A Blinder

A Blinder
Unfaithfull



"Kelemahan manusia adalah keragu-raguan. Dan aku akan menggunakan kelemahan itu untuk memisahkan kalian." Kata Bibi di dalam hatinya setelah mendengar percakapan Areun dan Kakek.


......***......


"Areun!" Sapa Bibi memanggil Areun yang baru keluar dari kamar kakek. Panggilan yang menakutkan bagi Areun setelah panggilannya yang pertama yang membuat Dia akhirnya terjebak.


"Ya bibi!" Jawab Areun sambil terus berjalan.


"Kamu tidak mau berhenti? berbicara dengan Bibi." Bibi menarik tangan Areun.


"Tidak bibi." Jawab Areun ketakutan.


"Hey..hey...lupakan masa lalu. Bibi memang bersalah waktu itu. Tetapi bibi mau memperbaiki hubungan kita."


"Tidak perlu bibi, kita seperti biasa saja." Jawab Areun melanjutkan berjalan.


"Padahal tadinya aku mau membantumu memecahkan mistery dibalik alasan kenapa Jaemin memilihmu sebagai istri." Bibi memancing Areun dan berhasil dengan sekali uluran. Areun berhenti dan menoleh.


"Kita bicara di taman, yuk!" Ajak Bibi merangkul Areun memasuki lift.


Di taman...


"Bibi tahu kamu masih penasaran alasan Jaemin menikahimu, kan?" Bibi menyeruput jus jeruk dingin. Di sisi lain meja kaca bundar itu Areun duduk. "Diminum dulu jusnya Areun." Pinta Bibi.


Areun mengangkat gelas jus tinggi itu dan mencium dengan hidungnya.


"Itu jus buah asli, Wina yang membuatkannya. Bibi tidak memasukan apa-apa kesitu." Kata Bibi mengerti gerak gerik Areun.


"Akh...bukan. Aku hanya mencium aroma jus ini. Enak sekali baunya." Jawab Areun pura-pura dan menyeruput jusnya. Mengecap-ngecap untuk merasai bahwa tidak ada yang aneh dalam minuman itu.


"Semua orang di rumah ini tahu alasannya Jaemin menikahimu. Sepertinya hanya kamu yang tidak tahu." Bibi mulai memancing untuk kedua kalinya.


"Tapi kakek tidak tahu, kakek tidak pernah mengatakan itu."


"Kalau begitu, katakan padaku apa alasan Jaemin menikahiku?" Keingintahuan Areun semakin besar. Dia mencondongkan badannya lebih ke depan.


"Ya ampun kamu ini tidak sabaran banget." Jawab Bibi. "Meski aku tahu, sama seperti kakek, aku tidak bisa bilang kepadamu. Karena ini rahasia rumah ini."


"Kalau tidak bisa cerita kenapa kamu... maksudku Bibi ingin bicara denganku." Hentak Areun kesal.


"Ya ampun, Areun! Aku tidak bilang aku akan mengatakan alasannya. Aku hanya bilang aku akan membantu memecahkan misterinya."


"Bertele-tele. Sudahlah." Areun bangun dari duduknya. "Orang licik memang tidak akan berubah."


"Kamu pikir suami yang tidak pernah menyentuh istrinya secara intim apa itu bisa dikatakan menikah karena cinta?" Deg... Pancingan ke tiga Bibi mengenai sasaran lagi. Areun berhenti berjalan untuk mendengarkan.


"Aku benarkan?" Tanya Bibi berjalan mendekati Areun.


"Sok tahu, darimana Bibi tahu bahwa Jaemin tidak pernah menyentuhku secara intim? Apa bibi tahu apa yang kami lakukan di kamar berduan."


"Ck..ck..ck..Jangan menipu dirimu sendiri Areun. Jika Bibi jadi kamu, Bibi akan menanyakan langsung alasannya kepada suami Bibi. Kenapa dia tidak pernah menyentuh bibi padahal kami sudah menikah?"


"Heum."Bibi menarik napas panjang. "Kasian kamu Areun. Berpikir terlalu polos. Dengan Jaemin bersikap baik dan perhatian kepadamu, itu bukan tanda kalau dia menikahimu karena suka sama kamu. Jaemin itu memang orangnya baik, sangaaat baik kepada semua orang. Dia orangnya tidak bisa marah."


"Jadi kebaikannya kepada Areun yang tidak bisa melihat adalah kebaikan standar. Jadi untuk bisa menikah karena kamu mendapatkan cinta Jaemin, Jaemin harusnya mau melakukan yang seharusnya suami lakukan kepada istrinya."


Areun hanya mendengarkan Bibi berbicara panjang lebar. Dalam hatinya Dia mulai terprovokasi dengan ucapan Bibi yang seratus persen dia setujui. Dan Dia merasakan kebodohan dalam dirinya yang percaya akan perlakuan manis Jaemin. Namun dilain sisi Dia bingung harus apa untuk mengungkap rahasia Jaemin.


"Pikirkan baik-baik, ya Areun." Bibi menepuk pundak Areun dan pergi meninggalkan Areun sendirian di taman.


"Kenapa aku harus percaya kepada wanita julid itu?" Pikir Areun. "Dia sudah pernah hampir mencelakakan aku. Dan ini pasti salah satu tipu muslihatnya. Tetapi....apa yang dia katakan semua benar." Areun meringis duduk lagi di bangku taman.


"Aku harus bagaimana sekarang? Mencari tahu? Atau membiarkan ini seperti apa adanya saja?"


...***...