A Blinder

A Blinder
END OF A DAY



"Kenapa Areun berbohong? Kenapa Areun menipuku selama ini?" Di kursi penumpang belakang Jaemin memandang keluar jendela dengan hampa. Jari tangannya memegang sisi keningnya yang dia tempelkan di kaca.


Jaemin datang bertepatan dengan makan siang dimulai. Jaemin segera bergabung duduk disebelah Areun. Tanpa sapaan kepada Areun.


Ditengah makan, Jaemin berdiri dan hendak memberikan ayam goreng kepada sepupunya Nora. "Orang tidak bisa melihat tidak akan memiliki reflek menangkap." Pikirnya dengan sengaja menjatuhkan paha ayam. Dengan refleknya Areun menangkap paha ayam itu.


"Jaemin! Hati-hati dong sayang!" Tegur Ibu. Namun tidak satupun disana yang memperhatikan Areun bisa menangkap paha ayam tersebut dalam keadaan buta.


Selesai makan Jaemin menuju kamar duluan meninggalkan Areun, tidak seperti biasanya. Areun belum merasa curiga dengan gelagat Jaemin. Dia mengikuti Jaemin ke kamar.


"Sayang!" Panggil Areun karena tidak melihat Jaemin di sekitaran tempat tidur sementara pintu kamar mandi dan ruang pakaian terbuka dan tidak memperlihatkan sosok Jaemin di sana.


Pintu yang belum di tutup Areun ketika masuk, tiba-tiba terdengar menutup. Areun menoleh ke belakang.


"Sayang apa itu kamu?" Tanya Areun berpura-pura tidak melihat Jaemin didekat pintu sedang menatapnya tajam.


"Yang kamu lihat siapa?" Jawab Jaemin ketus berjalan menghampiri Areun. menyembunyikan tangan kirinya dibalik punggung.


"Ada apa dengan dia? Terlihat sangat marah." Pikir Areun.


"Aku harus melakukan ini, karena aku ingin kamu segera mengakui kebohonganmu." Kata Jaemin didalam hatinya.


"Kamu tahu aku memiliki rahasia kecil?" Tanya Jaemin. "Aku bisa membunuh orang kalau aku sedang marah besar." Katanya meluruskan tangannya yang sedari tadi dia sembunyikan, memperlihat ujung mata pisau dari balik genggamannya yang menghadap belakang.


"Apa maksud semua ini?" Tanya Areun di dalam hati, ketakutan, perlahan mundur kebelakang. "Apa dia sudah tahu kebohonganku?"


"Apa kamu punya rahasia seperti aku Areun?"


"Rahasia?" Tanya Areun gugup, berbalik memunggungi Jaemin.


"Mungkin," Jawab Areun ragu, mengangkat bahunya.


"Kamu bisa melihat apa yang aku pegang sekarang?" Jaemin memperlihatkan pisau silver yang mengkilat dengan ukiran naga terpatri digagangnya. Areun menelan ludah, tubuhnya gemetaran ketakutan, dia menggeleng.


"Berhenti berbohong, Areun!" Jaemin berteriak di wajah Areun.


"Maaf...maafkan aku." Areun terkulai lemas, duduk bersimpuh seraya menangis .


"Kenapa kamu membohongiku?" Jaemin mencengkram lengan atas Areun memaksanya berdiri.


"A-aku...aku terpaksa. Itu karena aku takut kehilanganmu." Jawab Areun menunduk terus menangis. "Awalnya aku ingin kamu membatalkan perjodohan kita karena itu aku berpura-pura tidak bisa melihat. Namun ternyata aku menyukaimu. Saat itu kita belum saling mengenal, aku takut kamu akan membatalkan pernikahan kalau aku mengaku aku berbohong. Aku sangat ingin menikah denganmu, hanya itu yang ada dipikiranku."


"Kalau begitu saat aku mengatakan mencintaimu, seharusnya kamu bisa jujur. Dengan jelas aku mengatakan aku tidak bisa membencimu karena aku mencintaimu. Bahkan saat aku ingin kamu berobat, kamu tetap memilih untuk membohongiku."


"Aku takut kamu akan marah sebesar seperti ini."


"Aku marah sebesar ini karena, kenapa aku harus tahu dari orang lain? Kenapa bukan kamu yang mengatakan ini sebelumnya."


"Maaf tetapi tolong mengerti, aku.."


"Mengerti apa?" Nadanya kembali meninggi. "Mengerti betapa bodohnya aku bisa kamu tipu selama ini? Aku sudah melakukan segalanya untukmu, Areun. Bahkan aku tidak meminta Pak Hide untuk menyelidiki dirimu walau banyak informasi yang aku dapat tidak tepat tentangmu. Karena aku begitu percaya padamu." Mata Jaemin yang memerah berkaca-kaca.


"Aku melihat wajahmu yang polos. Namun aku salah, ternyata kamu sama saja dengan wanita itu. Penuh tipu daya." Penekanan dikalimat terakhir seolah menandakan luka yang belum sembuh.


"Maafkan aku Jaemin! Aku mohon maafkan aku!" Areun begitu memohon dalam tangisnya. Menyatukan kedua telapak tangannya diwajahnya.


...****...