Dia adalah cinta pertama gue walaupun waktu itu umur gue bisa dibilang masih terlalu dini untuk mengenal cinta. Dia juga adalah sahabat cowok pertama yang menyayangin gue selain Daddy dan abang abang gue.


Lio


Axelio Fernando Arxie, cinta pertama sekaligus sahabat cowok gue. Dia bahkan menyayangi gue lebih dari abang abang gue menyayangi gue. Dia juga bahkan lebih possesiv daripada Bang Gani jika sudah menyangkut gue. Pokoknya bagi dia gue yang paling berharga.


Saat gue lagi asik asiknya mengingat kenangan gue sama Lio, gue merasa ada orang yang duduk di samping gue, tapi gue biasa aja karena gue mikirnya itu sahabat sahabat laknat gue.


"Ekhm, gue dikacangin nih ceritanya." Ucap orang yang duduk di samping gue dengan suara bass nya.


Tunggu tunggu.....


Suara bass? Itu kan suara cowok, masa iya sahabat sahabat gue berubah jadi cowok mendadak.


Saat gue menoleh ke samping, gue terjedut eh terkejut maksudnya. Ternyata yang duduk di samping gue itu.....


Rafi


Tapi bohong wkwk


Yang duduk di samping gue itu....


Dafa.


"Gak usah gitu juga kali ngeliatin gue nya, gue tau kok gue ganteng." Ucap Dafa dengan PD nya.


Gue yang menyadari itu pun langsung mengubah wajah gue jadi datar lagi.


"Lo ngapain disini?" Tanya gue sedikit penasaran. Ingat ya SE-DI-KIT.


"Suka suka gue lah, gak boleh?" Jawab plus tanya Dafa santai.


"Hmm."


Gue cuma bales pertanyaan itu dengan deheman, karena jujur aja ya gue lagi males banget buat ngomong hari ini, lagi bad mood.


"Lo sendiri ngapain disini? Bel masukkan udah bunyi dari tadi, lo bolos? Tapi lo kan nerd masa iya lo bolos?" Tanya Dafa bertubi tubi membuat gue memutar bola mata dengan malas.


"Terserah gue." Jawab gue singkat plus dingin.


"Ck, gue udah ngomong banyak sedangkan lo cuma bales singkat." Ucap Dafa kesal.


Gue cuma ngangkat bahu gue acuh, lagian gue heran kok dia jadi cerewet, padahal kan dia di kenal sebagai Ice Prince nya AFIHS. Tapi ya udahlah gak penting juga buat gue.


Setelah percakapan singkat itu kami diam dengan pikiran masing masing. Gue yang masih mikirin Lio dan dia yang lagi mikirin topik pembicaraan. Gimana gue bisa tau? Gue harap kalian gak lupa kalo gue bisa baca pikiran orang.


Gak terasa gue udah ada di rooftop sampe jam pulang. Gue ngeliat kalo Dafa masih diam disana tanpa ada niat buat bangkit.


"Lo gak balik?" Tanya gue yang membuat dia menoleh dengan mengangkat satu alisnya.


"Emang udah bel pulang?" Lah malah balik nanya.


"Udah lah, kalo belum ngapain gue ngajak lo balik." Jawab gue kesal kemudian berlalu meninggalkan dia sendirian menuju parkiran khusus pemilik sekolah.


Sampai di parkiran gue langsung menaiki mobil gue dan melajukannya dengan kecepatan di atas rata rata.


•


•


•


•


•


•


Bersambung......