
Di kantor Areun datang menemui Tuan Yoen Sok untuk bisa mendapatkan pekerjaan.
"Saya bahkan tidak kamu kasih tahu kalau kamu menikah dengan Tuan Jaemin dari keluarga Jang yang kaya raya itu."
"Maafkan saya pak."
"Kamu masih beruntung karena ada karyawan yang keluar kemarin, jadi kamu bisa saya terima bekerja lagi. Kamu mau mulai bekerja hari ini atau besok?"
"Hari ini juga tidak masalah pak. Agar saya bisa melupakan kesedihan saya."
"Baiklah. Saya turut prihatin mendengarnya Areun. Tetap semangat! Kami selalu menerimamu di sini!"
"Terimakasih pak. Anda memang orang yang baik." Areun keluar dari ruang kerja tuan Yoen Sok.
"Halo tuan Jaemin!" Tuan Yoen Sok menghubungi Jaemin dengan handphonenya. "Benar dugaan anda, nona Areun melamar kerja lagi di sini..., seperti permintaan anda saya menerima dia bekerja lagi di sini. Baik tuan. Tetapi tentang kerja sama perusahaan kita ?....Oh baiklah tuan. Terimakasih.....Terimaksih kembali." Tuan Yoen Sok menutup teleponnya dengan tersenyum lebar.
...Di meja kerja Areun,...
"Bener kamu tidak apa-apa kalau bekerja?" Tanya Jay.
"Benar. Sudah jangan khawatir, aku baik-baik saja kok."
"Baiklah!" Jay kembali ke mejanya. Sesekali ia memperhatikan Areun dari mejanya dengan khawatir.
Sepulang bekerja di lobi kantor Areun melihat seseorang sedang duduk di ruang tunggu sibuk dengan handphonenya. Pria itu mengangkat pandangannya dari layar kearah Areun yang terus berjalan tidak menghiraukan nya.
"Areun!" Panggilnya menyusul Areun.
"Untuk apa lagi kamu menemuiku? Apa ada wartawan disini?" Kata Areun dengan lirih terus berjalan.
"Kapan kamu akan mengerti, kita tidak bisa kembali bersama." Areun berhenti dan berhadapan dengan Jaemin. "Lanjutkanlah hidupmu, lupakan kalau kita pernah ada hubungan. Aku rasa itu lebih baik."
"Areun!" Panggil Jay dari dalam mobilnya yang berhenti di depan pintu masuk.
Areun berjalan memasuki mobil, menutup kaca mobil yang terbuka dan mobilpun melaju.
"Aku tidak yakin kamu adalah orang yang sama, yang pernah begitu mencintaiku?" Pandangannya kosong dalam wajahny yang muram, memandangi mobil Jay yang menghilang dijalanan. "Kamu pergi begitu saja tanpa air mata tanpa menoleh kepadaku, membiarkan aku mati oleh rasa cintaku sendiri yang begitu besar untukmu."
Di mobil Areun menangis lagi,
"Hal yang tersulit di dunia ini adalah berpura-pura tidak mencintaimu." Kata Areun menatap ke jalan.
Jay memberikan tissue untuk Areun.
"Sepertinya aku tidak bisa tidak menangis karena Jaemin. Mencintainya aku menangis, meninggalkannya aku pun menangis."
"Begitu besarnya kah rasa cintamu pada Jaemin. Bahkan setelah dia menyakitimu."
"Ini baru permulaan, lama-lama kamu pun tidak perlu menangis lagi karena dia." Jawab Jay.
"Hatiku sangat ingin menggapainya saat dia memohon untuk aku kembali. Tetapi pikiranku yang mencegahnya. Seperti aku ingin dia merasakan apa yang aku rasakan, ketika aku memohon kepadanya untuk memaafkanku, untuk membiarkanku tetap bersamanya."
"Apa yang kamu lakukan itu benar. Cinta itu membawa tawa bukan air mata."
"Apa aku akan luluh nantinya dan kembali kepada Jaemin? Karena rasa cintaku untuknya lebih besar dari rasa sakitku."
"Aku berharap kamu tidak akan berpikir untuk kembali kepadanya. Kamu bisa bahagia Areun, dengan orang lain. Bukalah hatimu untuk melihat cinta yang lain!" Jay menatap nanar.