
"Areun hari minggu ini kita jalan-jalan ke taman hiburan yuk!" Ajak Jay di meja kerja Areun.
"Boleh tuh, aku ajak Jay juga ya?"
"Jay ajak Jay hahaha..." Jay tertawa. "Boleh kok. Biar tambah seru." Jawab Jay. "Biasanya dulu saat aku masih dengan Dara paling susah mengajakmu jalan."
"Karena aku tidak mau dianggap merebut pacar orang."
"Kalau kaya gini kan, kamu memang temanku dari kecil Areun."
Hari minggu yang cerah. Jay, Areun dan Jay kecil berangkat ke taman bermain menggunakan mobil Jay.
Sesampainya di sana, Jay ingin ingin segera menikmati wahana yang ada di sana.
"Ka, aku mau naik carousel!" Jay menarik tangan Areun. "Ayo, paman!" Bersamaan menarik tangan Jay.
Areun dan Jay beradu pandang sambil tersenyum.
"Tadinya mau kencan berdua dengan Areun." Pikir Jay. "Tapi tidak apa-apa deh yang penting bisa jalan dengan Areun. Aku jadi membayangkan jika kami punya anak sendiri, pasti akan seperti ini." Jay tersenyum tersipu malu.
Ditengan bermain . .
"Aduuh capek!" Areun duduk di bangku panjang yang sudah disediakan. "Istirahat dulu, ya!" Kata Areun meminum air mineral di botol.
"Jay, ayo duduk dulu!" Kata Jay dewasa yang sedang menggandeng Jay kecil. Dengan wajah kecewa Jay kecil nurut dan duduk disebelah Areun.
"Ini makanan dan minumannya!" Areun menyerahkan burger ke tangan Jay kecil. Jay makan dengan lahap.
"Aku kok jadi gampang capek, ya? Capek banget ini terasanya." Kata Areun mengelap keringat dengan tissue.
Jay menyandarkan kepala Areun di atas dadanya dan membantu Areun mengelap keringat.
"Memang cuacanya mulai panas sekarang." Jawab Jay.
"Aku bahagia sekali bisa dekat seperti ini lagi dengan Areun." Pikir Jay mengusap dahi Areun.
"Kenyamaan yang aku rindukan. Meskipun dengan orang yang berbeda." Pikir Areun begitu menikmati kedekatan dan sentuhan dari Jay.
...****...
"Kenapa aku tidak enak badan, ya?" Tanya Areun kepada Jay saat sedang makan siang.
"Kurang istirahat kali, atau kamu telat makan kemarin-kemarin?"
"Apa nanti mau ke dokter?"
"Tidak usah. Kalau udah tidur banyak juga akan sehat lagi. Mana mual mulu lagi apalagi kalau pagi-pagi."
"Mual?" Jay menyipitkan sebelah matanya penuh tanya. "Ada muntahnya?"
"Tidak, mual aja."
"Kapan terakhir kali kamu menstruasi?"
"Tidak sopan kamu menanyakan menstruasiku." Jawab Areun ketus. "Tapi, iya ya, aku baru ingat aku belum menstruasi."
"Apa kamu?" Terputus.
"Kamu apa?" Tanya Areun jadi penasaran.
"Kamu hamil."
"Hamil?" Memekik kencang hingga yang di kantin melihat ke arah mereka. "Masa bisa aku hamil?" Tanya Areun berbisik.
"Kamu begituan kan dengan suamimu?"
"Bukan yang itu maksudku. Dulu aku pernah kecelakaan hebat kan, dokter bilang ada kemungkinan aku tidak bisa hamil jika nanti menikah."
"Kalau begitu kita harus ke dokter untuk memastikan."
Sepulang kerja Jay mengantar Areun ke dokter kandungan di salah satu rumah sakit. Saat mereka memasuki ruangan dokter Ibu Jaemin yang habis menjenguk temannya melihat mereka.
"Spesialis kandungan?" Tanyanya di dalam hati membaca plakat diatas ruangan. "Areun hamil? Anak siapa? Jaemin atau pria itu?" Pikirnya.
Di dalam dokter mengecek kandungan Areun dengan USG. Di monitor terlihat di dalam kandungan Areun ada janin sebesar kacang.
"Benar, nyonya hamil. Usia kandungannya sekarang 6 minggu." Kata dokter mengabari. Areun memegang tangan Jay sambil melihat Jay yang tersenyum bahagia melihat gambar janin di monitor. Jay menoleh sambil tersenyum.
"Selamat ya pak, sebentar lagi akan menjadi ayah!" Kata Ibu dokter mengira Jay adalah suami Areun. Jay tersipu malu sekaligus senang di dalam hatinya membayangkan memang dialah ayahnya.
"Tapi dulu saat saya kecelakaan, dokter yang memeriksa saya mengatakan saya tidak bisa hamil." Kata Areun setelah duduk di kursi depan meja dokter.
"Ini yang disebut keajaiban nyonya. Mungkin dokter bisa memvonis tetapi tetaplah Tuhan yang berkehendak." Jawab Ibu dokter. "Tetapi pesan saya, tuan jaga nyonya dengan baik ya, karena kandungan nyonya lemah terutama dimasa awal kehamilan ini masih rentan. Jadi usahakan nyonya tidak capek dan tertekan."
...****...