
Esok Paginya. Jaemin sedang memakai dasi sendiri di kamarnya, dan Areun duduk di tepi tempat tidur.
"Aku sudah mencarikan kamu dokter mata terbaik di negara ini agar bisa menyembuhkanmu." Kata Jaemin membuat Areun terkejut sekaligus takut rahasianya akan terbongkar.
"Kalau tidak bisa di dalam negeri, kita akan pergi ke luar negeri agar kamu bisa mendapatkan perawatan yang terbaik."
"Eu..i-itu tidak perlu Jaemin. Itu akan menghabiskan biaya dan waktumu. Dengan seperti ini saja aku sudah bahagia."
"Tidak perlu khawatir soal itu."
"Kenapa harus memaksa Areun berobat bila dia tidak mau." Tiba-tiba Kakek dengan dibantu asisten pribadinya memasuki kamar yang pintunya tidak ditutup itu.
"Kakek." Sapa Jaemin dan Areun berbarengan. Areun bangun dari tempat tidurnya.
"Aku hanya ingin terbaik untuk Areun, Kakek."
"Kalau Areun berpikir pengobatannya bukan yang terbaik untuknya? Kecuali kamu yang tidak suka dengan keadaan Areun yang sekarang."
"Aku menyukai dia apa adanya, kek."
"Kalau begitu, lupakan pengobatan dia. Nanti Kakek yang akan mengurus pengobatannya, bila Areun sudah mau." Jawab Kakek kemudian pergi ke kamarnya.
"Berkat Kakek aku selamat!" Areun bernapas lega.
Setelah Jaemin berangkat ke kantor, Areun pergi ke kamar Kakek seperti biasa.
"Kamu pasti takut kan saat Jaemin bilang ingin mengobatimu?" Tanya Kakek merapihkan bidak caturnya di papan. Areun bingung darimana Kakek tahu saat itu dia takut.
"Takut kenapa Kakek?" Tanya Areun berpura-pura.
"Takut kalau rahasiamu akan terbongkar." Jawab kakek menatap Areun.
"Kakek tahu?" Areun mulai berani menatap balik mata kakek.
"Kakek tahu semua yang ada di rumah ini." Jawab kakek membanggakan diri.
"Bagaimana kakek bisa tahu? Apa kaki tangan kakek yang memberitahu kakek?"
"Tidak, untuk yang ini kakek bisa tahu sendiri. Ketika kakek sedang bermain catur, meskipun kakek fokus dengan bidak catur, kakek memperhatikan bola matamu mengikuti pergerakan bidak catur Kakek."
"Kamu pikir kakek tidak memperhatikanmu, kan?"
"Sejak kapan kakek tahu?"
"Belum lama."
"Dan kakek tidak marah, tau aku membohongi keluarga ini?"
"Untuk apa kakek marah. Kakek lebih senang kamu tetap ada di rumah ini. Jadi kakek memiliki teman bicara." Kakek memelas. "Kondisi kesehatan kakek semakin membaik saat kamu datang ke rumah ini. Sebelumnya kakek sudah putus asa, kakek kesepian. Di rumah ini banyak anggota keluarga kakek, tetapi kakek lebih sering sendiri. Mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri. Mereka berbicara dengan kakek seperlunya saja."
"Kalau Jaemin benar mengobatimu dan kamu berhenti berpura-pura tidak bisa melihat, kakek pasti akan ditinggal sendiri lagi."
"Oh, kakek." Areun menggenggam tangan kakek. "Kalaupun aku bisa melihat dan tidak ada yang menyuruhku untuk bekerja, aku pasti akan disini menemani kakek bermain catur."
"Benarkah? Nanti kamu akan cepat merasa bosan."
"Tidak kakek. Aku akan tetap Areun yang betah menemani kakek. Terimakasih ya Kek. Sudah begitu mempercayai aku."
"Kakek yang berterimakasih kepadamu sudah menjadi cucu dan menemani kakek selama ini. Kakek tidak yakin kakek akan bahagia bila Jaemin lebih memilih menikah dengan pilihan Ibunya itu."
"Apa kakek mengenal perempuan itu?"
"Yang kakek tahu dia adalah putri dari rekan bisnis ayahnya Jaemin."
"Katanya itu mantan pacar Jaemin."
"Mungkin, kakek tidak tahu sampai sejauh itu. Kamu tidak perlu khawatir di rumah ini. Kakek yang akan terus mendukung dan membelamu."
"Aku senang sekali mendengarnya kakek."
"Kakek pun memiliki kejutan untukmu nanti."
"Apa itu?"
"Kita lihat saja nanti."
...***...