A Blinder

A Blinder
Curiga



"Kakek akan merubah surat warisan itu menjadi atas namaku." Kata Jaemin mengaitkan jari-jari tangannya satu sama lain.


Jaemin sedang duduk bersama dengan orang tuanya di ruang keluarga saat yang lain sudah tertidur.


"Itu bagus." Jawab Ayahnya tersenyum puas.


"Kenapa Kakek harus memberikan harta warisannya kepada gadis buta itu."


"Kakek menyayanginya Areun bahkan lebih besar daripada kami cucunya sendiri." Jawab Jaemin.


Sementara di kamar Areun terbangun dari tidurnya. Tangannya meraba-raba sisi tempat tidur yang biasa Jaemin tidur disebelahnya.


"Kemana Jaemin malam-malam begini?" Tanya Areun bingung. Areun turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Hampir semua lampu utama mati, hanya cahaya lampu kecil berwarna jingga yang menyinari setiap ruangan.


Areun melihat lampu di ruang keluarga masih menyala. Dengan mengendap- ngendap Areun berjalan kesana. Terdengar suara Jaemin, Ibu dan Ayah yang sedang mengobrol.


"Apa yang sedang mereka bicarakan?" Gumam Areun, tanpa sengaja dia menabrak meja kecil disampingnya dan menjatuhkan pajangan yang berada diatasnya.


Jaemin, Ibu dan Ayahnya keluar dari ruang keluarga.


"Areun!" Panggil Jaemin terkejut.


"Jaemin! Aku mencarimu. Kamu tidak ada di kamar. Aku takut." Kata Areun memelas.


"Maafkan aku Areun, aku sedang mengobrol dengan ayah dan ibu. Ayo, kita kembali ke kamar. Ayah, Ibu aku tidur duluan."


"Baik sayang."


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Areun.


"Hanya mengobrol biasa."


"Pasti membicarakan aku yang dijadikan kakek ahli waris, kan?"


"Ya itu juga. Karena kami terkejut dengan keputusan kakek yang seperti itu."


"Aku takut anggota keluarga lain jadi membenciku karena hal itu." Mereka sampai di dalam kamar. Jaemin membantu Areun berbaring dan duduk disisinya.


"Bila Kakek merubah surat itu, aku rasa mereka tidak akan membencimu."


"Apa kamu juga akan membenciku kalau kakek tidak merubah surat itu?" Areun bertanya karena penasaran.


Jaemin menarik napas panjang melihat ke langit-langit. "Aku tidak mungkin membencimu karena aku mencintaimu. Mungkin, aku hanya akan sangat marah dan tidak terima dengan keputusan kakek." Jaemin menatap Areun lekat-lekat.


"Aaa..iya..iya..aku mengerti perasaanmu. Memang tidak adil menerima keputusan kakek. Aku hanya menantu disini tidak seharusnya kakek memberikan aku hak yang lebih dari cucunya sendiri."


"Syukurlah kamu mengerti. Tetapi aku pun percaya kepadamu, kamu pasti akan mengembalikan hak aku."


"Tentu."


"Ayo kita tidur."


......***......


Esok paginya,


"Areun!" Jisung berlari mendekati Areun yang baru keluar dari kamarnya menuju ruang ruang makan.


"Pagi Jisung!" Sapa Areun.


"Pagi. Areun selamat ya sekarang kamu ahli waris utama di keluarga ini." Kata Jisung tersenyum bahagia.


"Bagiku siapapun yang menjadi ahli waris utama, aku tetap saja akan menerima jatah waris sesuai porsiku. Kecuali aku yang menjadi ahli waris utama, baru aku pasti sangat terkejut. Karena itu tidak mungkin." Jawab Jisung tertawa garing berjalan disebelah Areun.


Areun tersenyum kecil, "Kakek bisa menjadikan aku yang hanya menantunya menjadi pewaris, kenapa tidak dengan cucunya sendiri?"


"Dari garis keturunan saja aku berada diurutan kedua. Kalau kamu, Kakek kan sayang sekali padamu." Jawab Jisung.


Mereka memasuki ruang makan, disana sudah ada Bibi dan Ibu duduk dikursi masing-masing.


"Jisung!" Pekik Bibi pelan berlari menghampiri Jisung dan menariknya menjauhi Areun.


"Ngapain sih kamu dekat dengan gadis itu." Bisik Bibi membuat Jisung duduk dikursinya.


"Dia kakak iparku, Dia juga pewaris utama." Jawab Jisung lirih kepada Ibunya yang duduk disebelah.


"Tidak lagi, kakek akan merubah surat itu."


"Benarkah?" Jisung melotot terkejut.


"Warisan itu akan kembali kepada pemilik aslinya." Jawab Ibu tegas.


"Aku bahkan tidak menginginkan harta itu sepersen pun. Tidak seperti kalian yang begitu gila harta. Dari kecil aku terbiasa hidup apa adanya." Pikir Areun.


Kakek datang digandeng Jaemin.


"Pagi Ayah!" Sapa Ibu dan Bibi sambil berdiri. Jisung dan Areun pun berdiri.


"Silahkan duduk!" Suruh Kakek sambil duduk dikursinya dibantu oleh Jaemin.


"Apa yang kakek bicarakan?" Tanya Areun berbisik saat Jaemin sudah duduk dikursi sebelahnya.


"Dia hanya mengatakan agar aku bisa mencintaimu selamanya." Jawab Jaemin lirih tersenyum nakal.


"Yang benar?" Areun manyun mencubit pinggang Jaemin.


Bibi dan Ibu melihat mereka dengan sinis. Jisung melihatnya dengan merengut, Aku pikir kita istimewa. Kata Jisung didalam hati.


Ayah dan Paman datang bersamaan disusul Nora Nara dibelakang mereka.


"Kita mulai sarapannya." kata kakek dilayani pertama.


......****......


Areun berjalan menuju taman, di depan pintu kaca besar Dia melihat sebuah ember biru berisi air menghalangi jalannya. Karena dirasa aman dengan enteng dia mengangkat dan memindahkan ember itu kepinggir.


"Siapa yang menaruh ember disini?" Gumamnya.


"Haaah!" Bibi yang sedang memperhatikan Areun dari kejauhan menyadari sesuatu. "Bagaimana dia tahu disitu ada ember? Padahal dia belum menabrak ember itu. Ini mencurigakan." Gumamnya berpikir.


Di kamar Ibu...


"Apa kamu yakin?" Tanya Bibi dengan suaranya yang datar seperti biasa.


"Benar ka. Aku curiga dia sebenarnya bisa melihat."


"Untuk mengetahuinya kita harus menguji penglihatannya."


......***......