A Blinder

A Blinder
LANGIT SENJA



Brak..!!!


Jaemin melempar koper Areun di depan pintu kamarnya. Ibu dan Bibi keluar dari ruang keluarga dan mendekat untuk melihat apa yang terjadi. Kakek yang sedang berjalan di dekat tangga terkejut dan ikut mendekat.


"Pergi kamu! Aku tidak mau melihat penipu seperti mu." Jaemin mendorong Areun.


Kakek segera menghampiri Areun yang masih menangis sedari tadi.


"Jaemin, ada apa? Kenapa kamu mengusir Areun?" Tanya Kakek khawatir memegangi lengan Areun.


"Dia sudah menipu kita semua di rumah ini. Dia sebenarnya tidak buta." Jawab Jaemin melihat ke arah Ibu dan Bibi. Mereka terlihat terkejut mendengarnya.


"Rencanaku berhasil kali ini. Jaemin terpancing ucapanku." Bibi mengingat kejadian saat dia dan Ibu Jaemin berbicara. "Akhirnya rahasiamu terbongkar anak tengik!" Bibi tersenyum puas.


"Areun tidak bisa pergi dari rumah ini!" Seru Kakek. "Kakek bahkan belum mengganti surat wasiat itu, rumah ini milik Areun."


"Baik kalau begitu." Jaemin menjawab Kakek dengan angkuh. "Aku yang akan pergi dari rumah ini. Karena aku tidak bisa tinggal dengan penipu." Jaemin berjalan melewati Areun, dengan segera Areun menarik tangan Jaemin.


"Tidak jangan! Kamu tetap disini!" Kata Areun. Dengan kasar Jaemin melepaskan genggaman tangan Areun. "Biar aku yang pergi dari rumah ini." Areun menyeka air matanya dengan punggung tangannya.


"Kakek, biarkan aku pergi. Aku bersalah dan aku pantas mendapat ini." Areun menggenggam tangan kakek dan mencoba tersenyum.


"Ini bukan salahmu saja, kakek juga salah dengan melarangmu mengatakan yang sebenarnya."


"Tidak kakek. Kakek sudah cukup melindungiku selama ini. Tolong kakek, rubah segera surat wasiat itu dengan nama Jaemin. Aku mohon." Kata Areun mengakhiri kata-katanya lalu mengambil kopernya.


Areun berjalan keluar dari pintu utama. Kakek tidak kuasa menahan airmatanya, kakek pun menangis. Berbeda dengan Ibu dan Bibi yang sepertinya puas melihat adegan ini.


Diluar hari hampir senja. Areun berjalan dengan lemah ke arah gerbang kecil khusus untuk orang lewat. Tiba-tiba Jay berlari memasuki pintu gerbang itu.


"Areun!" Panggilnya. "Sudah aku duga!" Serunya melihat Areun membawa kopernya.


"Jay! Untuk apa kamu ke sini?" Tanya Areun parau.


"Ayo, Kita pulang dulu saja!" Ajaknya merangkul pundak Areun berjalan disebelah Areun dengan tangan satunya menarik koper Areun keluar dari gerbang dan menaiki mobil Jay yang terparkir didepannya.


Sepanjang perjalanan Areun hanya diam, menyandarkan kepalanya ke kursi sementara matanya memandang hampa keluar. Jay menghela napas, tetap menyetir mencoba mengerti Areun dengan tidak mengajaknya bicara.


"Aku ingin ke pantai." Ucap Areun tidak merubah posisinya.


"Baiklah, kita kepantai." Jawab Jay enteng merubah arah jalannya menuju pantai.


Akhirnya mereka sampai di pantai. Areun memandang jauh kesebrang lautan. Matahari hampir tenggelam memberi warna jingga dilangitnya. Dengan setia Jay menemani Areun disisinya.


Dalam pikiran Areun yang memikirkan Jaemin dan semua yang telah terjadi. Terlintas sebuah lagu bagian reference NCT 127 - Favorite.


Airmata Areun berjatuhan dari kedua matanya. Areun tidak kuat menahan pedih yang hatinya rasakan kini. Jay memeluk Areun didadanya.


"Menangislah Areun! Bila itu bisa membuat hatimu lega."


"Maaf kamu harus melihatku seperti ini." Kata Areun dalam tangis.


"Aku sudah sering menenangkanmu dalam tangis. Saat acara olahraga ketika kamu terjatuh, saat pertemuan orang tua, hanya ayah Kasi yang datang. Saat acara kelulusan. Dan seterusnya aku akan tetap ada untukmu Areun."


"Ini lebih menyakitkan dari itu semua. Aku berharap banyak dari pernikahan ini, karena aku begitu mencintai Jaemin. Ini adalah pertama kalinya aku mencintai orang dengan begitu dalam. Namun karena kesalahanku, kebodohanku, aku menghancurkan itu."


"Maaf, aku bukan menjelekkan suamimu. Tetapi seharusnya dia bisa menerima kesalahanmu, mungkin dia harus marah, tetapi jangan mengusirmu." Kata Jay bijaksana.


"Seorang suami harus bisa mendidik istrinya, bukan menghukum istrinya yang berbuat kesalahan." Sambung Jay saat mereka sudah duduk bertongkat lutut diatas pasir pantai, dan Areun sudah berhenti menangis.


Areun menaruh kepalanya dipundak Jay, dan matanya lurus kedepan memandangi lautan yang mulai gelap, Jay menoleh memandangi Areun.


"Mungkin ini tidak adil, bukan aku bersyukur atas keadaanmu, tetapi aku merasa senang bisa kembali sedekat ini dengan Areun."


...****...