
Pagi hari pun tiba. Areun membuka matanya dan mendapati dirinya tidur dipeluk Jaemin dari belakang. Tangan kecil namun berotot Jaemin memeluknya begitu erat. Tubuh mereka hingga ke dada hanya ditutupi selimut putih.
Areun tersipu malu, Dia tidak pernah menyangka bahwa malam itu akan tiba, malam saat mereka berbagi cinta. Dan yang lebih membahagiakan Areun sekarang tahu bahwa suaminya ternyata mencinta dirinya.
Tok...tok... pintu kamar terketuk. Areun bergerak untuk melepaskan pelukan Jaemin namun Jaemin yang baru terbangun tidak membiarkannya. Ia semakin mengeratkan pelukannya.
"Ada orang diluar." Kata Areun berbisik.
"Biarkan saja. Aku masih ingin memelukmu." Jawab Jaemin masih memejamkan matanya yang mengantuk.
"Nanti mereka curiga kita belum keluar kamar."
"Curiga apa? Kita ini suami istri di dalam kamar kita sendiri."
"Ini sudah siang, kamu kan harus ke kantor?"
"Shhhh!" Jaemin menarik pundak Areun membuatnya saling berhadapan sekarang. "Aku masih ingin bersamamu. biarkan. yang lain bisa menunggu." Jaemin memeluk Areun lagi.
"Maaf, ya?" Areun bernada menyesal.
"Maaf kenapa? Aku dan Kasi sudah mengira kamu hombre."
"Apa? Kamu bergunjing tentang aku dengan Kasi?"
"Iya, habis aku penasaran kenapa kamu tidak pernah menyentuhku dari awal menikah."
"Sekarang kamu sudah tahukan aku normal. Apa perlu aku buktikan lagi." Jaemin menyentuh leher Areun dengan bibirnya.
"Sudah..sudah tidak perlu. Aku percaya. terus kita mau sampai kapan begini?"
"Sampai besok. hahaha."
"Nakal, kamu ini!" Areun tertawa bersama Jaemin. Jaemin menutupi kepala mereka dengan selimut.
Jam menunjukkan pukul 11 siang, Areun Jaemin yang terlalu lelah setelah bercinta untuk kedua kalinya masih tertidur. Areun membuka matanya perlahan kepalanya melihat ke jam dinding bulat berwarna putih menempel didinding atas pintu kaca besar.
"Ya Tuhan! Jam berapa ini?" Katanya terkejut. menggerakkan tangan Jaemin yang memeluknya hingga ikut terbangun.
"Hoam!" Jaemin menguap, terduduk dengan malas.
"Kita harus bangun, Ibu pasti memarahi aku." Ucap Areun gusar duduk menutupi dadanya dengan selimut.
"Ya sudah, ayo kita mandi." Jaemin mengangkat Areun, menggendongnya ke kamar mandi.
"Kamu mau ngapain lagi?"
"Mandi bareng, biar cepat."
Selesai mandi mereka berpakaian, Jaemin yang memilihkan baju untuk Areun pakai. Kali ini mereka tidak malu-malu lagi untuk berpakaian terlihat satu sama lain.
"Siang semua!" Jaemin menyapa dengan tersenyum cerah. Jaemin menarik kursi yang biasa Areun duduki.
"Bagus sekali menantu zaman sekarang. Baru bangun di waktu makan siang." Omel Ibu menatap sinis kepada Areun. "Ibu sudah bilang kan untuk mengawasi di dapur."
"Maaf Ibu."
"Kenapa Ibu memarahi Areun, aku yang memintanya tetap di kamar untuk nemenin aku. Aku sedang tidak enak badan, jadi dia merawatku." Jawab Jaemin menggenggam tangan Areun yang terkepal di atas meja makan.
"Kamu sakit, sayang?" Tanya Ibu khawatir memegang kening Jaemin.
"Sekarang sudah baikan, berkat suster ini yang merawatku semalaman." Jaemin menoleh untuk menggoda Areun. Areun tertunduk, tersipu malu.
Selesai makan siang, Kakek kembali ke kamar di temani asistennya Tuan Nakano. Tidak lama Pak Hide datang.
"Selamat siang Tuan, Nyonya." Sapanya dengan hormat.
"Pak Hide, aku baru selesai makan siang." Kata Jaemin tersenyum lembut kepada Pak Hide.
Sepertinya suasana hati tuan sedang bagus. Pikir Pak Hide.
"Jam satu ini kita akan ada pertemuan dengan Perusahan Sung hon."
"Jisung ada di kantor, kan?" Tanya Jaemin.
"Ada tuan."
"Kalau begitu minta dia untuk menggantikan aku."
"Tetapi Tuan, ini rapat penting."
"Jisung pasti bisa melakukannya sebaik aku. Dia orang yang pintar, benarkan Areun?" Tanya Jaemin menatap Areun.
"Iya betul." Jawab Areun setuju.
Bibi merasa senang mendengarnya, namun tidak dengan Ibu Jaemin.
"Gadis ini bawa pengaruh baik untuk anakku. Pikir Bibi senyum-senyum."
"Gadis ini sepertinya sudah mempengaruhi Jaemin agar Jisung bisa mengambil alih posisi Jaemin. Tidak akan aku biarkan." Pikir Bibi menoleh ke arah Areun kemudian kepada Bibi yang sedang senyum-senyum. Bibi langsung mingkem.
"Baik Tuan. Tuan tidak akan ke kantor hari ini?"
"Tidak, aku ingin istirahat dulu di rumah."
"Baiklah Tuan, saya permisi. Nyonya, Nona."
...****...