
Setelah menempuh jarak yang tak terlalu jauh antara cafe dan toko, mereka pun telah sampai dan Yuna pun memarkirkan mobil nya dan melirik ke kursi samping dimana Vina masih terlelap. Setelah mengantarkan yang dibeli tadi kedalam toko, Yuna kembali lagi ke mobil untuk membangun kan Vina namun yang hendak dibangunkan ternyata sudah tidak ada ditempat nya lagi.
“Ehh.. Kemana lagi itu anak? Yuna bingung kemana Vina tiba-tiba aja hilang dari mobil, Yuna kembali lagi kedalam toko siapa tau Vina sudah masuk kedalam toko saat dia mengantarkan kopi dan beberapa kue yang mereka beli tadi. Dan benar saja disaat diri nya sedang melintas ruang pantry dia berpapasan dengan Vina yang baru saja keluar dari toilet didekat pantry.
“Eh ni anak muncul nya disini rupa nya!!”
“Hehehe.. Nyariin ya?” Cengir Vina
Yuna tak menanggapi dan berlalu menuju meja kasir didepan, Vina mengikuti dari belakang sambil menyeruput kopi nya yang tadi dia ambil dari pantry tak lupa juga menenteng kotak kue yang tadi mereka beli untuk dibawa kemeja nya biasa gunakan untuk merangkai bunga.
“Haiiii... Semua nya, selamat pagi. Ini aku bawa kue dan juga kopi tapi ambil sendiri di pantry tangan ku gak bisa bawa semua nya ni.” Vina mengangkat tangan nya yang penuh menenteng kotak kue dan kopi nya.
“Selamat pagi juga, terima kasih boss” Ucap mereka serentak.
Yang mana membuat Vina tergelak tertawa karena merasa lucu melihat para pegawai nya serentak mengucapkan terima kasih walau tanpa dikomando. Yuna juga tersenyum melihat interaksi mereka dari meja kasir dengan tangan yang telah sibuk dengan komputer juga tablet nya untuk mengecek pekerjaan apa saja yang punya untuk hari ini selesaikan.
Sedangkan dibelahan dunia yang lain atau tepat nya sekarang sedang berada diatas langit didalam pesawat pribadi, seseorang tengah menyelami dunia mimpi didalam kamar pribadi yang tersedia didalam pesawat tersebut. Nampak keringat membasahi wajah dan juga tubuh nya,masih dalam posisi tidur nya beberapa bagian tubuh bergerak-gerak gelisah dan juga napas yang tersengal-sengal seperti nya sedang mengalami mimpi buruk, tak lama dia terbangun dengan berteriak memanggil sang mamah. Lama dia diam dalam duduk nya setelah terbangun dari mimpi buruk dengan napas yang masih memburu dan nampak juga ada lelehan air yang mengalir dari mata nya, ingatan nya sekarang dibawa kembali ke masa-masa dia harus merasakan pahit nya kenyataan dan ditinggalkan orang yang paling dia sayangi, sumber kekuatan nya dikala dunia menghujat dan mengucilkan nya. Ditengah-tengah lamunan nya tiba-tiba suara pintu diketuk dari luar dan terdengar sudah beberapa kali namun iya hiraukan, dia tak ingin ada yang tau atau bahkan melihat sisi rapuh nya saat ini.
“Bagaimana Ann, apa dia baik-baik saja?” Tanya salah seorang bagian dari team sang artis yang bernama Edo.
“Aku rasa dia baik-baik saja bang, biarkan saja dia sendiri dulu.” Anna berusaha menenangkan para anggota team yang ada disana. Anna sendiri sebenarnya mengkuatirkan keadaan Luke yang tiba-tiba saja berteriak dari dalam kamar, tapi dia berusaha untuk bersikap tenang agar tidak membuat yang lain semakin panik.
“Iya Anna benar, sebaik nya biarkan Luke tenang dulu. Mungkin dia bermimpi buruk tadi, yah kita tau sendiri bagaimana 3 bulan ini kita sudah bekerja dan dia pasti yang paling stres dari kita semua disini.” Ujar Edo panjang lebar.
“Iya kamu benar bang dan aku pun merasakan nya bang, apa lagi dia. Tapi jujur aku pasti akan merindukan perjalanan kita selama ini bang” Ungkap salah satu anggota team yang lain.
Anna hanya menyimak obrolan para anggota yang lain tanpa berminat untuk ikut dalam obrolan tersebut, saat ini mereka sekarang tengah mengobrol sambil beristirahat di ruangan tengah di bagian pesawat tersebut. Anna sendiri sedang duduk salah satu bangku yang bisa dijadikan tempat tidur jika ditarik bagian kaki nya, yang mana letak nya persis di seberang depan pintu kamar pribadi yang ada di pesawat tersebut. Anna berusaha untuk tetap tenang dan mencoba untuk bisa melanjutkan tidur nya lagi, Anna menarik napas dalam sambil melirik jam yang melingkar ditangan kanan nya.
