
Setelah adegan baku hatam yang dilakoni oleh seorang mantan gadis yang kini telah berstatus istri dan juga calon mamah muda yang ngegemasin (menurut sang suami tentu saja) kini diri nya sedang duduk manis dan nyaman menyembunyikan wajah nya di pelukan sang ayah.
Layak nya anak kecil yang sedang merajuk dan mengadu kepada sang ayah, begitu lah yang kini kira-kira yang Lia lakukan dengan menyembunyikan diri nya dalam dekapan sang ayah yang begitu nyaman dan juga telah lama iya rindukan.
Ayah David kini duduk disofa panjang diruangan kerja sang pemimpin salah satu perusahaan besar yang bergerak dalam bidang advertising yang tidak lain adalah suami dari sang putri, tangan kiri nya mendekap erat sang putri dan tangan kanan nya mengelus lembut rambut sang putri yang telah lama iya rindukan.
Pemandangan haru penuh kasih sayang antara ayah dan sang putri yang kini saling memeluk menyalurkan rasa rindu dan sayang nya itu tak luput barang sedetik pun dari pandangan Adrian sang empunya ruangan yang kini justru duduk dilantai dengan posisi berlutut didepan pintu masuk ruangan nya tersebut, tak lupa tangan kiri yang menarik kuping kanan serta tangan kanan menarik kuping kiri.
Yaaap betul sekali... Adrian sedang dihukum!!
Tadi setelah adegan baku hantam nya ibu negara api di lobby yang mana telah menumbangkan beberapa security dan juga hampir saja menghadiahkan bogeman kepada sang suami yang sangat menyebalkan dimata nya saat itu, beruntung nya ayah David yang memang sudah mengatur janji temu dengan sang menantu yang tak lain adalah Adrian datang menyelamatkan wajah sang menantu dari amukan sang istri yang yang sedang tersulut emosi tingkat kabupaten.
Dan setelah drama kehebohan yang terjadi di lobby tadi, sekarang disinilah mereka melanjutkan drama rumah tangga. Diruangan sang pemimpin perusahaan, ya tak hanya ada mereka bertiga didalam ruangan tersebut.
Disudut sofa tepat dihadapan ayah dan anak yang tengah berpelukan, ada Serena yang sedang kena apes pun duduk dengan tidak tenang sekarang pasal nya diri nya ikut terseret dalam masalah rumah tangga sang boss yang tak lain juga adalah sahabat merangkap sepupu nya itu.
"Duh.. Sial banget, harus banget gitu ikut keseret dalam drama rumah tangga si kuyuk kampret ini"
Umpat Serena dalam hati seraya melayangkan tatapan tajam penuh kekesalan kearah Adrian yang kini nampak mulai merasakan pegal pada lutut nya yang kini menopang berat badan nya pasal nya sudah hampir 1 jam lama nya diri nya telah menjalani hukuman tersebut.
"Apa sekarang sudah tenang sayang?" Tanya ayah David lembut.
Lia hanya mengangguk kecil, lalu mengurangi pelukannya kepada sang ayah. Lia menghapus sisa air mata disudut mata nya dengan sapu tangan yang ayah David berikan pada saat Lia mulai mengadu disertai isak tangis yang juga menjadi awal mula Adrian dihukum berlutut sampai saat ini.
Adrian yang melihat wajah sang istri kini nampak kusut dengan hidung yang memerah, secara otomatis hendak berdiri namun urung karena tatapan tajam sang istri yang seolah-olah hendak menelan nya hidup-hidup.
Melihat sang putri yang masih diliputi awan hitam yang kapan saja dapat mengeluarkan petir api nya, ayah David menghela nafas mencoba mewaraskan diri karena menghadapi perempuan yang sedang cemburu sama saja dengan berhadapan dengan banteng matador. Terlebih ayah David sangat tau dan hafal dengan karakter sang putri nya ini.
