
Saat Jaemin sedang mengambil sisa baju Areun yang masih ada di koper tanpa sengaja Ia menemukan sebuah handphone.
"Areun apa ini handphonemu?" Tanya Jaemin keluar dari ruang pakaian.
"Dikoperku?"
"Iya."
"Iya itu milikku."
"Kenapa tidak kamu gunakan?"
"Untuk apa? Aku lebih banyak di rumah. Di rumah ini pun ada telepon." Jawab Areun.
"Untuk apa? Aku tidak bisa menggunakannya dengan bebas." Jawab hati Areun.
Jaemin memencet tombol power lama sambil kembali ke ruang pakaian hendak menaruh handphone Areun kedalam koper lagi. Saat itu handphone menyala, dan banyak notifikasi pesan masuk terutama dari Jay. Dia yang penasaran pun membuka pesan tersebut.
"Apa orang yang tidak bisa melihat bisa membalas pesan dengan teks? Apa Kasi yang membalaskannya?" Pikirnya lalu memasukan handphone Areun ke dalam koper.
Sementara itu di dekat ruang keluarga,
"Aku tidak akan mengikuti ide gila-mu lagi!" Kata Ibu dengan tegas namun dengan suara yang lirih.
"Dengar, aku masih yakin kalau dia itu bisa melihat." Kata Bibi dengan yakin.
"Lalu kenapa saat dia sakit kamu berbaik-baik kepadanya. Kamu juga merasa bersalah,kan?
"Iya, untuk cidera dia aku sangat menyesal. Tetapi penyelidikanku akan tetap berlanjut."
"Terserah kamu saja. Yang penting jangan bawa-bawa aku jika kamu bermasalah nanti."
"Tenang saja, aku akan menanggungnya sendiri. Lihat saja kamu akan berterimakasih kepadaku diakhir nanti." Dengan perasaan kesal Ibu pergi meninggalkan bibi yang terus mengoceh.
Tanpa mereka sadari Jaemin mendengarkan pembicaraan mereka secara sembunyi.
"Areun bisa melihat?" Gumam Jaemin lirih.
Hati Jaemin tergelitik untuk mencari tahu kebenarannya. Dia bergegas ke rumah sakit tempat Areun dirawat saat jatuh dari tangga.
"Dari hasil pemeriksaan secara keseluruhan semua normal dan baik begitupula dengan matanya. Namun untuk lebih pastinya kita bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada mata nona Areun."
"Oh, baiklah kalau begitu. Saya akan datang lain waktu bersama Areun. Terimakasih atas bantuannya Dokter Gyu."
"Terimakasih kembali Tuan Jaemin." Mereka berjabat tangan dan Jaemin pergi ke tempat tujuan selanjutnya.
Jaemin pergi ke kantor dimana Areun bekerja. Sesuai info yang dia dapat saat kencan buta.
"Tuan Jaemin!" Sapa Ceo yeon sok berjabat tangan dengan Jaemin. Jaemin bisa menatap sosok yang paling dia benci - Jay - sedang menatapnya sinis dari meja kerjanya. "Ini suatu kehormatan anda berkunjung ke sini." Katanya membawa Jaemin memasuki ruang kerjanya.
"Untuk apa dia datang ke kantor ini?" Tanya Jay bingung karena yang dia tahu perusahaan mereka tidak pernah menjalin kerja sama.
"Halo?.." Jay menelepon menggunakan telepon kantor ke nomor telepon rumah Jaemin. "Areun." Katanya ketika tahu Areun sendiri yang mengangkat telepon itu.
"Jay?" Areun terkejut Jay meneleponnya. "Ada apa?"
"Jaemin ada di kantor sekarang." Kata Jay memberitahu.
"Yang aku tahu sih tidak ada kerja sama apa pun. Makanya aku memberitahumu. Ini terasa janggal bukan?"
"Mungkin Jaemin berteman dengan bos atau mereka rekan bisnis lain. Entahlah."
"Ya sudahlah. Bagaimana tanganmu? Sudah sembuh?"
"Gipsnya sudah dibuka tetapi aku belum boleh banyak menggerakkan tanganku."
"Ada keperluan apa Tuan Jaemin datang ke sini?" Tanya Ceo tersenyum begitu ramah.
"Aku memerlukan bantuan Tuan Yoen sok. Apa disini ada karyawan bernama Cha Areuna?"
"Oh Areun. Dia pekerja yang penuh semangat. Tetapi dia sudah resign dari beberapa bulan yang lalu."
"Kenapa dia resign?"
"Dia tidak menyebutkan alasannya. Tetapi saya pikir mungkin karena dia sudah menikah."
"Ada yang ingin aku ketahui tentang dia, apa Areun tidak bisa melihat?" Tanya Jaemin.
"Areun tidak bisa melihat? Areun bisa melihat, bahkan sampai saat terakhir kali di kantor ini dia bisa melihat."
"Atau mungkin setelah resign dia mengalami kebutaan? Tanggal berapa terakhir dia kantor?"
"16 Februari."
"Kami menikah tanggal 28 Januari. Berarti setelah menikah dia masih bisa melihat."
"Sebentar saya akan panggilkan temannya." Ceo menekan tombol telepon. "Yuna bisa tolong ke sini sebentar!"
Tidak lama Yuna memasuki ruang kerja.
"Iya Pak!" Jawab Yuna.
"Sebelum Areun resign apa dia tidak bisa melihat?" Tanya Ceo.
"Areun tidak bisa melihat? Saat terakhir ke sini dia bisa melihat, pak." Jawab Yuna.
"Begitu, ya."
"Sebenarnya ada apa ya pak? Kenapa bapak menanyakan tentang Areun yang bisa melihat atau tidak?"
"Ah...bukan apa-apa. Kalau begitu terimakasih atas bantuannya Tuan Yoen sok. Saya permisi dulu." Jaemin menjabat tangan Ceo Yoen sok. "Tolong jangan beritahu siapapun kalau saya menanyakan hal ini."
"Tenang saja Tuan kami tidak akan beritahu siapapun. Iya kan, yuna?"
"Benar Tuan."
"Kapan kamu akan ke rumah Kasi lagi? Aku ingin bertemu denganmu."
"Belum tahu. Nanti aku kabari kalau aku mau main."
"Oke. Dia keluar dari ruangan bos. Aku tutup teleponnya dulu, ya."
...***...