A Blinder

A Blinder
Galau



"Bagaimana Areun? Sudah menemukan petunjuk kenapa Jaemin menikahimu?" Tiba-tiba Bibi datang saat Areun berjalan ke taman.


"Itu tidak penting lagi Bibi." Jawab Areun santai.


"Loh kenapa?"


"Apapun alasan dia menikahiku sekarang aku sudah menjadi istrinya dan sudah menjadi bagian dari keluarga ini."


"Ckckck...sampai kapan? Hanya sementara Areun. Ketika waktunya tiba kamu akan ditendang keluar dari rumah ini." Kata Bibi menyeringai. Areun menelan ludah sedikit gentar.


"Heuuh." Areun menghela napas panjang.


"Sebelum itu terjadi bukankah sebaiknya kamu meninggalkan rumah ini? Pasti rasanya tidak enak bila kamu pergi dengan cara diusir." Kata Bibi memegang kedua pundak Areun dari belakang. "Tidak ada yang bisa kamu harapkan lagi dirumah ini. Jaemin tidak mencintaimu dia hanya memanfaatkanmu." Bibi beranjak pergi meninggalkan Areun dalam ketakutan.


"Areun!" Suara Jisung mendekat. "Areun, aku bekerja hari ini. Woah...ini menyenangkan. Tidak semenakutkan yang aku pikirkan." Cerita Jisung semangat.


"Benarkah Jisung. Aku senang mendengarnya." Jawab Areun tersenyum antusias.


"Ada apa? Senyummu sedikit aneh?"


"Tidak ada apa-apa Jisung. Aku hanya lapar, ingin makan malam." Jawab Areun berputar arah, berjalan menuju ruang makan.


"Anakku!" Suara Bibi mengejutkan Jisung. "Sepertinya kamu mulai terlihat akrab sekarang dengan gadis itu?" Tanyanya menghampiri Jisung.


"Eum...I-ya Ibu." Jawab Jisung gugup memegang tengkuknya. "Dia membantuku untuk berani mulai bekerja." Jawab Jisung.


"Lalu siapa yang akan membantu Ibu sekarang untuk mengusir gadis itu dari rumah ini?"


"Aku rasa dia tidak akan keluar dari rumah ini." Jawab Jisung sumringah.


"Dia akan keluar. Ibu akan memisahkan dia dengan kakakmu, lalu kakakmu akan mengusir dia dari rumah ini."


"Bila itu terjadi aku yang akan membawa Areun kembali ke rumah ini."


"Maksudmu?" Bibi merasa bingung dan aneh. Ia menatap tajam kepada Jisung penuh tanda tanya.


"Bila dia berpisah dengan Kak Jaemin, maka aku akan menikahi Areun." Jawab Jisung sumringah membayangkannya.


"Apa?" Pekik Bibi begitu terkejut.


"Tunggu, aku tidak akan membawanya ke rumah ini. Aku sudah bekerja sekarang, aku akan sewa apartemen dari gajiku. Aku rasa Areun tidak akan masalah tinggal di apartemen."


"Jangan gila kamu Jisung. Ibu tidak akan pernah menyetujuinya."


"Karena itu aku akan mengajak dia tinggal di apartemen, jauh dari Ibu yang mengganggu Areun. Kalau Ibu berhasil memisahkan mereka, Ibu telah memberikan jalan kepadaku untuk bisa memiliki Areun. Terimakasih Ibu!" Kata Jisung menggenggam tangan Ibunya, mencium pipinya lalu berlari menaiki tangga dengan senang.


"Jisung!" Teriak Bibi kesal.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Membuat Areun pergi, Jisung akan menikah dengannya. Biarkan saja dia disini asalkan dia tidak akan menikah dengan anakku. Tujuanku hanyalah mencoret Jaemin dari ahli waris utama, aku tidak peduli dengan istrinya."


......***......


"Baiklah kalau begitu, meskipun berat dan menyedihkan aku akan pergi dari rumah ini. Tapi sebelum itu aku harus tau alasan apa yang membuat Jaemin memilih menikah denganku" Areun menguatkan dirinya walau dihatinya dia merasa sangat sedih dan hancur.


...***...


"Jisung!" Areun memasuki kamar Jisung yang terbuka. Jisung sedang berbaring tertelungkup diatas kasurnya sambil membaca majalah.


"Areun? Ada apa?" Tanya Jisung duduk. "Duduklah sini!" Dia memegang tangan Areun dan membantunya duduk ditepi tempat tidur.


"Aku rasa sekarang kita mulai akrab." Kata Areun bergetar memulai pembicaraan.


"Iya, lalu?" Dengan nada lambat Jisung bertanya.


"Aku ingin kamu memberitahuku satu hal."


"Memberitahu apa?"


"Perasaanku padamu? Aku menyukaimu Areun." Kata Jisung di dalam hatinya sambil tertunduk dan senyum-senyum.


"Alasan kenapa Jaemin mau menikah denganku?" Jisung terkejut.


"I..itu ya. Kalau itu aku juga tidak tahu." Jisung tergagap menjawabnya.


"Kata Ibumu semua anggota keluarga di rumah ini tau alasannya. Pasti kamu juga tau."


"Mungkin maksud Ibuku, anggota keluarga yang tua. Kakek, Paman, Bibi, Ayah, Ibu. Kalau aku tidak tahu."


"Jangan bohong Jisung. Aku sangat ingin tahu."


"Iya beneran aku tidak tahu."


"Maafkan aku Areun, aku berbohong kepadamu." Jisung menyesal didalam hatinya.


"Ya sudah deh kalau begitu."


"Kenapa kamu tidak tanya dia langsung?"


"Dia pasti berbohong seperti sebelumnya. Dia hanya akan mengatakan karena aku menyukai kamu. Tapi apa mungkin kalau dia menyukai aku?"


"Aku tidak bisa membaca hati orang Areun. Jadi aku tidak tahu soal itu."


Jaemin yang baru pulang bekerja mencari Areun dan melihat dari kejauhan bahwa istrinya sedang berbincang di tempat tidur dengan adik sepupunya. Hatinya mulai terasa panas, lebih dari sebelumnya. Dengan kesal dan marah Ia berbalik arah menuruni tangga dan pergi ke kamarnya.


......***......