
"Aku sudah berusaha membujuk Areun tetapi Areun tetap tidak mau." Kasi terlihat kesal.
"Aku sebenarnya kasihan pada Areun dan tidak ingin memaksa dia untuk kembali kepada Jaemin. Tetapi kita sama-sama tahu kekuasaan Jaemin itu besar. Dia bisa menekan orang dibawahnya untuk mendapatkan yang dia mau." Kata Rio gusar.
"Aku juga bingung sekarang, mengorbankan Areun atau pekerjaanmu."
"Jadi begitu!" Seru Areun tiba-tiba masuk kedalam rumah setelah mendengarkan percakapan Kasi dan Rio dari balik pintu.
"Areun!" Seru Kasi dan Rio panik
"Pantas kamu begitu membela Jaemin dan sangat menginginkan aku rujuk dengannya. Ternyata kalian di ancam."
"Maafkan kami Areun, kami terpaksa." Jawab Rio.
"Dan dengan teganya kamu tidak mengatakan yang sebenarnya kepadaku Kasi!"
"Apa yang bisa aku lakukan? Mereka mengancam akan memecat Rio kalau kamu sampai tahu tentang ini."
"Tidak akan yang dia pecat." Areun berjalan keluar dari apartemen dan menggedor pintu apartemen Jaemin dengan kasar.
"Ada apa kamu mengetuk keras sekali?" Tanya Jaemin setelah membuka pintu.
"Apa kamu tidak memiliki cara lain yang lebih jantan untuk bisa membuatku kembali? selain dengan mengancam orang lain?"
"Aku pernah mengatakan akan melakukan apapun asal bisa membuatmu kembali. Dan itulah salah satu caraku." Jawab Jaemin tegas.
"Berapa kali aku harus mengatakan kepadamu aku tidak akan kembali kepadamu? Jadi berhentilah mengancam Rio dan Kasi. Kalau sampai aku mendengar terjadi sesuatu kepada mereka aku tidak akan pernah memaafkanmu selamanya." Areun pergi masuk kembali ke apartemen Kasi.
Dengan marah Areun mengemas pakaiannya ke dalam koper.
"Kamu mau kemana?" Tanya Kasi.
"Aku sudah tidak nyaman tinggal di sini karena Jaemin. Dan akupun marah kepadamu yang menyembunyikan masalah itu dariku."
"Areun, aku mohon maafkanlah aku!"
"Aku memaafkanmu kak. Tetapi aku tidak bisa tinggal satu gedung dengan pria egois itu. Aku akan pergi saja dari sini." Areun menarik kopernya.
"Areun kamu mau kemana?" Berbarengan dengan Kasi mengejar Areun keluar apartemen.
"Areun!" Jaemin yang baru keluar dari apartemen nya segera menghampiri Areun dan ikut masuk kedalam lift.
"Kemana kamu mau pergi? Ini sudah malam." Tanya Jaemin.
"Bukan urusanmu!" keluar dari lift.
"Aku akan mengantarmu, bagaimana? jangan pergi sendiri." Kata Jaemin terus mengikuti Areun yang berjalan cepat.
"Taksi!" Areun memanggil taksi yang biasa mangkal di depan gedung apartemen.
Areun memasuki taksi dan menutup pintunya denga keras dihadapan Jaemin.
"Jalan, pak!"
"Taksi!" Panggil Jaemin.
Taksi datang dan berhenti dihadapan Jaemin.
"Kejar taksi itu pak!" Pinta Jaemin seraya masuk dan menutup pintu.
Taksi yang ditumpangi Areun berhenti di depan gedung apartemen Jay.
"Sudah aku duga dia pasti ke sana. Jalan pulang pak!"
Di dalam apartemen Jay.
"Aku sudah tanya pengelola gedung ini dan tidak ada ruangan kosong." Kata Jay.
"Berarti aku harus mencari apartemen lain."
"Untuk apa? Kamu bisa tinggal di sini kalau kamu mau."
"Aku takut merepotkanmu."
"Merepotkan apa, bukan masalah kok. Malah aku senang dan aku juga jadi bisa merawatmu dan kandunganmu."
"Terimakasih kalau begitu."
"Aku akan merapihkan kamar untukmu."
"Tidak usah, aku saja yang merapihkan."
"Jangan ibu hamil duduk-duduk saja di sini."
"Bertahun-tahun kita berteman namun kamu tidak pernah berubah." Kata Areun di dalam hatinya. "Dulu aku juga pernah sangat menyukaimu, karena kamu baik dan pastinya tampan. Namun saat tahu Dara menyukaimu aku memilih mundur. Meskipun awalnya sulit tetapi akhirnya aku bisa melupakan rasa sukaku padamu."