
Keesokan hari nya..
Dimeja makan sudah ada ayah David dan mamah Laura, kedua memutuskan pulang pagi-pagi sekali di karena kan ayah David yang harus menghadiri meeting penting di kantor nya pagi ini dan juga lebam bekas tamparan di pipi mamah Laura pun sudah tak meninggalkan bekas.
Seperti biasa Jack yang terlebih dahulu turun, Jack yang dari kemarin tidak melihat sang mamah nampak tersenyum lebar langsung memeluk dan mencium kedua pipi sang mamah.
"Eh anak mamah, kangen ya sayang." Mamah Laura balas mencium pipi sang anak bujang.
Ayah David yang melihat hal tersebut hanya tersenyum, anak bujang nya itu memang tak bisa lama-lama jauh dari sang mamah, kemaren pun saat ayah David mengabarkan kalau diri nya dan sang istri menginap di hotel kepada sang anak langsung mendapatkan protes dan berpesan tidak boleh lebih dari satu malam saja menginap disana. Berbeda dengan sang adik yang tidak pernah protes mau berapa lama orangtuanya mau menghabiskan waktunya untuk berdua saja yang penting untuk selalu memberi kabar.
"Duduklah, mana adik mu?" Tanya ayah David
"Biasa lah yah, paling bentar lagi turun." Jawab Jack
"Mau roti seperti biasa kan sayang?" Tanya mamah Laura kepada sang anak bujang.
"Iya mah. Oh iya mah, kapan mamah ada waktu? Ada beberapa hal yang harus kita diskusikan dengan tim..." Jack langsung terdiam kala mata ayah David melotot menatap nya.
Mamah Laura yang melihat itu hanya tersenyum, ada peraturan yang berlaku pada saat berada dimeja makan terlebih pada saat sebelum dan sedang menikmati makanan, yaitu tidak ada yang boleh membahas tentang pekerjaan pada saat sebelum dan saat makan kecuali semua sudah selesai makan.
"Maaf yah." Sesal Jack yang lupa akan peraturan yang ada.
"Sudah-sudah, ayok habiskan sarapan nya." Mamah Laura menyodorkan piring yang berisi roti bakar dan telur, menu sarapan sang anak bujang nya.
"Ayah mau minum kopi?" Tanya mamah Laura kepada sang suami.
"Tidak sayang, nanti saja di kantor." Jawab ayah David sambil meneruskan sarapan nya.
"Mamah.... Ayaaaahhhh...." Sang anak gadis yang baru turun dari tangga nampak senang melihat kedua orangtuanya telah pulang dan ada dimeja makan.
Vina turun dari tangga dengan berlarian kecil, sesampainya dimeja makan diri nya mencium kedua orangtuanya dahulu sebelum duduk menikmati sarapan nya.
"Ayok duduk, mamah sudah siapkan sarapan Ina."
"Iya mah." Vina mengurai pelukan nya dengan sang ayah setelah mendapatkan ciuman gemas di seluruh wajah nya dari sang ayah.
Setelah selesai dengan sarapan nya Jack yang dari tadi memperhatikan sang adik pun sudah tidak sabar untuk bertanya tentang kejadian kemaren, saat diri nya dihubungi oleh sang kekasih yang mengabarkan perihal sang adik yang mengalami insiden yang konyol.
"Vin, apa benar kemarin kamu jatuh di apartemen Anna? Tanya Jack santai.
"Ina, kamu hati-hati dong. Dimana sakit nya nak? Tanya mamah Laura spontan.
Ayah David hanya diam mendengar jawaban sang anak gadis, Vina yang baru saja meminum susu nya hanya menatap satu persatu wajah kedua orangtuanya dan juga Jack yang sekarang semua memandang kearahnya. Vina tersenyum kikuk dan mengangguk membenarkan pertanyaan dari Jack.
"Vina gak sengaja jatuh, dan gak sakit koq mah." Jawab Vina pelan.
Vina berusaha untuk tetap tenang, diri nya berharap sang sahabat nya itu tak mengadukan semua kejadian konyol yang terjadi kemarin.
"Kenapa kakak menatap ku begitu?" Tanya Vina yang semakin kikuk.
"Jelaskan, kamu jatuh kenapa dan kenapa Anna sampai panik seperti itu?" Jack bertanya dengan tenang namun terasa mengintimidasi.
"Hhmmm..... Aku, aku malu kak." Vina menjawab dengan menundukkan kepala nya.
Melihat sang putri yang tertunduk, ayah David bangkit dari duduk nya. Mendekati sang anak gadis dan memeluk nya serta mencium pucuk kepala nya lama.
