A Blinder

A Blinder
MALAM VVIP



"Tadi saat kamu belum sadar, Kasi, Roy dan Jay." Jaemin memberikan penekanan dengan malas pada nama Jay. "Datang menjengukmu. Setelah tahu kamu baik-baik saja, mereka pulang." Kata Jaemin sambil menyuapi Areun makan.


"Kalian jadi khawatir karena aku." Ucap Areun dengan murung.


"Karena kami sayang kepadamu. Tetapi aku penasaran kenapa kamu bisa terjatuh? Biasanya kamu bisa menuruni tangga dengan aman.


"Aku tidak begitu ingat. Aku seperti menyandung sesuatu lalu aku hilang keseimbangan dan terjatuh."


"Aku kan sudah bilang untuk ditemani Wina kalau ingin ke atas. Lagipula ada lift kenapa kamu tidak naik lift?"


"Kalau naik lift aku harus memutar bila ingin ke kamar. Kalau lewat tangga itu akan dekat sekali."


"Tetapi ini yang terjadi sekarang."


"Maaf, lain kali aku akan lebih berhati-hati.


"Syukur hanya patah tulang. Aku pikir aku akan mati tadi." Pikir Areun bernapas lega membayangkan dirinya saat terguling-guling di tangga.


Jaemin tiduran disisi kanan Areun. Dia mengangkat kepalanya dengan ditopang tangan kanannya. Mereka mengobrol banyak hingga Areun tertidur. Jaemin yang sama lelahnya pun menaruh kepalanya di bantal Areun memandangi Areun yang tertidur tenang bagai bayi hingga Dia pun ikut tertidur di sebelah Areun.


Pak Hide datang pagi-pagi sekali sebelum visit dokter dan ganti shift suster. Mengantar baju ganti Jaemin.


Satu persatu anggota keluarga Areun menjenguknya. Kakek pun memaksakan diri untuk datang karena khawatir dengan Areun. Menjelang siang Kasi datang bersama Rio dan Jay.


"Kasi, bisa aku titip Areun sebentar. Aku harus ke kantor sebentar." Pinta Jaemin pada Kasi.


"Tentu, pergilah. Kami akan disini sampai kamu datang." Jawab Kasi.


Tidak lama kemudian, Rio meminta Kasi menemaninya ke cafetaria dan meninggalkan Jay berdua dengan Areun.


"Aku sudah pernah bilang kepadamu, mereka pasti akan mencoba menyakitimu lagi." Ujar Jay terdengar kesal memberikan jeruk yang sudah dia kupaskan.


"Ini kecelakan Jay. Bukan salah siapa-siapa." jawab Areun.


"Jangan berbohong Areun. Kamu orang yang berhati-hati tidak mungkin terjatuh begitu saja. Kenapa kamu tidak pergi dari sana? Pernikahan ini bukan karena cinta, kan?"


"Jaemin mencintaiku. Dan Jay, berhenti memprovokasi aku untuk pergi. Apa bedanya kamu dengan Dara kalau begini."


"Aku hanya tidak bisa melihatmu terluka, Areun. Kenapa kamu bawa-bawa Dara?"


"Kamu memaksaku pergi agar kamu bisa bersamaku, iya kan?"


Jaemin memasuki kamar.


...***...


Beberapa hari kemudian Areun diperbolehkan pulang.


"Areun! Bagaimana kabarmu, nak?" Tanya bibi datang ke kamar Areun.


"Aku baik-baik saja, bi." Jawab Areun merasa aneh dengan sikap baik bibi.


"Ada apa dengan bibi? kenapa tiba-tiba menjadi perhatian? apa dia merasa bersalah?" Pikirnya.


"Jaemin, sepertinya aku lapar. Aku ingin sekali makan kimbab." Kata Areun memegangi perutnya dengan tangan kiri.


"Kamu ingin kimbab? Biar bibi buatkan. Sebentar, ya?"


"Daging dan telurnya dibanyakin ya bi?"


"Boleh." Bibi pergi ke dapur dan membuatkan kimbab.


Bibi datang dengan sepiring penuh kimbab.


"Ini Areun!" Bibi menaruh piring kimbab diatas kasur.


"Tanganku sakit, bi. Aku perlu disuapi." Kata Areun manja. Bibi duduk ditepi tempat tidur, disebelah Areun.


"Sini biar bibi yang suapin." Bibi terdengar tulus.


"Seret, bi. Aku perlu minum." Kata Areun ditengan makan sambil memegangi lehernya.


"Ini!" Bibi mengambil gelas air putih di atas nakas.


"Aku ingin jus jeruk seperti yang biasa bibi minum." Kata Areun menolak air putih.


"Ya ampun...kenapa gadis ini seperti sedang mempermainkan aku?" Bibi ngedumel didalam hatinya.


"Sebentar bibi buatkan dulu." Bibi tersenyum terpaksa lalu pergi ke dapur.


"Menyenangkan sekali mengerjai bibi menyebalkan itu. Gantian aku yang mengerjaimu kali ini, bibi." Areun tersenyum licik.


......****......