
Malam hari di kediaman Jaemin....
Di kamar Jisung, Ayah sedang memarahi Jisung karena belum mau untuk bekerja.
"Ayah menyekolahkan kamu sampai ke Amerika karena Ayah pikir kamu bisa mengejar Jaemin atau mungkin bisa sama seperti dia. Tetapi kamu memang tidak berguna." Hardik Ayah Jisung memukul kepala anaknya dengan dokumen yang sedang dia pegang.
Areun mengintip dari pintu yang tidak tertutup rapat. Rasa iba muncul tiba-tiba dari dalam hatinya melihat Jisung yang hanya bisa tertunduk tidak berdaya.
"Kamu bahkan masih bersembunyi di rumah daripada harus pergi bekerja. Untuk apa kamu aku sekolahkan?"
"Aku takut! Aku takut tidak bisa menjadi seperti apa yang ayah harapkan." Suara lirihnya terdengar terisak.
"Kamu memang tidak bisa diandalkan." Ayah Jisung berjalan menuju pintu. Dengan cepat Areun pergi dari sana.
"Aku mengerti perasaanmu Jisung." Kata Areun di dalam hatinya. "Sulit berada dalam posisimu. Kamu terlalu ditekan dari atas namun disatu sisi kamu harus selalu mengalah. Tidak ada yang mencoba menguatkanmu mereka malah terus memojokkanmu, menjatuhkan mentalmu."
......***......
"Ini ada burger!" Seru Bibi datang dari luar.
"Ini burger sapi untuk kalian." Bibi memberikan burger sapi kepada satu anak kembarnya , Jisung dan juga kepada Areun. "Ini burger ayam untuk kamu."
"Aku tidak suka burger ayam Ibu." Jawab anak kembar bibi yang satunya.
"Kalau begitu. Ini." Bibi mengambil burger sapi dari tangan Jisung dan menukarnya dengan burger ayam.
"Aku juga ingin burger sapi ibu." Protes Jisung.
"Kamu harus mengalah kepada adikmu. Kamu tahu." Jisung merengut sedih.
"Aku tidak suka daging sapi, boleh aku menukarnya dengan burger ayam." Kata Areun.
"Kamu lebih suka ayam?" Tanya Bibi menukar burger milik Jisung dan Areun.
"Iya." Areun memakan burger ayamnya dengan lahap sambil tersenyum. Sementara Jisung hanya memperhatikan Areun yang mau mengalah demi dia. Akhirnya Jisung memakan burgernya sambil tersenyum bersama adik-adiknya.
Saat kakek sedang bermain catur.
"Kakek, tunggu ya! Aku punya lawan untuk kakek bermain catur."
"Benarkah?"
Areun keluar dari kamar Kakek. Dengan membohongi Jisung bahwa terjadi sesuatu kepada Kakek, Areun berhasil membawa Jisung ke kamar kakek.
"Ini dia lawan bermain kakek!" Seru Areun bahagia.
"Apa? Kamu membohongi aku?" Tanya Jisung bingung.
"Sudah duduk." Areun memaksa Jisung duduk bersebrangan dengan kakeknya.
"Akhirnya kakek punya teman main catur." Kata Kakek ikut senang merapihkan bidak caturnya.
"Wah kakek curang, aku kalah kalau begini terus." Keluh Jisung namun tersenyum. Kakek tertawa begitupun Areun sambil bertepuk tangan.
Jisung melihat Areun yang sedang tertawa lepas. "Gadis ini cantik saat tertawa. Dia seperti happy virus." Pikir Jisung di dalam hatinya hingga muncul getaran-getaran tidak biasa dihatinya. Wajahnya memerah ketika Dia menyadarinya
Pukul 21.30 di kediaman Jaemin.
"Dalam kegelapan itu sangat menakutkan." Kata Areun tiba-tiba dari belakang Jisung yang sedang melamun di taman.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Jisung kaget.
"Ada orang disini?" Tanya Areun pura-pura terkejut.
"Ini hantu." Kelakar Jisung kesal.
"Seperti suara Jisung." Kata Areun meraba dengan tangannya mencari sosok Jisung.
"Aku memang Jisung." Pekiknya memegang tangan Areun untuk menunjukkan dirinya ada.
"Sedang apa kamu disini?" Tanya Areun.
"Aku yang harus bertanya. Sedang apa kamu disini malam-malam?"
"Mencari udara segar. Sumpek didalam. Jaemin belum pulang kerja, kakek sudah tidur. Aku kesepian."
"Kalau ke taman malam-malam kamu jadi tidak kesepian gitu?"
"Tetap sepi, karena bagiku dalam keramaian pun aku akan tetap merasa sendiri. karena dalam pandanganku kosong." Kata Areun tertunduk sedih.
"Apa bedanya dengan orang yang didalam pandangannya ramai tetapi Dia tetap kesepian?" Tanya Jisung mengutarakan perasaannya.
"Bedanya, dia yang melihat keramaian itu hanya merasa sepi di hatinya. Tetapi bagi orang yang tidak bisa melihat, kesepian itu ada dalam pandangan dan hatinya." Jawab Areun. "Mereka sama-sama harus menghidupkan hati mereka agar kesepian itu bisa hilang."
"Menghidupkan hati?"
"Iya, kalau aku menghidupkan hati dengan mencari kawan yang bisa aku ajak bicara, bertukar pikiran, dan bercanda bersama. Seperti saat bersama Jaemin dan Kakek. Bila aku hanya melihat keberadaan Ibu, Ayah, Bibi dan Paman betapa hatiku akan menjadi sangat kosong."
"Apa aku bisa menghidupkan hati?" Tanya Jisung.
"Tentu bisa. Carilah orang yang bisa kamu percayai untuk bertukar pikiran, atau sekedar bercanda bersama." Jawab Areun tersenyum.
"Apa dirumah ini ada orang seperti itu untukku?"
"Pasti ada, tinggal kamu yang harus membuka hatimu, agar orang itu bisa masuk. Aku sudah memberi jalan agar kamu bisa dekat dengan kakek. Semoga itu bisa sedikit membantumu." Jawab Areun berjalan masuk ke rumah.
"Bagaimana denganmu? Apa kamu akan masuk ke dalam hatiku juga? Menghidupkan hatiku?" Kata Jisung dalam hati lalu tersenyum memikirkan Areun. "Apa-apaan aku ini. Dia istri kakakku. Tetaapiii, kakak menikahi dia bukan karena cinta. Apa aku boleh berharap?" Jisung menenggakkan kepalanya menatap jauh ke langit dimana bulan benderang disana.
......***......