"Bila merasa tak nyaman tidak usah cerita ya." Ucap ayah David seraya mengusap punggung sang anak gadis.
"Vina malu yah, Vina jatuh dari atas ranjang dan nyangkut di selimut yang ujung nya diduduki Yuna." Vina bercerita dengan posisi memeluk pinggang sang ayah, sehingga suara nya terdengar kecil.
"Apa ada yang sakit? Bagian tubuh Ina yang mana yang sakit?" Tanya ayah David kemudian.
"Leher dan pinggang Vina sakit yah."
Mendengar cerita Vina, mamah Laura segera bangkit dari duduk nya dan mencoba mengecek leher sang anak gadis. Apakah ada luka atau memar di leher sang anak gadis, Jack hanya diam menyaksikan kedua orangtuanya dan sang adik.
"Ina mau periksa ke dokter ya, biar mamah temani?" Bujuk mamah Laura.
"Iya sayang, sebaiknya diperiksa saja ya." Timpal ayah David.
Vina hanya mengangguk saja menjawab ajak sang mamah, diri nya memang merasa kesakitan yang membuat nya tak bisa tidur tadi malam. Padahal setelah kejadian kemaren pagi diri nya merasa baik-baik saja, bahkan diri nya melakukan aktivitas nya seperti biasa ditoko. Namun pada saat diri nya hendak beristirahat baru lah iya merasa rasa sakit yang menggangu dan membuat nya tidak dapat tidur dengan nyenyak.
"Baiklah, mamah akan buat janji dulu dengan dokter setelah nya kita berangkat ya." Mamah Laura pun berjalan menuju ruang keluarga dimana telpon rumah ada disana untuk menelpon dokter yang dimaksud dan membuat janji untuk pagi ini.
"Dek sebaik nya kamu ambil kelas yoga dech." Jack yang dari tadi diam memberikan saran nya untuk sang adik.
Ayah yang sudah mengurangi pelukannya dengan sang anak gadis pun kembali duduk di kursi nya semula. Vina hanya diam mendengar saran sang kakak, diri nya lanjut meminum susu nya kembali hingga habis tak tersisa.
"Ayah rasa saran nya Jack bagus juga, dengan yoga bisa membantu keseimbangan." Ucap ayah David membenarkan saran dari sang anak bujang.
"Bagaimana apa kamu mau dek? Jujur saja kakak khwartir, hampir setiap hari kamu jatuh dek." Keluh sang kakak yang dibenarkan sang ayah yang menganggukkan-angguk kepalanya.
"Dari kecil Ina memang terlalu aktif, dan tak jarang saking aktif nya menyebabkan nya jatuh dan terluka. Mamah pikir itu akan berkurang bahkan hilang pada saat sudah besar tapi sepertinya mamah terlalu meremehkan nya sayang." Ucap mamah Laura yang tiba-tiba memeluk Vina dari belakang saat kembali dari ruang keluarga.
"Mamah sudah buat janji dengan dokter nya buat pagi ini, nanti biar mamah sama Vina diantar sama Jo aja ya yah" Ujar mamah Laura yang mengurangi pelukannya dan berjalan menuju area belakang dapur.
"Ina kamu tidak apa-apakan?" Ayah David memperhatikan anak gadis nya yang hanya diam sedari tadi.
"Dek kenapa kamu diam saja, apa yang kamu rasa kan?" Tanya sang kakak yang mulai cemas dengan diam nya sang adik yang bias nya berisik.
Vina hanya menggeleng pelan, kemudian mengambil roti bakar coklat yang masih tersisa di piring saji dan dengan lahap memakan nya.
Jack dan ayah David tersenyum melihat nya, mereka yang semula khwartir dengan diam nya Vina kini tersenyum geli karena sepertinya Vina sedang lapar karena sudah menghabiskan 3 slice roti bakar dan juga 2 telur ceplok serta 2 gelas susu coklat.
"Non Vina mau nambah susu atau air putih lagi?" Tanya mbak Jum yang sekarang sedang berdiri disamping meja makan.
Vina yang baru saja sadar kalau diri nya sedang diperhatikan, hanya tersenyum meringis dan menggeleng menjawab pertanyaan mbak Jum.
"Seperti nya lapar banget ya dek?" Tanya sang kakak dengan bibir yang masih tersenyum menatap sang adik.
"Aku lapar kak, kemaren malam aku lupa kalau belum makan." Jawab Vina setelah meminum air putih yang ada di gelas nya hingga habis.
Jack dan ayah David hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban Vina.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih untuk dukungan nya 💜borahe💜