A Blinder

A Blinder
Surat Wasiat



"Kalian sudah berkumpul semua?" Tanya Pengacara Oh membuka pertemuan keluarga malam ini.


Jaemin dan Areun saling berpegengan tangan dalam duduk mereka yang begitu rapat. Mereka saling pandang dan tersenyum, berdebar menantikan pembacaan surat warisan oleh Pengacara Oh. Kakek memperhatikan mereka sambil tersenyum bahagia.


"Baiklah. Saya sebagai wakil Tuan besar akan membacakan surat keputusan Tuan besar tentang hak ahli waris. Dengan ini yang bertanda tangan di bawah ini Nama : Tuan Jang Wo Yoen, selaku pemilik sah atas harta kekayaan yang berupa rumah utama..." Pengacara Oh membacakan semua yang tertulis dalam surat warisan hingga sampai pada putusan, "Berdasarkan Surat wasiat ini maka dengan ini saya memberikan semua hak dan kekuasaan yang sah kepada Nona Cha Areun Istri dari Tuan Jang Jaemin yang juga merupakan Cucu menantu dari Tuan Jang Wo Yoen. Dengan surat kuasa ini..." Belum selesai Pengacara Oh membacakan surat warisannya, suara ricuh dari masing-masing anggota keluarga terdengar terkejut.


"Areun?" Pekik semua.


"Aku?" Areun yang ikut terkejut menunjuk dirinya sendiri tidak percaya. Jaemin yang terkejut memandang istrinya dengan melotot.


"Surat ini dibuat dalam keadaan sadar dan sehat dan tanpa paksaan dari pihak manapun." Pengacara Oh mengakhiri pembaca surat warisan.


"Kakek..Kakek...aku menolak untuk menjadi ahli waris. Tolong rubah surat itu kakek." Kata Areun gemetaran panik.


Jaemin berdiri kasar, Areun memegang tangan Jaemin untuk menahan Jaemin. "Jaemin...Jaemin..!" Jaemin melepaskan tangan Areun dan berjalan pergi. Areun bergegas menyusulnya dengan berjalan agak cepat namun dengan tetap meraba-raba udara, berpura-pura buta.


"Apa-apaan ini kakek? Kenapa orang asing yang mendapatkan hak waris?" Protes Ayah Jaemin tidak percaya.


"Dia menantu keluarga ini bukan orang asing." Jawab Kakek tegas.


"Tetapi jelas Jaemin atau Jisung yang lebih berhak untuk itu." Timpal Ibu Jaemin. "Kenapa wanita buta itu?" Hina Ibu Jaemin.


"Itu semua demi kebaikan kita. Kakek pun lebih percaya kepada gadis itu."


"Apa yang bisa dilakukan gadis buta itu? Dia tidak akan bisa mengurus perusahaan." Sambung Paman dongkol.


"Dia memiliki suami yang handal dalam pengelolaan perusahaan, adik iparnya pun ada. Sudah cukup. Keputusan sudah kakek buat, setuju atau tidak terserah kalian."


Areun mengikuti langkah Jaemin yang menuju ke taman. Jaemin menghela napas panjang, menarik dasinya turun untuk mengendurkannya.


"Jaemin! Kamu disini, kan!" Panggil Areun pura-pura walau dia tahu Jaemin ada di depannya.


"Aku sama sekali tidak senang dengan ini. Kita sama-sama mempersiapkan diri untuk mendengar namamu disana."


"Tetapi kakek lebih memilihmu."


"Aku bahkan tidak tahu kalau kakek menyantumkan namaku. Kalau aku tahu aku pasti akan melarang kakek."


"Bagaimanapun caranya aku akan mengalihkan kekuasaan itu kepadamu. kamu tenang saja ya!" Areun meraba wajah Jaemin.


"Areun, Jaemin!" Kakek menghampiri Areun dan Jaemin.


"Kakek."


"Kakek sengaja menaruh nama Areun bukan kamu karena kakek ingin mengamankan posisi Areun di rumah ini." Kata Kakek menjelaskan seraya berjalan menghampiri bangku taman lalu duduk disana memegang tongkat berjalannya.


"Kakek tahu kamu menikahi Areun tanpa cinta, kakek tidak mau sewaktu-waktu kamu menceriakan dia dan mengusir dia dari rumah ini. Karena bagi kakek Areun adalah cahaya bagi rumah ini." Kata Kakek berkaca-kaca melihat ke arah Areun.


"Jaemin mencintaiku, kek. Kakek tidak perlu khawatir. Aku mohon demi aku rubah ahli waris utama itu menjadi Jaemin, kakek!" Areun memohon dan membuat kakek menjadi iba.


"Baiklah Areun bila itu maumu, kakek akan merubah surat ahli waris itu." Jawab Kakek lalu berdiri dan meninggalkan Jaemin dan Areun.


"Kau dengarkan? Kakek akan merubah surat wasiatnya dengan namamu." Kata Areun.


"Maafkan aku ya Areun, aku terlalu emosi jadi marah kepadamu."


"Tidak apa-apa Jaemin, aku mengerti kok. Kamu tidak salah." Kata Areun.


"Ya sudah. sudah malam, ayo kita masuk ke dalam!" Jaemin menggandeng tangan Areun.


...***...