
Dafa POV
"Abang gue ka-Eh." Ucap seorang gadis yang tiba tiba muncul dari arah pintu kamar.
Kami semua yang ada di dalam pun menoleh ke arah pintu kamar.
Cantik, eh apaan sih gue kan sukanya sama Agatha- Batin gue.
"Lo siapa?" Tanya Rafi bingung.
"Gue-" Ucap cewek itu dipotong oleh Vano.
"Dia adek gue."
"Sekaligus kembaran gue." Lanjut Gani.
Gue dan Rafi terkejut, karena setahu kami keluarga Alexander hanya memiliki 3 anak dan itu pun laki laki semua.
"Emm ya udah deh bang gue ke kamar dulu." Ucap cewek itu kemudian keluar dari kamar Gani.
"Heh, lo kok pada gak pernah bilang punya adek cewek secantik itu?" Tanya Rafi.
"Lo nya gak nanya." Jawab Vino santai.
"Iya juga ya. Btw nama adek lo siapa?" Tanya Rafi lagi. Sebenernya gue juga penasaran sih.
"Tanya aja sama orangnya." Kini giliran Gani yang menjawab.
"Hufth, parah amat lo pada, ya kan Daf?"
"Hmm."
"Ck, ini lagi manusia satu, dingin amat jadi cowok. Nanti kalo gak ada yang mau sama lo, gue yang ketawa paling kenceng." Ucap Rafi kesal.
"Bacot." Balas gue cuek.
Kami kembali sibuk dengan kegiatan masing masing.
"Guys, gue laper nih." Ucap Rafi.
"Laper tinggal makan aja kok susah sih Raf." Balas Vino.
"Kalo udah ada makanannya juga bakal gue makan. Nah ini makanannya aja kagak ada." Kesal Rafi.
Tok tok tok
"Masuk."
Masuk lah seorang wanita paruh baya.
"Maaf den ganggu. Tadi Bibi disuruh non Agatha buat manggil den Vano sama yang lain buat makan." Jelas wanita itu yang gue ketahui namanya Bi Ningsih, salah satu ART di mansion Alexander. Kenapa gue tau? Karena gue udah sering dateng kemari.
"Iya Bi, nanti kita turun." Balas Vano.
Bi Ningsih pun keluar dari kamar.
"Kuy lah turun, keburu laper nih gue." Ucap Rafi yang diangguki kami semua.
Kami pun keluar dari kamar dan pergi ke ruang makan.
Dafa POV and
**Agatha POV**
"Wihh, banyak makanan nih, mana keliatannya enak lagi. Jadi tambah laper gue." Ucap Rafi saat sampai di meja makan.
"Udah makan aja, gak usah banyak bacot." Ucap Gani.
Mereka memakan makanan mereka masing masing. Dalam waktu yang bisa dibilang cepat mereka sudah menghabiskan makanannya.
"Sumpah, ini makanan enak banget. Berasa makan di restoran gue." Puji Rafi.
"Iya, gak biasanya Bi Ningsih masak seenak ini." Sambung Vino.
"Mari den biar Bibi beresin dulu piring kotornya." Ucap Bi Ningsih yang baru datang dari dapur.
"Bi, ini yang masak makanannya siapa?" Tanya Vano.
"Gue yang masak makanannya." Bukan Bi Ningsih yang menjawab, melainkan Agatha yang tiba tiba muncul seperti setan.
*Enak aja lo thor, cantik cantik gini dibilang setan. Burem mata lo ya*\- Agatha.
*Iya in ajalah biar cepet*\- Author.
*Serah*\- Agatha.
*Gitu aja ngambek*\- Author.
*Back to topic*
Vano, Vino, dan Gani terkejut dengan apa yang dikatakan Agatha. Pasalnya Agatha paling males kalo disuruh masak.
"Serius kamu *Princess*?" Tanya Vano memastikan.
"Hmm." Balas Agatha.
*Enak*\- Batin Dafa.
"Tumben lo baik masakin kita." Ucap Gani dengan nada sedikit mengejek.
