A Blinder

A Blinder
Pengorbanan



Di jam berangkat kerja, Areun menunggu bis di halte.


"Iya tidak apa-apa Jay." Areun berbicara di telepon. "Aku akan hati-hati...aku tahu. bisnya sudah sampai, sampai nanti di kantor Jay!" Areun menutup teleponnya dan ketika ia menoleh, ia mendapati sosok yang ia kenal.


"Sedang apa dia di sini?" Pikir Areun naik kedalam bis.


Karena bis penuh Areun terpaksa berdiri. Tepat dibelakangnya Jaemin berdiri. Meski Areun merasa enggan dan ingin pindah namun karena bis yang penuh sesak membuat Areun bertahan di posisinya. Bis pun melaju.


CIiiiittty... bis mengerem secara tiba-tiba. Areun kehilangan keseimbangan namun dengan cekatan Jaemin menahan Areun. Jantung Areun yang berdegup kencang karena kaget ketika bisa mengerem semakin tidak karuan. Wajahnya memerah.


"Tenang Areun!" Batinnya


Di kantor...


"Kamu berangkat bareng dengan dia?" Tanya Jay berbisik di meja Areun.


"Tidak, dia hanya kebetulan satu bis denganku."


"Dia naik bis? Apa mungkin dia sudah tidak dianggap keluarga Jang lagi? Barang dan fasilitas disita?"


"Entahlah." Jawab Areun.


"Tapi yang aku yakini dia hanya sengaja melakukan ini karena aku." Pikir Areun.


Jaemin bisa cepat berbaur dengan teman-teman di kantor. Dengan mudah dia memiliki teman, terutama para wanita yang bisa berubah jadi malaikat untuk dekat dengannya.


Jam makan siang Areun bisa melihat Jaemin dengan dua orang teman laki-laki dan dua orang perempuan asyik berbincang dan bercanda.


"Kenapa kamu menyiksaku seperti ini?" Areun merenung di dalam hati. "Menjauh darimu adalah ujian berat bagiku, terutama seperti ini, disaat aku tidak bisa dekat denganmu namun aku bisa mendengar suaramu dan melihatmu tertawa."


"Kamu harus makan buah Areun." Kata Jay mengupaskan jeruk membuat Areun tersadar dari lamunannya. "Ini makanlah." Memberikan jeruk kepada Areun.


"Terimakasih."


"Aku naik bis aja deh."


"Tapi Areun,"


"Tidak apa-apa Jay. Aku ingin tetap aktif selama hamil ini."


"Kamu dengarkan kata dokter, kandunganmu lemah."


"Lemah bukan berarti tidak boleh bergerak bebas kan Jay. Ini masih tergolong aman. Tenang saja."


"Baiklah kalau begitu."


"Mudah-mudahan ini bukan hanya alasanmu biar bisa dekat dengan Jaemin." Kata Jay di dalam hatinya memandang sinis ke arah Jaemin.


Pulang kerja Areun menaiki bis yang menuju kearah apartemen Kasi. Kebetulan masi ada bangku kosong. Merasa lega dan terberkati Areun duduk di dekat jendela, memasang earphone dan menyalakan musik di handphonenya. Terasa seseorang mengisi bangku sebelahnya. Areun menoleh dan melihat Jaemin sudah berada di sisinya sekarang.



"Hai Areun!" Sapanya tersenyum manis. Areun membuang muka berpura-pura tidak mendengarnya.


"Jangam bicara padaku please! Aku takut goyah lagi." Meringis di dalam pikirannya.


"Aku tahu kamu masih bisa mendengar aku. Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau menjawab." Ujar Jaemin melihat wajah Areun yang terpantul di kaca bis. "Tetapi aku hanya ingin kamu tahu, aku akan melakukan apapun untukmu, termasuk melepas semua kenyamanan ku asal aku bisa selalu dekat denganmu."


Areun menggigit kulit dalam bibir bawahnya untuk menahan perasaannya. Dia tidak ingin terlihat lemah apalagi sampai menangis mendengar kata-kata Jaemin yang membuatnya bahagia sekaligus menyakitkan baginya yang tidak bisa membalas pengorbanan Jaemin.


Lagu ephiphany dari Jin BTS yang terdengar dari earphonenya menambah perasaan galau di dalam hati Areun.


......***......