A Blinder

A Blinder
Tidak Terduga



Jam pulang kerja, Areun pergi ke pantry untuk minum, sejak hamil dia merasa sering haus. Areun mengambil air dari dispenser, saat akan mengangkat gelas untuk minum gelasnya terasa licin dan terlepas dari tangan Areun.


Prang!!!


Gelas pecah. Areun terjongkok untuk merapihkan serpihan gelas.


"Aww!!!" Jari telunjuknya terkena pecahan gelas. Seseorang menggenggam jemari Areun dan menghisap telunjuk Areun yang berdarah.


"Kamu!" Pekik Areun dengan kasar menarik tangannya. Buru-buru Areun berdiri.


"Kenapa? Kamu pikir pria itu yang menolongmu?"


Areun berjalan hendak meninggalkan Jaemin. Dengan cepat Jaemin menarik tangan Areun dan membawa tubuh Areun ke dalam pelukannya.


"Kamu harus hati-hati demi bayi kita."


"Ini bukan bayimu. Ini bayi Jay." Areun memaksa melepaskan tubuhnya namun Jaemin lebih kuat memeluknya.


"Aku tahu kamu berbohong. Yang aku yakini itu adalah bayiku."


"Kasihan sekali khayalanmu itu." Areun berkata sinis.


"Itu kenyataannya meskipun kamu mengelak. Dengar! Aku tidak akan pernah melepaskanmu dan bayi kita." Bisiknya begitu dekat dengan wajah Areun.


"Berhentilah berbicara omong kosong. Sekarang aku pun sudah lepas darimu."


"Hanya untuk saat ini." Areun memperhatikan bibir tipis Jaemin bergerak saat berbicara. Mendorong hasratnya untuk mentautkan bibir itu seperti dulu.


Seorang karyawan memergoki mereka.


"Maaf!" Ujarnya sungkan meninggalkan pantry.


"Lepaskan!" Areun mendorong tubuhnya lepas dari pelukan Jaemin.


"Areun!" Panggil Jay.


"Ayo Jay kita pulang!" Areun menarik tangan Jay pergi meninggalkan Jaemin.


"Hati-hati Areun. Nanti kamu terjatuh." Ujar Jay khawatir.


Di apartemen Jay. Areun berjalan di depan dengan langkah cepat dan kesal, membuka pintu dengan keras dan pergi ke kamarnya. Jay menutup pintu dan mengikuti Areun.


"Ada apa Areun? Apa yang dia katakan kepadamu?" Tanya Jay setelah sampai di kamar Areun.


Tangis yang tertahan akhirnya pecah. Areun menangis tersedu-sedu. Jay duduk disebelah Areun dan memeluknya.


"Kenapa dia selalu membuatmu menangis?" Tanya Jay.


Memegang wajah Areun diantara telapak tangannya yang besar.


"Kamu tidak salah, dialah yang bersalah. Kamu tidak boleh stress Areun, demi bayimu." Ucap Jay dengan senyum tipis.


Bayang-bayang bibir Jaemin ******* bibirnya bertebaran didalam ingatan Areun saat memperhatikan Jay berbicara. Nafsunya bergejolak.


Jay mendekatkan wajah mereka, dengan perlahan mencium bibir Areun. Tanpa penolakan Areun membalas Jay. Nafas mereka berburu, Jay mencium bibir Areun penuh gairah. Jay melepaskan kemeja yang dia gunakan memperlihatkan dadanya yang bidang berotot dan perut sixpacknya.


Jay membuka jas yang digunakan Areun, melepaskan kancing kemejanya tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Tangan Jay mulai meraba bagian lain tubuh Areun.



Malam itu pun mereka habiskan dengan begitu intim.


Pagi harinya Areun bangun dari tidurnya sendirian diatas kasur. Dia telah berpakaian, kaos hitam yang kebesaran di tubuhnya milik Jay. Areun menyibakkan selimutnya.


"Arghh!" Areun mengerang pelan. "Apa yang telah kamu lakukan Areun?!" Memukul kening sampingnya dengan kepalan tangannya sendiri.


"Bagaimana aku bisa melakukan itu bersama Jay. Ini tidak benar, walau bagaimana pun aku masih istri Jaemin dan Jay itu sahabatku."


Areun bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar untuk pergi ke kamar mandi yang hanya ada satu diluar kamar Areun.


"Pagi Areun!" Sapa Jay sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan.


"Pagi Jay!"


Selesai mandi Areun duduk di kursi meja makan memperhatikan Jay menyiapkan sarapan. Mereka terlihat kikuk setelah kejadian semalam, tidak seperti biasanya.


"Itu.." Secara bersamaan.


"Kamu saja.." Bareng lagi.


"Maafkan aku Areun tentang semalam." Kata Jay menyesal. "Tidak seharusnya aku melakukan itu kepadamu."


"Tidak Jay, aku yang minta maaf. Aku...entahlah memang itu terjadi begitu saja. Tapi ya sudahlah."


"Syukurlah kamu tidak marah kepadaku. Mari makan!" Kata Jay merasa lega. "Tetapi apa itu tidak apa-apa untuk kandunganmu?"


"Aku rasa tidak. Coba aku cari dulu di internet." Areun mengambil handphone-nya dan mulai browsing.


"Bahkan saat seperti ini yang dia ingat adalah kondisi kandunganku." Pikir Areun menatap haru kepada Jay.


...^^^****^^^...