A Blinder

A Blinder
Keraguan Areun



Areun terus memikirkan kata-kata Bibi. Hal itu membuat Dia menjadi canggung dan kikuk saat bersama Jaemin. Dia bingung bagaimana harus bersikap.


"Areun! Kamu melamun?" Tanya Jaemin yang sedang membuka jas sambil memperhatikan Areun yang sedang duduk di tepi tempat tidur.


"Eu...tidak." Jawab Areun.


"Apa aku tanyakan saja, apa alasan dia menikah denganku? Tetapi itu terdengar terlalu frontal." Kata Areun frustasi.


Malam hari saat Areun tengah tertidur...


"Mana mungkin aku mencintai orang buta sepertimu." Kata Jaemin di dalam mimpi Areun. "Aku hanya memanfaatkan keadaan saja. Setelah tujuanku tercapai, aku akan membuangmu."


"Tidak...tidak..." Areun menggeleng sambil menangis. "Jangan tinggalkan aku! Jaemin! Aku mohon! Aku mohon!" Jaemin semakin menjauh darinya.


"Tidak!!!!" Teriak Areun sambil menangis dan terbangun dari tidurnya.


"Kamu kenapa Areun?" Tanya Jaemin menyalakan lampu diatas nakas sisi tempat tidurnya. Jaemin melihat khawatir kearah Areun yang masih menangis. " Ini minum dulu!" Jaemin mengambil air yang selau tersedia diatas nakas dan memberikannya kepada Areun.


"Kamu mimpi buruk, ya? Tanya Jaemin melihat Areun menyeka airmatanya. Areun hanya mengangguk.


"Tidak apa-apa itu hanya mimpi. sini kembali tidur." Jaemin menepuk-nepuk bantal Areun. Areun ngegelosor, berbaring kembali. Jaemin menaikan selimut sampai kedada Areun. "Tidurlah lagi, ini masih larut malam." Ucapnya begitu manis dengan tatapan lembut selalu berhasil membuat Areun luluh dan kembali terpesona.


"Kebaikannya ini standar baginya. Tidak ada yang istimewa antara kami." Areun menolehkan kepalanya memperhatikan Jaemin yang sudah berbaring di bantalnya dan telah memejamkan matanya.


...***...


"Beberapa malam ini Areun selalu terbangun karena bermimpi buruk. Aku jadi tidak bisa tidur dibuatnya." Kata Jaemin berbicara dengan Pak Hide di ruang kerjanya. Tanpa Dia sadari, Areun sedang mendengarkannya.


"Dia bahkan mengeluhkan hal itu kepada Pak Hide. Dia terganggu karena aku." Kata Areun di dalam hatinya. Berjalan dengan lunglai.


"Apa ada yang terjadi dengan nona?" Tanya Pak Hide.


"Aku juga tidak tahu. Tetapi akhir-akhir ini dia memang terlihat tidak seceria biasanya. Aku takut ada yang mengganggunya." Kata Jaemin.


"Apa ini ada hubungannya lagi dengan Nyonya Hae?"


"Mungkin."


"Baiklah. Aku akan kembali tidur. Kabari aku bila kamu mengetahui sesuatu."


"Baik, Tuan!"


...***...


"Areun!" Panggil Kakek saat sedang bermain catur dan Areun hanya diam disofa sebrangnya. "Apa ada masalah?" Tanya Kakek mengintip dari kacamata beningnya.


"Eu.." Areun yang sedang melamum terkejut. "Tidak kakek, tidak ada masalah." Jawab Areun berpura-pura.


"Kamu tidak bisa membohongi kakek. Wajahmu begini sebelumnya." Kakek menarik bibirnya membentuk senyum. "Dan sekarang kamu begini." Kakek menurunkan bibirnya untuk menrengut.


"Haha...apa aku seperti ini sekarang?" Areun mengikuti Kakek saat merengut.


"Iya. Ada apa? Cerita kepada Kakek."


"Kalau pun aku cerita dan bertanya pasti kakek tidak akan mengatakan yang sebenarnya."


"Aku hanya rindu dengan keponakan dan kakakku, Kakek." Jawab Areun berbohong. "Terasa sudah lama sekali aku tidak bertemu mereka."


"Kenapa kamu tidak kesana?"


"Apa boleh?" Tanya Areun ragu.


"Menantu hanya mengatakan untuk tidak setiap hari ke sana, tetapi tidak mengatakan kalau kamu tidak boleh ke sana. Pergilah sesekali."


"Baik Kakek. Apa aku bisa berangkat sekarang?"


"Tentu, minta supirmu mengantarmu."


"Baik kakek, terimakasih!" Areun berjalan kedalam rumah lalu berangkat naik mobil ke rumah Kasi.


...***...