A Blinder

A Blinder
Rumor



"Sedang apa kamu di sini?" Tanya Areun terlihat marah.


"Aku ingin menjemputmu. Aku menyesali perbuatanku padamu. Maafkan aku Areun!" Jawab Jaemin begitu menyesal.


"Mudah sekali kamu membuang dan memungut sampahmu kembali. Tetapi aku bukan sampah, yang bisa kamu buang dan kamu ambil lagi. Aku manusia yang memiliki perasaan."


"Aku tahu Areun, aku tidak bisa mengontrol emosiku saat marah. Tetapi aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa bila jauh darimu Areun."


"Maafkan aku Jaemin, tetapi pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan."


"Stop!" Gretak Jaemin. "Jangan mengatakan itu Areun. Aku tahu kamu juga mencintaiku dan tidak bisa tanpa kehadiranku, jadi aku mohon maafkan aku, kembalilah kepadaku." Pinta Jaemin berkaca-kaca.


"Kamu benar, tetapi yang terbaik untuk kita adalah berpisah. Tidak ada jaminan bagiku tidak akan kamu usir ketika kamu marah."


"Aku berjanji tidak akan melakukan itu lagi Areun! Aku mohon, jangan katakan kita berpisah."


"Ayo Jay! Kita pergi." Bila diadegan sebelumnya Areun melepas tangan Jay untuk tetap bersama Jaemin, tidak untuk kali ini. Areun yang menggenggam tangan Jay, mereka saling menggenggam erat. Meninggalkan Jaemin sendiri.


"Tidak! Areun!" Teriak Jaemin memanggil Areun.


Areun tidak menoleh dan terus berjalan. Walau sebenarnya di dalam hatinya Areun menahan kesedihan yang teramat hingga akhirnya airmatanya pecah saat berjalan.


Mereka masuk ke dalam kamar hotel. Areun menangis semakin menjadi. Jay memeluk Areun begitu erat.


"Ini berat untukku, tetapi ini yang terbaik untuk kami menurutku." Kata Areun dalam tangisnya.


"Apapun itu aku akan selalu mendukung dan ada untukmu Areun." Jawab Jay mencium puncak kepala Areun.


Areun memutuskan untuk pulang ke apartemen Kasi. Ketika mereka akan keluar hotel para wartawan sudah menanti mereka untuk mendapatkan berita. Mereka menyodorkan mic dan mencecar Areun dengan pertanyaan ketika Areun akan masuk ke dalam mobil Jay.


Di apartemen Kasi.


Braaaag...


Kasi melempar remote televisi setelah mematikan televisi-nya.


"Apa-apaan mereka membuat berita yang tidak benar!" Teriak Kasi marah di dekat Rio yang berada disebelahnya.


"Tenang, tenang!" Rio menarik tangan Kasi memintanya untuk duduk.


"Apa yang bisa kita lakukan, selain pasrah. Kita tidak memiliki power sebesar mereka."


"Ini tidak akan baik untuk Areun dan Jay. Mereka akan diasingkan."


Areun dan Jay sampai di apartemen Kasi. Areun menangis lagi dipelukan Kasi.


"Kita harus menghentikan rumor ini." Kata Kasi.


"Apa yang bisa kita lakukan?" Tanya Rio.


"Bila aku kembali kepada Jaemin, berita ini bisa dihentikan."


"Apa harus seperti itu?" Tanya Jay tidak terima.


"Kakek, kamu dekat dengan kakek. Mintalah dia untuk menghentikan rumor ini. Membersihkan nama baik kalian." Usul Kasi.


"Itu benar."


Areun menelepon Kakek...


"Tanpa kamu minta kakek sudah menghentikan rumor itu ketika kakek tahu berita itu." Jawab Kakek di telepon.


"Ini ulah Ibu dan Bibi Jaemin. Dia ingin menghancurkan kehidupan kamu. Tetapi dengan berita klarifikasi yang sudah kakek buat berita ini tidak akan berlanjut. "


"Terimakasih, ya kakek!" Areun menangis.


"Apa kamu benar tidak akan kembali ke rumah ini?" Tanya Kakek penuh harap.


"Maafkan aku Kakek, aku tidak bisa. Aku harus berpisah dengan Jaemin."


"Kenapa harus?"


"Dia sudah dua kali mengusirku. Dan mungkin akan ada ketiga kalinya. Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan dengan pria yang mengusirku setiap kali kami bertengkar."


"Baiklah Areum, kakek mengerti. Tetapi kamu sering-sering mampir ke sini untuk menengok kakek, ya?"


"Baik kakek, terimakasih."