A Blinder

A Blinder
AMNESIA?



"Areun!"


Suara yang membuatku trauma. Bila panggilan itu datang sesuatu yang buruk pasti akan terjadi. Pikir Areun yang sedang santai duduk di bangku taman.


"Lihat bibi buatkan kamu minuman hangat."


"Minuman apa Bibi?" Tanya Areun berpura-pura antusias.


"Kopi manila." Jawab Bibi.


"Ini seperti kecap bi?" Tanya Areun.


"Darimana kamu tahu? Kamu kan buta?"


"Aku buta tetapi hidungku masih bisa mencium. Bau kecapnya pekat sekali, bi." Kata Areun menutup hidungnya.


"Benarkah?" Bibi mengambil cangkir minuman dari tangan Areun. "Kamu benar. Aku pikir bibi bisa mengerjaimu." Kata Bibi pergi membawa cangkir minumannya.


Areun memajukan bibirnya yang terkatup, "Aneh. Bibi bilang mau mengerjai aku? Ah, sudahlah."


...***...


"Kamu keterlaluan Hae!" Bisik Ibu mengintip di balik tembok, melihat tali yang sudah melintang dimulut tangga turun.


"Tenang saja ka. Dia tidak akan senekad itu melewati tangga. Dia pasti akan mencari jalan lain atau melompati tali itu." Kata Bibi berusaha menjebak Areun. "Dengan begitu dia akan terbukti tidak buta."


"Kenapa ada tali melintang disana? Tanya Areun di dalam hati saat akan mendekati tangga untuk turun ke bawah. Areun baru saja keluar dari kamar kakek. Sepertinya ini ulah bibi lagi. Dia ingin mengetes mataku rupanya. Aku akan patah tulang atau mungkin bisa jadi mati. Tetapi akan aku lakukan."


Areun melangkahkan kakinya menyandung tali itu,


"Areun!" Teriak Ibu keluar dari persembunyiannya begitu khawatir. Areun yang semula masih bertahan diujung tangga sangat terkejut hingga kehilangan keseimbangan. Areun pun terguling-guling jatuh hingga kebawah, kepalanya terbentur ujung tangga dan membuatnya tidak sadarkan diri.


Ibu berlari menuruni tangga dengan cepat sementara bibi diam-diam melepas tali yang terpasang. Mati aku kalau sampai ketahuan. Gumam bibi kabur ke dalam kamar tidurnya untuk menyembunyikan tali tersebut.


"Areun!" Teriak Jaemin melihat Areun saat terguling ditangga terakhir dan terkapar tidak sadarkan diri.


"Jaemin, cepat panggil ambulance!" Seru Ibu sangat khawatir memegang Areun.


"I-iya, Ibu!"


Di rumah sakit Areun selesai mendapat pemeriksaan namun belum sadarkan diri di ruang perawatan VVIP. Jaemin menunggu Areun di kursi di sebelah kiri tempat tidurnya. Sementara Ibu duduk di sofa disudut ruangan.



"Bagaimana dia bisa terjatuh bu?" Tanya Jaemin.


"Ibu tidak tahu saat Ibu lihat, Areun sudah jatuh ditangga."Jawab Ibu berbohong. Badannya gemetaran dan berkeringat, tidak bisa menutupi kegugupannya.


"Nasib baik, Areun tidak mengalami luka yang fatal." Kata Jaemin mengusap kepala Areun.


"Aku tidak akan memaafkanmu kali ini Hae. Kamu sudah keterlaluan. Beruntung Areun tidak kenapa-kenapa. Kalau sampai terjadi sesuatu aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri." Pikir Ibu Jaemin memandangi Areun yang masih belum sadarkan diri.


"Ini sudah sangat malam. Sebaiknya Ibu pulang. Ayah pasti menanti Ibu. Dan tolong katakan pada Kakek Areun sudah baik-baik saja." Kata Jaemin mendekati Ibunya yang sudah berdiri dan mengantarnya sampai di pintu.


"Baiklah. Sampai nanti sayang."


Malam semakin larut, Jaemin tertidur dikursi dengan kasur Areun sebagai alas kepalanya. Tangannya terus menggenggam tangan Areun.


Mata Areun terbuka perlahan. Ia masih merasakan pusing dan sakit di kepalanya. Matanya menyipit melihat kesekitar. Matanya tertuju pada tv besar di sebrang tempat tidurnya, lampu besar diatasnya dan sekeliling kamar yang besar namun asing baginya. Dimana aku? Gumamnya menggerakkan jemari kirinya hingga membangunkan Jaemin.


"Areun!" Serunya terbangun melihat Areun. "Kamu sudah bangun?" Tanyanya.


"Kepalaku sakit." Jawab Areun.


"Kepalamu terbentur."


"Tanganku?" Areun tidak bisa menggerakkan tangan kanannya yang terbungkus gips.


"Tanganmu patah. Apa kamu ingat jatuh dari tangga?"


Areun berpikir mencoba mengingat bahwa dia jatuh dari tangga. Rekaman kejadian tadi sorepun terputar dalam ingatannya.


Areun menggeleng. "Aku ada dimana?" Tanyanya melihat tajam ke depan dengan matanya yang pura-pura buta.


"Kamu di rumah sakit."


"Kamu siapa?" Tanya Areun terlihat bingung menoleh sedikit kearah suara. Jaemin ikut bingung.


"Aku Jaemin."


"Jaemin siapa?" Tanya Areun terlihat ketakutan.


"Aku suamimu." Jawab Jaemin mulai panik.


"Suami? Aku punya suami? Aku siapa?"


"Apa kamu amnesia?" Jaemin menyipitkan mata kirinya.


"Amnesia?"


"Aku akan panggil dokter!" Kata Jaemin bergegas panik.


"Hahaha..." Areun tertawa terbahak-bahak. Jaemin menoleh menatap Areun.


"Kamu pura-pura, ya?" Tanya Jaemin kembali duduk sambil tersenyum konyol.


"Haha...maafkan aku. Aku bercanda." Jawab Areun memegang kepalanya lagi yang lebih terasa sakit bila ketawa.


"Masih sakit, ya?" Tanya Jaemin


"Iya."


"Kamu mau aku panggilkan dokter untuk memeriksamu?"


"Tidak. Aku mau makan, aku lapar sekali." Jawab Areun polos memegang perutnya dengan tangan kirinya.


"Haha..orang sakit biasanya tidak mau makan, kalau kamu malah minta makan." Kata Jaemin mengambil handphone disaku celananya lalu menelepon anak buahnya untuk memesan makanan.


......****......