“Tinggal beberapa jam lagi kita akan sampai dan pulang, aku harap kamu baik-baik saja Luke.” Gumam Anna seperti sedang berbisik pada diri nya sendiri, sambil terus menatap pintu kamar Luke yang masih tertutup rapat.
Kembali kesibukan Vina yang masih setia dengan gunting ditangan kanan nya, ia sedang memilih dan menggunting tangkai-tangkai bunga yang akan dirangkai nya. Begitu pun dengan Yuna pun sedang duduk didepan komputer dan juga tab nya disebelah nya, dia sedang menghitung dan membuat laporan pemasukan dan pengeluaran toko tersebut. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memasuki toko mereka, awal nya salah seorang pegawai nya yang melayani orang tersebut yang sedang mencari bunga untuk dekorasi meja untuk tempat nya bekerja. Orang tersebut meminta saran bunga yang bagus, setelah menjelaskan beberapa macam bunga yang cocok orang tersebut nampak kebingungan. Yuna yang penasaran mendengar obrolan antara pegawai nya yang menawarkan bunga tapi seperti nya sang calon pembeli ini malah kebingungan pun bangun dari duduk nya dan menghampiri kedua nya.
Yuna sempat merasa tak percaya siapa yang datang ke toko nya, tapi yuna berusaha untuk bersikap biasa saja dan mengusir rasa grogi nya kemudian berusaha menyapa dengan ramah, jangan ditanya detak jantung Yuna sekarang rasa nya hendak lompat dari tempat nya dan berlari maraton saat bibir nya menyapa si calon pembeli itu.
“Maaf apa bisa aku bantu?” Tanya Yuna ramah.
“Oh boss, silahkan mas nya dibantu ama boss aja ya. Kalau masih bingung tanya aja langsung sama yang paling paham bunga ni, tapi maaf mas yang dibawa pulang nanti bunga nya ya jangan boss saya hehehe” goda pegawai Yuna yang mana membuat yuna hampir saja sesak napas seketika.
Yang digoda hanya tertawa renyah menanggapi godaan dari pegawai tersebut, kemudian dia tersenyum ramah kepada Yuna yang menampilkan lesung pipi nya yang begitu manis. Seketika kaki-kaki Yuna terasa lemas layak nya jeli, jantung Yuna benar-benar tidak aman jadi tolong!!!!!!
“Hai kamu Yuna kan?” Tanya nya ramah sambil mempertahankan senyum nya.
“Hah... Eh iya, hai juga hehehe..” Tolong yuna salah tingkah.
“Hmm... Maaf kalau aku merepotkan kamu tapi aku sedang butuh beberapa bunga untuk bisa ditaruh didalam vas-vas bunga kecil diatas meja, ohh astaga maaf bila aku sudah gak sopan. Aku Jeje, maaf aku tau nama mu karena kamu sering beli kopi di cafe hehe” Jeje mengulurkan tangan nya kearah Yuna.
Yuna pun menyambut tangan yang disodorkan untuk berjabatan tangan, dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa berkenalan langsung dengan Jeje yang tidak lain adalah barista yang selama ini telah menarik perhatian juga hati Yuna dengan senyuman manis nya dan juga racikan kopi nya yang seperti candu untuk Yuna. Tanpa Yuna dan Jeje sadari ada 4 pasang mata yang sedang mengintip di spot nya masing-masing sembari pura-pura sibuk dengan kegiatan nya. Dan Vina tak hanya berniat untuk mengintip saja, dia pun berusaha untuk bisa mencuri dengar apa yang sedang Yuna dan Jeje bicarakan dengan berpura-pura mengambil bunga-bunga dari ember-ember kecil yang memang disediakan untuk menaruh bunga yang ada didekat Yuna berdiri. Yuna sadar dengan kelakuan Vina yang berniat menguping, Yuna berusaha tetap tenang didepan Jeje tapi saat Jeje berpaling atau berbalik dari nya. Yuna melotot kan mata nya kearah Vina dan melemparkan apa saja yang ada dapat dipegang nya dengan maksud menyuruh nya pergi dari sana. Sadar Yuna yang berusaha mengusir nya, Vina pun kembali kemeja nya dan melanjutkan pekerjaan nya sampai Yuna datang menghampiri nya dimeja nya.
“Loo emang sudah sore ya?” Kaget Vina.
“Kamu itu kebiasaan kalau kerja suka lupa ama waktu” Omel Yuna.
“Hhmmm... Iya-iya ayuk kita pulang, tadi kak Jack juga udah mengingat biar gak telat pulang nya.” Vina mengingat pesan sang kakak lewat pesan diaplikasi hijau.
Tak lama mereka pun pulang ke rumah setelah menutup toko mereka, disepanjang perjalanan pulang ke rumah Vina tak henti-henti nya menggoda Yuna yang tadi berkenalan dan sempat mengobrol juga dengan Jeje. Tak hanya sampai disitu, Jeje dan Yuna juga bertukar no. phone dengan alasan apa bila dia butuh bunga lagi akan memudahkan pemesanan, atau Yuna yang mau order kopi supaya tak repot mengantri.
