A Blinder

A Blinder
Perdebatan



Di rumah Dara, Dara melihat berita di televisi tentang Jay.


"Mereka memang memalukan. Kamu rasakan akibatnya itu Jay!" Kata Dara penuh ke marahan.


......****......


Di rumah Jaemin,


"Aku tidak pernah merasakan kebahagian seperti ini. Cheers ka! Bibi bersulang dengan Ibu Jaemin.


"Aku juga. Begitu mudahnya kita menyingkirkan wanita itu."


"Sayang kakek langsung meredakan berita itu. Coba kalau tidak, hancur sudah dia terkena bully-an."


"Areeeeuuunn!!!" Teriakan kencang Jaemin terdengar seisi rumah.


Ibu dan Bibi bergegas pergi ke kamar Jaemin. Di dalam kamarnya Jaemin duduk bersimpuh mabuk berat.


"Ya ampun Jaemin, bangun!" Ibu dan bibi membantu Jaemin berdiri dan memapahnya ke tempat tidur.


"Areun! Aku mau Areun Ibu." Jaemin menepuk-nepuk lengan ibunya.


"Sudah lupakan gadis penipu itu, Jaemin!" Kata Ibu sedikit kesal.


"Tidak!" Jaemin mengacungkan jari telunjuk nya dan menggerakan ke kiri dan kanan dengan mulut manyun. "Aku akan membawa Areun kembali. Dengar Ibu! Aku akan membawa Areun kembali." Berbaring di kasurnya memanggil-manggil Areun.


"Tidak biasanya dia minum?" Ujar Ibu memandang prihatin kepada anaknya.


"Dia masih terguncang dengan yang terjadi." Jawab Bibi berjalan pergi.


Esok pagi Jaemin bangun dari tidurnya dan terduduk kemudian. Dia merasakan pusing di kepalanya.


"Areun!" Panggilnya lirih dengan tangan kirinya mencari keberadaan Areun. Dia menoleh kebagian Areun tidur.


"Aku lupa dia sudah pergi!" Gumamnya sedih. "Pergi karena kesalahanku!" Jaemin berbicara dengan nada tinggi sambil memukul kepalanya.


Jaemin bangun dan bersiap ke kantor. Jaemin keluar dari kamarnya dengan pakaian rapih seperti biasanya, jas hitam, kemeja hitam didalam dengan dasi melingkar di lehernya.


"Kamu akan ke kantor?" Tanya Ibu menyambut Jaemin di depan kamar.


"Jaemin, Ibu ada undangan makan dengan keluarga Tae Ri. Kita bisa datang nanti malam kan?"


"Tidak bu,, aku sibuk. Ibu saja yang berangkat." Jaemin berjalan.


"Sayang! Sayang!" Ibu menarik tangan Jaemin. "Kami ingin melanjutkan rencana pernikahan kalian yang tertunda karena ulahmu. sekarang kamu sudah tidak memiliki istri, dan tidak memiliki alasan lagi untuk menolak menikah."


"Aku masih memiliki istri, bu."


"Itu menurutmu, bagaimana dengan Areun?" Tanya Ibu. "Dia sudah memutuskan berpisah denganmu, tidak ada yang bisa kamu harapkan lagi."


"Aku yakin Areun mencintaiku dan akan kembali kepadaku."


"Bila dia mencintaimu dia tidak akan semudah itu memutuskan berpisah denganmu. Dia pasti akan lebih mempertahankan pernikahan dibandingkan berpisah. Lagipula dia memiliki pria itu disisinya, dia sudah berpaling darimu."


Jaemin lebih memilih meninggalkan perdebatannya, karena yang dia yakini Areun akan kembali kepadanya. Dia berjalan meninggalkan Ibunya dan pergi keluar.


Sementara itu, Jay kembali ke kantor untuk bekerja. Mata-mata menyelidik teman sekantor melihatinya dengan sinis. Rumor itu telah tersebar dan sulit menutup mulut mereka yang sudah terbuka. Sebisa mungkin Jay tidak memperdulikan kata-kata yang sekiranya menyakiti hatinya. Hingga ucapan seorang pria,


"Areun ternyata wanita murahan ya!" Serunya bergosip di pantry dengan kawan lainnya.


Buuug!!! Bogem mentah menjurus di wajah pria itu.


"Jaga mulutmu, bajingan!" Hardik Jay emosi.


"Kenapa itu benar, kan?" Satu tonjokan lagi mendarat di wajah pria itu.


Karena keributan yang terjadi Jay dipanggil oleh atasannya.


"Aku sudah mengenal kalian, seharusnya kamu tidak terpancing ucapan provokatif seperti itu." Kata Tuan Yoen Sok kepada Jay.


"Maafkan saya pak, tetapi saya tidak terima bila Areun dihina seperti itu."


"Ini masalah pribadi kalian, saya tidak seharusnya ikut campur. Akan tetapi untuk kali ini, saya akan memaafkanmu Jay. Tolong jangan diulangi."


"Baik, Pak. Terimakasih."


...***...