A Blinder

A Blinder
My Baby



Di mobil Jay...


"Terus sekarang bagaimana?" Tanya Jay kepada Areun yang sedang senyum-senyum sendiri melihat foto hasil usg.


"Bagaimana apa?" Tanya Areun bingung.


"Apa kamu akan mengatakan kepada Jaemin tentang kehamilanmu ini?"


"Tidak. Untuk apa? Aku bisa mengurus anak ini sendiri."


"Kamu selalu melupakan aku, aku akan ada untuk mengurus kalian. Aku pikir kamu akan kembali kepada Jaemin demi anak ini."


"Tidak."


"Apa kamu sudah tidak mencintai Jaemin?"


"Aku tidak bisa bohong, aku memang masih mencintai Jaemin. Namun untuk kembali aku tidak tidak bisa. Lagipula aku kan punya kamu yang akan menjaga kami."


Jay tersipu malu,


"Kamu benar." Jawabnya.


...***...


Di rumah Kasi....


"Apa bayi ini tidak akan memiliki ayah?" Tanya Kasi.


"Dia punya."


"Kalau kamu tidak kembali kepada Jaemin bagaimana bayi ini memiliki ayah."


"Dia memiliki Jay. Jay pasti mau menjadi ayah bayi ini."


"Kamu yakin akan menikah dengan Jay?"


"Kenapa tidak? Aku sudah mengenal Jay begitu lama, dia pun baik dan selalu terbukti menyayangi aku. Dia bahkan tidak pernah menyakiti aku. Malah dia selalu berusaha membahagiakan aku. Suami seperti itulah yang aku butuhkan sekarang."


"Apa kamu sudah berbicara dengan Jay tentang ini?"


"Belum."


"Karena sesungguhnya aku pun belum tahu pasti tentang perasaanku sekarang. Aku takut saat mengatakan kepada Jay dan aku tidak bisa menepatinya, dia akan terluka karena aku." Pikir Areun.


"Yang perlu aku lakukan sekarang hanya memasrahkan segalanya kepada waktu." Tambahnya.


Di rumah Jaemin. Ibu, Jaemin, Bibi dan Jisung sedang berkumpul di ruang keluarga.


"Sebaiknya kamu benar-benar melupakan wanita penipu itu Jaemin." Kata Ibu Jaemin.


"Dia bukan penipu ibu. Dia melakukannya hanya karena dia mencintaiku." Bela Jaemin menahan emosi. "Dan aku tidak akan melupakan dia, aku akan memperjuangkan dia untuk kembali.


"Bayi? Maksud Ibu Areun sedang hamil?"


"Iya, tadi ibu melihat mereka akan menemui dokter kandungan."


"Bagaimana ibu tahu kalau itu bayi Jay?"


"Maksudmu? Bayi siapa lagi itu kalau bukan bayi pria itu."


"Bisa saja itu bayiku, ibu!" Seru Jaemin begitu bahagia. "Kami baru berpisah sebulan, dan itu pasti bayiku." Ucap Jaemin.


"Yang bibi tahu kamu belum pernah menyentuh gadis itu kan Jaemin?" Tanya bibi.


"Bibi salah, bahkan kami melakukannya lebih sering dari yang kalian pikirkan."


"Aku akan punya keponakan kecil, ka?" Tanya Jisung ikut bahagia.


"Iya Jisung."


"Wah..selamat kak!" Jisung memeluk Jaemin.


"Terimakasih. Besok aku akan menemui Areun."


Esok pagi. Jaemin bangun dengan penuh semangat. Pagi-pagi sekali dia sudah mandi dengan ceria. Sebelum berangkat ke apartemen Kasi, Jaemin mampir ke toko bunga dan memesan buket bunga besar dengan boneka beruang kecil ditengahnya. Ia pun mampir ke toko boneka untuk membeli boneka beruang besar.


Ketika Jaemin turun dari mobil dia melihat Areun berjalan bersama Jay keluar dari pintu masuk gedung apartemen.


"Areun!" Panggilnya tersenyum lebar.


"Ngapain dia ke sini?" Tanya Jay kepada Areun.


"Entahlah."


"Bawa buket bunga dan beruang juga."


"Areun, kita akan memiliki bayi!" Serunya begitu bahagia.


"Apa maksudmu kita?" Tanya Areun.


"Kamu sedang hamil kan?"


"Iya dan itu bukan bayi kita. Ini anak Jay." Jay menoleh terkejut menatap Areun.


"Jangan coba berbohong kali ini Areun. Ini pasti bayiku."


"Sayangnya kamu salah Jaemin. Saat aku pergi dari rumahmu, dan sebelum kamu menemui kami, di hotel itu, kami menghabiskan tiga malam bersama dalam satu kamar. Aku rasa aku tidak perlu menjelaskan semua yang terjadi di malam-malam itu bukan? Aku masih menstruasi setelah terakhir kali kita berhubungan. Dan ini terjadi baru saja." Areun menggeganggam tangan Jay dan pergi meninggalkan Jaemin.


Jaemin yang masih shock menjatuhkan buket bunga dan bonekanya.


"Apa yang Areun katakan itu benar? Apa itu bukan anakku?" Pikir Jaemin.