A Blinder

A Blinder
Cemburu



Areun sedang membaca ditepi tempat tidurnya ketika Jisung lewat di depan pintu kamarnya yang terbuka.


Tok...tok...


Pintu terketuk, Areun menoleh meski tidak menatap sosok itu.


"Masuk!" Suruh Areun.


"Areun, sedang apa?" Tanya Jisung mendekat.


"Oh Jisung. Sedang membaca." Jawab Areun.


"Membaca? Oh huruf braille." Kata Jisung mengambil buku dari tangan Areun.


"Ada apa? Tumben menemui aku?"


"Begini aku ingin meminta pendapatmu." Jisung terdengar parau. "Aku sebenarnya ingin bekerja, Tetapi ada perasaan takut dalam diriku. Aku takut tidak bisa seperti apa yang Ayahku harapkan. Dan takut mengecewakan Kak Jaemin dengan kinerja kerjaku."


"Oh soal itu. Kalau menurutku begini. Ketika Ayahmu mengatakan ingin kamu begini begitu, jangan jadikan itu beban dalam dirimu, tetapi dalam pikiranmu harus berkata, Ayahku mengatakan itu karena Ia percaya bahwa aku bisa menjadi seperti itu. Ketika kamu percaya pada Ayahmu dan dirimu sendiri maka tidak akan ada beban dalam dirimu dan dengan kepercayaan dirimu kamu dengan mudah melewati dan menggapai apa yang kamu inginkan. Rubah dulu mindsetmu."


"Menjadikan harapan itu sebagai kepercayaan. Betul itu membantuku sekarang." Jawab Jisung tersenyum bahagia. "Terimakasih, ya. Kamu bisa merubah pikiranku dalam sekejap." Kata Jisung menggenggam tangan Areun. Mereka tersenyum bahagia.


Kebetulan Jaemin yang datang kembali setelah berangkat kerja untuk mengambil berkas, melihat mereka berduan dikamar. Namun karena Ia terburu-buru harus kembali ke kantor Ia langsung berangkat lagi.


Esok Paginya, Areun keluar dari kamar kakek.


"Areun!" Panggil Jisung dari depan pintu kamarnya. Areun menoleh namun tidak menatap Jisung langsung seraya tersenyum. "Areun bisa bantu aku?" Tanya Jisung. Areun berjalan menghampiri Jisung.


"Bantu apa?" Tanyanya.


Jisung menggenggam tangan Areun dan membawanya masuk ke kamar.


"Pilihkan aku baju," Jisung mendudukan Areun ditepi tempat tidur lalu mengambil kemeja dari lemarinya.


"Bagaimana caranya? Aku tidak bisa melihat."


"Karena ini hari pertamamu aku pikir warna biru cocok. bisa menaikan moodmu."


"Oh begitu."


"Areun!" Panggil Jaemin menaiki tangga mencari Areun. Dia sampai di pintu Jisung dan mendengar percakapan mereka.


"Dia memilihkan warna baju untuk Jisung. Aku suaminya saja tidak pernah Dia pilihkan." Gumam Jaemin gusar.


"Areun!" Panggil Jaemin lagi memasuki kamar Jisung. "Aku mencarimu dari tadi." Kata Jaemin memegang tangan Areun dan membantunya berdiri.


"Aku dari kamar kakek tadi menemani kakek sarapan. Kakek tidak enak badan jadi kakek tidak bisa ikut sarapan di bawah. Lalu Jisung meminta bantuanku."


"Ya sudah, ayo kita sarapan. Aku harus segera ke kantor." Kata Jaemin menggandeng tangan Areun. "Jisung kamu kekantor hari ini?" Tanyanya sebelum keluar dari kamar.


"Iya kak." Jawab Jisung tersenyum lebar sementara jantungnya berdegup kencang untuk pengalaman pertamanya ini.


"Baguslah. Kamu ingin bareng denganku?"


"Tidak aku berangkat sendiri saja."


"Baiklah."


"Tolong bantu Jisung di kantor ya. Ini pertama kali untuk dia, pasti dia sangat gugup."


"Iya Areun, aku mengerti. By the way kamu jadi perhatian dengan Jisung?" Tanya Jaemin membantu Areun menuruni tangga.


"Dia adikmu yang kamu sayang kan. Aku istrimu berarti dia adikku juga "


"Tetapi dia pernah berbuat jahat padamu."


"Aku tau dia sebenarnya tidak jahat. Dia hanya dimanfaatkan Ibunya saja."


"Mengapa aku merasa kesal mendengarmu selalu membelanya?" Pikir Jaemin memandangi wajah Areun . "Aku merasa kamu menyayanginya lebih dari seorang kakak menyayanginya adiknya."