A Blinder

A Blinder
Akhir dari Cinta



Pagi yang kelabu. Sejak dini hari hujan turun dengan lebat. Beruntung pukul tujuh saat Areun berangkat kerja hujan pun reda meski tidak dengan mendungnya. Bekas hujan membuat jalanan menjadi basah oleh air.


Dengan hati-hati Areun keluar dari dalam bis agar tidak tergelincir licinnya tangga bis.


"Maaf permisi aku terburu-buru!" Seru seseorang berjalan cepat dan tanpa sengaja menyenggol Areun hingga terjatuh.


"Akh!" Teriak Areun jatuh terduduk di trotoar.


"Areun!" Seru Jaemin keluar dari bis dengan khawatir menghampiri Areun.


Para penumpang yang berada di halte memperhatikan mereka tidak kalah khawatir.


"Areun, kamu tidak apa-apa?" Tanya Jaemin memegang lengan atas Areun. Wajahnya nampak begitu cemas.


"Perutku...sakit!" Rintih Areun memegangi perutnya.


"Darah! Areun kamu berdarah!" Seru Jaemin panik melihat darah mengalir dikaki Areun dari dalam roknya.


"Bayiku...Jaemin...bayiku...!" Areun pun mulai panik ditengah rasa sakitnya.


Jaemin membopong Areun. Menggendongnya ala bridal style. Seseorang disana memanggilkan taksi untuk mereka.


"Terimakasih." Kata Jaemin kepada orang itu yang juga membukakan pintu taksi untuk mereka.


Pintu taksi tertutup dan taksi melaju ke rumah sakit terdekat.


"Sakit!" Keluh Areun sudah keluar keringat dingin.


"Bersabarlah sebentar lagi kita sampai rumah sakit." Jawab Jaemin merangkul Areun.


Sesampainya di rumah sakit Areun segera dibawa menggunakan brankar dorong menuju IGD. Dalam perjalanannya Areun menggenggam erat tangan Jaemin yang berlari disisi tempat tidurnya.


"Anak kita Jaemin." Tangis Areun sesaat sebelum memasuki ruang UGD.


"Anda tunggu diluar." Pinta suster menahan Jaemin.


Di tengah rasa khawatirnya wajah Jaemin berubah berseri mendengar apa yang Areun katakan.


"Jadi benar, itu anakku." Batin Jaemin bahagia.


Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, tindakan dan pengobatan. Dokter keluar dari ruang IGD.


Di sana sudah ada Kasi, Rio dan juga Jay.


"Apa anda wali pasien?" Tanya Dokter pria berkacamata itu masih menggunakan baju operasi lengkap.


"Bukan," Sergah Kasi.


"Saya suaminya." Sela Jaemin buru-buru.


"Baiklah. Setelah melakukan pemeriksaan dan pertolongan untuk menghentikan pendarahannya sangat bersyukur bahwa kondisi janin nyonya Areun baik-baik saja begitu juga dengan nyonya Areun. Itu berkat tindakan cepat membawa nyonya Areun ke rumah sakit."


"Syukurlah!" Seru semua di sana bernapas lega.


"Jadi kapan kami bisa menemuinya?"


"Setelah pasien dipindahkan ke ruang perawatan. Saya permisi tuan dan nyonya." Dokter pun pergi.


"Apa-apaan kamu? Kalian akan segera bercerai." Cerca Kasi.


"Kami tidak akan bercerai." Tukas Jaemin memandang sinis kepada Jay berada jauh di belakang Kasi.


"Percaya diri sekali. Areun sudah menyiapkan gugatan."


"Aku tidak peduli. Aku pasti bisa mencegahnya demi anak kami."


"Anak kami? Itu bukan anakmu, itu anak Jay."


Ketika Areun sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Ruang perawatan VIP yang dibayar Jaemin bersama biaya perawatan lain ketika menyelesaikan administrasi selama Areun mendapatkan tindakan di IGD.


Areun berbaring di atas tempat tidurnya dengan lengan yang terpasang infus.


"Dimana Jaemin?" Tanya Areun kepada Kasi yang menemaninya.


"Dia sudah pulang." Jawab Kasi berbohong.


Areun menyentuh lengan Kasi. "Jangan bohong Kasi."


"Dia yang menyelamatkan bayiku. Karena dia yang membawaku ke rumah sakit segera bayi ini bisa selamat."


"Itu hanya kebetulan karena dia ada di sana Areun. Siapapun disana pasti akan cepat membawamu ke rumah sakit."


"Karena kejadian ini aku berpikir bahwa kami memang terhubung."


"Tetapi bagaimana dengan Jay Areun? Kalian akan menikah."


"Aku yakin Jay akan mengerti."


Jaemin memasuki kamar perawatan Areun. Berjalan cepat dia duduk di atas tempat tidur di sisi Areun.


"Kamu baik-baik saja Areun?" Tanya Jaemin dengan mata berkaca-kaca. Areun mengangguk.


"Terimakasih, berkat kamu anakku bisa selamat."


"Anak kita. Itu yang kamu katakan tadi."


"Benarkah? Aku tidak pernah mengatakan itu." Elak Areun gelagapan malu.


"Aku dengan jelas mendengar itu. Areun, aku mohon maafkan aku." Pinta Jaemin menggenggam tangan Areun.


"Aku mau tetapi aku pun bersalah kepadamu." Jawab Areun menundukkan wajahnya.


"Bersalah kenapa?"


"Aku sudah tidur dengan Jay."


Bagai tersambar petir siang bolong Jaemin sangat terkejut mendengarnya. Dia terdiam sambil menundukkan wajahnya. Areun memandanginya dengan mata berkaca.


"Dia pasti sangat kecewa. Tetapi aku harus jujur sekarang agar tidak ada kebohongan lagi. Aku sudah pasrah kalau Jaemin tidak akan memaafkanku." Batin Areun.


Jaemin mengeratkan genggamannya sambil memandang wajah Areun. Dia tersenyum penuh makna dengan mata berkaca-kaca.


"Kita berdua memiliki kesalahan dan kita berdua pun sudah menyesalinya. Biarkan yang sudah terjadi tetapi kita berjanji tidak akan mengulanginya lagi, bagaimana?" Kata Jaemin bijaksana.


"Jadi kamu memaafkan aku?" Tanya Areun penuh haru.


"Iya. Asal kamu tidak akan mengulangi lagi."


Areun mengangguk. Jaemin memeluknya erat dan mencium rambut Areun. Areun menangis bahagia sambi memegang perutnya.


"Jangan menangis. Kasihan bayi kita. Dia baru saja kena guncangan. Halo junior." Sapa Jaemin di perut Areun.


"Kok junior bisa jadi ini perempuan?"


"Dia kuat dia pasti laki-laki."


Jay menutup pintu perlahan dengan perasaan hancur. Penantiannya selama ini berakhir dengan kesedihan. Jay pun pergi dari rumah sakit tanpa pamit.


...****************...


Pamit. Akhirnya ceritanya bisa aku selesaikan. Semoga suka ya kawan. Maaf masih acak-acakan dalam penulisan maklum masih pemula 😹. Sampai berjumpa di cerita lainnya.