"Sudah, ayo bicarakan baik-baik dulu. Ayah ingin dengar cerita versi Adrian juga."
Ucap Ayah David seraya mengusap punggung sang putri dengan lembut.
Serena yang duduk dihadapan ayah dan anak itu pun hanya bisa memperhatikan dalam diam, hanya mata nya yang bergerak kesana-kemari.
Lia kembali menghela nafas solah melepaskan beban nya keudara bersama hembusan nafas nya dan meraup kembali sebanyak-banyaknya oksigen untuk mengisi paru-parunya. Lia menjentikkan jarinya, memberi kode kepada sang suami untuk mendekat kepada nya.
Adrian yang sudah paham dengan kode tersebut hanya bisa pasrah, pasal nya diri masih belum bisa bergerak mendekat dengan berjalan dengan normal melainkan berjalan dengan kedua lututnya untuk mendekat kearah sang istri yang masih dalam mode ibu negara api.
" Stop.... Jangan dekat-dekat, cukup disitu saja. Sekarang jelaskan!!!"
Lia memandang sang suami, jujur saja sebenarnya diri nya iba dan tak tega karena wajah Adrian kini nampak penuh keringat walau pun ruangan tersebut berpendingin ruangan belum lagi pasti pegal dalam posisi seperti itu dalam waktu yang lama, namun rasa tak tega dan iba itu hanya sekedar numpang lewat saja saat diri nya mengingat apa yang membuat diri nya tersulut emosi tingkat kabupaten tadi.
"Astagaaa dargon.. Punya dosa apa sech aku sampai ikut keseret dalam drama rumah tangga sikuyuk kampret sialan, mana tu mata ibu boss dah kaya laser aja. Nembus ni bu boss, nembus meninggoi dech!!
Kembali Serena mengumpat heboh dalam hati nya saat mata nya tak sengaja bertemu dengan tatapan tajam sang ibu negara.
"Cepaaattt..... Lama banget sech, susah ya kalau memang salah.. Hikkk"
Lia kembali menangis saat sang suami baru saja hendak menjelaskan apa yang sebenarnya.
Ayah David kembali membawa Lia kedalam pelukannya, diri nya memberi kode kepada Adrian untuk bersabar.
Serena yang memperhatikan itu, berdecak jengah melihat drama dihadapan nya yang sudah berlangsung selama satu jam ini.
"Kapan selesainya ini kalau dari tadi nangis mulu."
Teriak Serena yang sudah pasti hanya berani iya suarakan dalam benak nya saja. Mana berani iya ungkapkan, iya tak bodoh untuk berakhir menjadi samsak hidup sang ibu negara.
Kembali kepada Adrian yang kembali lemas melihat sang istri menangis walau hanya isak-isak kecil yang terdengar tapi jujur Adrian merasa sakit dan sangat merasa bersalah melihat sang istri tercinta berlinangan air mata sejak tadi.
"Ayolah Lia, selesai kan masalah kalian."
Bujuk ayah David sabar.
"Tapi dia salah yah, dia gandeng perempuan jelek itu tadi. Dia jahat yah.. Hikk"
Ucapan Lia membuat Serena membolakan mata nya saat ibu boss menyebutkan perempuan jelek dan telunjuk Lia mengarah kepada nya.
Menyadari telunjuk sang putri yang menunjuk kearah gadis muda yang duduk dihadapan mereka saat ini, ayah David hanya bisa menghela nafas nya pelan.
"Ayo Lia bicara secara baik-baik, ingat apa yang ayah ajarkan pada kalian. Sebelum kita tau kebenarannya jangan berpikir yang tidak-tidak dulu."
Seperti kesabaran ayah David mulai mengendor menghadapi sang putri.
"Adrian, jelaskan!!"
Tintah sang mertua terdengar tegas ditelinga Adrian.
Adrian menelan ludah nya berkali-kali seraya memandangi wajah sang istri yang benar-benar kucel setelah lama menangis.