
"Benarkah?" Kasi menganga, Ia terkejut dengan yang baru saja Areun ceritakan. "Wah, akhirnya terjawab tanpa perlu usaha mencari tahu. Pantas kamu terlihat sangat bahagia?"
"Iya dong aku bahagia. Cintaku bersambut."
Ting tong... bel berbunyi. Kasi membukakan pintu.
"Jay, masuklah!" Ucap Kasi tidak terkejut.
"Jay, kamu disini? Tidak kerja?" Areun terkejut melihat Jay sekarang.
"Aku izin karena aku ingin bertemu denganmu." Jawab Jay duduk di sofa di sebelah Areun.
"Aku sudah janji pada Jay, akan memberitahu dia kalau kamu datang ke sini. Aku ambil minum dulu."
"Tidak perlu kak, aku mau mengajak Areun makan diluar."
"Mengajak makan diluar? Kita ngobrol disini aja."
"Sudah lama aku tidak mengajakmu keluar. Ayo!"
"Nanti kami segera kembali Kasi." Mereka pun berangkat dengan mobil Jay.
Sesampainya di resto. Restoran bintang lima yang classy.
"Aku sudah memutuskan." Kata Jay ditengah makan.
"Memutuskan apa?" Tanya Areun bingung sambil mengunyah makanannya.
"Aku sudah tidak tahan terus menjalin hubungan dengan Dara sementara aku tidak pernah mencintainya."
"Apa?" Areun memekik kencang hingga orang-orang yang disana menoleh semua kearah mereka. "Kamu mau putus dari Dara?" Tanya Areun berbisik.
"Iya. aku bertahan pacaran dengan dia atas permintaanmu. Kalau bukan kamu yang memintaku, aku tidak mau berlama-lama dalam hubungan ini."
"Tapi kasihan Dara. Dia sudah nyaman dengan kamu."
"Bagaimana denganku? Apa aku tidak boleh menjalani kehidupan seperti yang aku mau? Tidak boleh meninggalkan sesuatu yang membuatku sesak?" Nada suara Jay sedikit meninggi dari biasanya.
"Betulkan dugaanku!" Seorang wanita mengenakan baju kerja berwarna merah maroon mendekati mereka. Berbicara dengan nada tingga memendam amarah bahkan hampir menangis. "Aku sudah yakin kalian akan bertemu. Wanita tidak tahu malu." Pekiknya menangis sambil menyiram Areun dengan air dari gelas yang ada di meja. Semua mata tertuju pada mereka.
"Apa-apaan kamu ini membuat malu." Ujar Jay kesal menarik tangan Dara keluar dari resto. Areun yang ikut malu ikut keluar setelah meninggalkan uang untuk bayar makanan di meja, dan berniat pulang sendiri. Namun dengan kasar Dara menariknya.
"Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja?" Teriaknya memarahi Areun. "Setelah merebut Jay dariku kamu akan pergi seperti pemenang."
"Aku tidak pernah merebut Jay dari kamu." Jawab Areun ikut kesal.
"Areun benar, dia tidak pernah merebut Aku yang mengambil keputusan itu sendiri. Seharusnya kamu berterimakasih kepada Areun, karena dia aku mempertahankan hubungan kita. Namun aku telah memutuskan hidupku sendiri. Aku tidak mau menjalani hubungan lagi denganmu, karena aku tidak pernah mencintaimu, Dara."
"Jay!" Areun menegur Jay.
"Dia perlu tahu kebenaran, Areun! Walau ini menyakitkan tapi inilah kenyataannya. Aku tidak pernah mencintaimu Dara. Aku minta maaf karena selama ini membohongimu."
"Jay, kamu jahat!" Dara menangis dan pergi dari sana.
"Apa yang bisa aku perbuat, dia yang memulai menyerangmu."
"Aku mau pulang."
"Ayo, aku antar."
Jay mengantar Areun sampai di rumah Kasi. Saat di depan pintu masuk apartemen, Jaemin yang sedang menunggu lift melihat mereka masuk bersama. Jaemin pun terbakar amarah.
"Areun!" Panggilnya membuat Areun terkejut sekaligus takut. Namun tidak dengan Jay yang bersiap untuk menyerang Jaemin bila diperlukan.
"Kamu disini?" Kata Areun.
"Aku ingin menjemputmu." Jawab Jaemin memandang sinis kepada Jay.
"Kalau begitu, ayo pamit dulu dengan Kasi." Kata Areun.
"Areun, titipkan salam kepada Kasi. Aku langsung pulang saja." Kata Jay pergi.
"Jangan sakiti Areun, kalau tidak...kamu akan berurusan denganku." Ucap Jay berbisik seraya bersalaman dengan Jaemin.
"Pria itu siapa? Kelihatannya dekat sekali denganmu?" Tanya Jaemin menggandeng Areun menuju lift.
"Dia Jay, kami bersama sejak masih sekolah dasar. Jadi kami sangat dekat." Mereka memasuki lift.
"Sepertinya dia menyukaimu?"
"Dia memang menyukaiku."
"Apa?" Jaemin marah.
"Tenang dulu, dari dulu dia menyukaiku. Tetapi aku tidak pernah menanggapinya karena dia sudah aku anggap saudara sendiri."
"Benarkah?"
"Kalau tidak benar untuk apa aku malah menikah denganmu?"
"Kamu hanya mencintaiku, kan?" Jaemin menggoda Areun. Pintu lift terbuka.
"Iya." Mereka keluar dari lift.
"Katakan!"
"Apasih?" Areun tersipu malu. Pintu apartemen Kasi terbuka dan Kasi keluar dari sana.
"Kasi!" Jaemin tersenyum malu.
"Aku jadi iri, sepertinya aku akan menelepon rio untuk cepet pulang. hahaha."
...***...