
"Tidak lama lagi ayah akan menandatangani surat warisnya. Aku ingin kamu usahakan agar surat yang ditanda tangani ayah adalah surat ini." Paman berbisik di dalam kamarnya berbicara dengan Bibi sambil menunjukkan map berwarna biru muda.
"Apalagi yang sedang mereka rencanakan?" Pikir Areun mengintip dari pintu.
"Siapa itu?" Tanya Paman membuat Areun terkejut.
Tok..tok... Areun mengetuk pintu seolah dia baru saja sampai di pintu.
"Kakek menyuruh semua berkumpul untuk makan malam sekarang." Jawab Areun didepan pintu kamar Paman dan Bibi.
"Apa tidak ada orang lain yang bisa kakek suruh selain dirimu?" Tanya Paman dengan ketus sudah berada di hadapan Areun.
"Aku dari kamar kakek barusan, dan kakek menyuruhku memanggil kalian." Areun beranjak pergi ke lift.
"Dia itu berkeliaran saja kerjanya." Kata paman kepada Bibi.
"Betul, aku melihatnya seperti dia itu bisa melihat."
...***...
"Aku akan menukar berkasnya sebelum Ayah menandatanginya." Kata Bibi menaruh berkas tanpa map di atas meja kecil.
"Ini tolong kasih ke kakak ipar, ya." Kata Paman memberikan berkas lain. "Aku berangkat dulu, sampai nanti." Paman pergi keluar dari kamar tanpa menutup pintu.
Bibi menaruh berkas disebelah kiri berkas ahli warisnya. Handphone bibi berdering, Ia asyik mengobrol dengan temannya di telepon.
"Areun!" Panggil Bibi saat Areun lewat.
"Tolong antarkan berkas ke Ibumu." Suruh bibi sambil asyik ngobrol di telepon. "Ambil diatas meja yang sebelah kiri, ya." Suruhnya lagi lalu cekikikan.
Areun mendekati meja dan Ia bisa melihat bahwa berkas satunya adalah berkas ahli waris yang sudah paman siapkan.
"Sebelah kiri, Areun!" Kata Bibi melihat Areun meraba-raba tiap berkas.
"Yang ini kan bi?" Tanya Areun mengambil berkas disebelah kirinya.
"Iya betul. Sudah antar sana! Bagaimana tadi? O iya jadi dong."
Areun bergegas ke kamar Ibu mertuanya.
Tok...tok..."Masuk!" suara Ibu menyahut dari dalam.
"Ibu, bibi menyuruhku mengantarkan berkas ini." Kata Areun memberikan berkas ke tangan Ibu mertuanya yang sedang duduk santai di sofa didekat tempat tidurnya.
"Aku permisi, Ibu!" Areun keluar dari kamar Ibu mertua.
Di kamar Bibi, "Ya ampun, anak itu salah mengambil berkas!" Pekik Bibi saat melihat ke berkas di meja. "Areun!" Dengan panik bibi segera berlari menuju kamar Ibu Jaemin.
"Kakak...kakak!" Bibi ngos-ngosan memasuki kamar Ibu Jaemin. "Areun salah memberikan berkas." Katanya lagi.
"Kamu ingin menukar surat ahli waris dengan nama anakmu? Keterlaluan kamu Hae. Aku akan mengatakan ini kepada Ayah." Ibu membawa berkas menuju kamar Kakek.
"Kakak! Kakak! Ampunin aku, ka!" Pinta Bibi dengan sangat memohon menghalangi jalan Ibu. Ibu menerobosnya.
Beberapa saat kemudian, semua anggota keluarga kecuali nara dan nora sudah berkumpul di ruang keluarga.
"Ini semua gara-gara si buta itu. Awas kau nanti akan aku balas."
"Kamu sengaja ya memberikan kertas yang salah!" Dengan berbisik Bibi memarahi Areun yang duduk disebelahnya.
"Sengaja bagaimana? Aku mengambil sesuai petunjuk bibi, sebelah kiri." Jawab Areun.
"Apa aku salah sebut." Pikir Bibi. "Tidak, dengan jelas aku ingat berkas itu berada disebelah kanan, dan aku menyuruhmu mengambil disebelah kiri."
"Terus aku bertanya yang ini bi? Saat aku mengambil berkas yang sebelah kiri dan bibi mengiyakan." Jawab Areun kekeuh.
"Iya juga ya, dengan jelas aku juga melihatmu mengambil disebelah kiri." Pikirnya terus.
"Kamu pasti menukarnya, kan?"
"Mana ada? Aku tidak bisa melihat dan untuk apa aku menukar berkas itu."
Areun tertawa dalam hati, mengingat kejadian saat ia mengambil berkas. Dengan cepat saat bibi tidak melihat sebenarnya Areun menukar posisi berkas.
"Aku ingin kakek mengusir Hae dari rumah ini. Dia sudah ingin berlaku licik kepada keluarganya sendiri." Kata Ibu Jaemin.
"Tetapi Jisung, Nora dan Nara akan tetap di sini kan, bu?" Tanya Jaemin melihat kearah Jisung yang sedang sedih.
"Tidak...jangan usir kami. Kami mohon!" Kata Paman menyesal. "Kami mohon maaf. Kami sudah bersalah."
"Bagaimana bila aku tidak membaca berkas itu dan kakek menandatangani itu tanpa membacanya."
Kakek melihat ke arah Areun, Areun menggeleng sambil menunduk.
"Sudah..sudah. Tidak perlu diributkan lagi. Surat palsu itu sungguh tidak berguna. Karena tanpa sepengetahuan kalian, Kakek sudah membuat dan menandatangani surat warisan di depan Pengacara Oh. Jadi untuk kali ini, Kakek memaafkan kalian. Namun Kakek minta ini adalah yang terakhir kalian membuat ulah. Jisung tolong perhatikan ayah ibumu." Pinta Kakek lalu bangun berdiri dan berjalan di temani asistennya menuju ke kamar.
"Kakek sudah membuat surat warisan. Berarti tinggal serah terima dengan Jaemin." Bisik Ibu kepada Ayah Jaemin.
......****......
"Berkat gadis buta itu aku mengetahui sifat asli Hae. Pikir Ibu. Hae telah berencana menusukku dari belakang." Ibu Jaemin bersyukur di dalam hati.
Sejak saat itu Ibu Jaemin sedikit baik kepada Areun. Meskipun hanya sedikit, karena dia tetap belum bisa menerima Areun sepenuhnya.
...***...