Tak lama mereka berdua pun telah memasuki komplek perumahan kediaman keluarga Vina, kebetulan Yuna sengaja melalui jalan yang melewati cafe tempat Jeje bekerja dan Vina yang sadar akan hal itu lagi-lagi meledek Yuna tapi saat mereka lewati cafe tersebut yuna tiba-tiba saja menginjak rem nya dalam. Rupa nya ada sesuatu yang menyita perhatian mata elang nya Yuna, Vina yang tidak siap pun hampir saja terhempas ke depan kalau saja tidak secara reflek tangan nya lebih dahulu menahan badan nya yang terhuyung ke depan di dashboard mobil akibat Yuna yang mengerem mendadak. Vina yang hendak protes pun urung ketika mata nya pun menatap kemana arah mata Yuna menatap, rupa nya diseberang jalan sana tepat nya diarea parkiran cafe tampak Jeje sedang mengobrol sambil berpegangan tangan dengan seseorang perempuan yang mereka kenal sebagai sang lampir. Yuna mengeratkan genggaman nya pada setir mobil nya kemudian berlalu dari sana, suasana di mobil mendadak menjadi sunyi. Vina pun tak berani berkomentar atas apa yang mereka lihat tadi dan lebih memilih untuk membuka sosial media nya lewat layar phone nya sampai Yuna tak sengaja melihat postingan sahabat yang dia rindukan dimana postingan tersebut menampilkan video rombongan team yang baru saja turun dari pesawat dan sedang menuju mobil yang
menjemput mereka, yang mana setelah melihat postingan tersebut membuat Vina berteriak senang.
“Yeeiiiiii.... Anna pulaaaanggg!!!!!!!! Yuna, Anna pulang....” Vina berteriak heboh dan secara reflek menggoyang-goyangkan tangan yuna yang sekarang baru saja memarkirkan mobil nya didepan garasi rumah keluarga vina.
Yuna yang pun tak kalah heboh mendengar berita yang vina sampaikan, sahabat mereka pulang kembali setelah lama bekerja diluar. Mereka segera turun dari mobil dan masuk kedalam rumah, saat setelah masuk nampak lah mbak jum dan beberapa art yang sedang sibuk menyiapkan dan menata meja dihalaman samping yang akan digunakan untuk makan malam. Yuna dan Vina pun dengan sigap membantu mbak Jum untuk menyiapkan meja dan juga beberapa keperluan yang lain yang dirasa dibutuhkan untuk jamuan makan malam nya, suasana rumah pun masih terlihat sepi hanya mereka dan beberapa art yang membantu memasak dibelakang. Kedua orang tua vina rupa nya belum kembali dari luar kota sedangkan Jack nya sendiri masih belum pulang dikarena kan harus mengikuti persidangan untuk kasus hukum yang dia dan team nya pegang. Dirasa persiapan nya sudah dirasa siap Vina dan Yuna pun naik kelantai dua untuk membersihkan diri dan beristirahat sebentar sambil menunggu yang punya acara datang.
Sedangkan di lokasi yang berbeda tampak para anggota team nya sang artis satu persatu pamit menuju mobil masing yang menjemput mereka dihalaman kantor agensi yang menaungi Luke sebagai seorang artis, setiba nya mereka tadi dijemput oleh mobil kantor untuk diantarkan kekantor dulu untuk beberapa keperluan setelah nya baru lah mereka membubarkan diri untuk kembali ke rumah masing-masing. Nampak lah luke dan juga Anna yang masih duduk di sofa yang ada di lobby kantor tersebut, suasana kantor pun sepi karena memang sudah malam hanya ada beberapa karyawan yang lembur dan juga beberapa security yang berjaga. Luke masih menyandarkan kepala nya ke sandaran sofa dengan menutup mata nya, Anna yang memperhatikan Luke tau kalau Luke sedang tidak baik-baik saja tapi Anna hanya diam karena tak mau mencampuri urusan Luke.
“Baik lah, kau mau ikut atau langsung kembali ke apartemen?” Tanya Anna ke Luke yang masih betah memejamkan mata nya.
“Aku ikut lah, aku sudah lapar” Jawab Luke lalu bangun dari duduk nya dan berjalan keluar menuju mobil nya yang sudah terparkir tepat didepan lobby kantor. Anna yang melihat itu pun dengan sigap bangun dari duduk nya dan berlari mengejar Luke, dalam hati nya merutuki Luke yang main pergi saja tanpa aba-aba.
Luke sendiri sudah duduk di kursi penumpang disebelah kursi pengemudi, yang mana membuat Anna bingung dan kesal. Dimana mau tidak mau diri nya lah yang harus mengemudikan mobil tersebut dan Anna sangat tidak suka mengemudikan mobil pada saat jam-jam macet seperti sekarang ini, Anna pun masuk dan duduk di kursi kemudi dengan muka masam dan ngedumel pelan sambil mulai menyalakan dan menjalan kan mobil tersebut menuju rumah orang yang sangat iya rindukan selama ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih untuk dukungan nya 💜borahe💜