"Serah gue lah." Balas Agatha cuek.
"Emm, kalo boleh tau nama lo siapa?" Tanya Rafi yang memang sedari tadi penasaran.
"Gue?" Tanya Agatha dingin dengan wajah datar yang sudah menjadi ciri khasnya.
"Ya iyalah, siapa lagi coba yang belum gue kenal selain lo." Ucap Rafi kesal.
"Oh."
"Gan, gue boleh bunuh kembaran lo gak?" Tanya Rafi yang semakin dibuat kesal dengan respon dari Agatha.
Sedangkan Vano, Vini dan Gani sudah terkekeh melihat wajah kesal Rafi yang disebabkan oleh Agatha.
"Boleh aja gue ikhlas kok." Jawab Gani mencoba untuk membuat Agatha kesal. Namun bukannya kesal, Agatha malah menatap tajam Gani membuat sang empu berhenti terkekeh.
"Ck, lo belum jawab pertanyaan gue." Ucap Rafi.
"Yang mana?" Tanya Agatha sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Nama lo."
"Agatha Felinxia Alexander, Agatha."
*Kok namanya sama kaya Agatha, tapi nama Agatha gak pake marga*\- Batin Dafa sedikit curiga.
"Oh, kenalin nama gue\-" Ucap Rafi terpotong oleh Agatha.
"Udah tau."
"Segitu terkenalnya gue?" Sombong Rafi. Agatha dan yang lainnya tak menghiraukan perkataan Rafi.
"Ekhm."
Semua menoleh ke sumber suara, yaitu Dafa.
"Masakan lo enak." Puji Dafa pada Agatha tanpa ekspresi sedikit pun, datar.
*Ya ampun, gue kenapa jadi muji dia*\- Batin Dafa lagi.
"Thanks." Balas Agatha tak kalah datar.
"Woww, seorang Dafa muji cewek, *Amezing*." Ucap Rafi lebay sama sekali tak dihiraukan oleh Dafa.
"Lebay lo." Ucap Vino.
"*Princess*, kamu udah makan?" Tanya Gani.
"Udah." Jawab Agatha singkat, padat dan jelas.
"Guys, gue balik duluan ya, udah sore." Pamit Rafi.
"Gue juga."
"Ya udah, hati hati ya bro." Balas Vano diangguki oleh Dafa dan Rafi.
Baru beberapa langkah, Dafa membalikkan badannya.
"Agatha." Panggil Dafa.
Agatha hanya menaikkan sebelah alisnya seolah berkata '*apa*?'
"Boleh bagi nomor *handphone* lo gak?" Tanya Dafa yang disambut heboh oleh Rafi yang juga masuh ada disana.
*Fiks otak gue udah gak bener*\- Batin Dafa lagi lagi dan lagi.
"Anjerr, gercep banget mas nya."
"Gas terus Daf."
Dafa menatap tajam Rafi. Bukannya takut dia malah cengengesan gak jelas.
"Sini hp lo." Suruh Agatha. Dafa pun segera memberikan hp nya kepada Agatha dengan senang hati. Kemudian Agatha mengetikkan nomor nya di hp Dafa.
"Nih." Ucap Agatha sambil mengembalikkan hp Dafa.
"Thanks."
Agatha hanya menganggukkan kepalanya.
"Ya udah gue balik dulu." Pamit Dafa dengan tatapan yang masih pada wajah Agatha.
"Hmm."
"Agatha aja nih yang di pamitin?" Goda Vino.
"Gue balik." Pamit Dafa kepada 2V dan Gani, namun kali ini dengan nada dingin, tidak seperti saat pamit kepada Agatha tadi nadanya biasa saja, tidak terkesan dingin.
"Udah buruan ayok balik. Keburu dimarahij emak gue nanti." Ucap Rafi.
Dafa dan Rafi pun memasuki mobil *sport* mereka masing masing dan melajukkannya meninggalkan mansion Alexander.
•
•
•
•
*Bersambung*.......