
Setelah kejadian-kejadian apes yang menimpa Edo tadi kini diri nya dan juga Luke telah berada didalam mobil dalam perjalanan menuju klinik tak lupa juga beserta dengan Anna yang mereka paksa ikut untuk memeriksakan keadaan nya yang mengeluh sakit di kaki dan pinggang nya, Anna yang duduk di jok belakang nampak masih saja tertawa dengan sekali-sekali membahas tentang kejadian yang menimpa nya, Yuna dan Edo tadi.
Anna tertawa dengan kencang saat diri nya membaca pesan dari Yuna yang menceritakan tentang kejadian di toilet, dimana diri nya ketakutan saat Edo menggedor pintu toilet dengan kencang yang menjadi awal ketakutan Yuna kepada Edo.
Semenjak meninggal kan rumah kediaman keluarga Tirtayasa tadi Anna, Yuna dan juga Vina bertukar pesan lewat chat grup mereka, ketiga nya membahas tentang kejadian tadi karena mereka belum sempat membahasnya secara langsung tadi dikarenakan Anna yang dipaksa untuk diperiksa keadaannya ke klinik oleh Jack dan Luke. Sedang kan Jack sendiri tidak ikut mengantarkan sang kekasih dikarena kan ada kegiatan lain yang harus kerjakan.
Edo yang berada dibalik kemudi setir mobil nampak menahan kesal dan berusaha tidak menanggapi apa yang Anna tanyakan pada nya, mengenai perihal diri nya yang menggedor-gedor pintu toilet dengan keras. Luke sendiri sekali-sekali tersenyum dan ikut tertawa kecil mendengar celotehan Anna yang bak anak kecil yang cerewet dan iya juga menggoda Edo tentang kejadian tadi.
Sedangkan ditempat yang berbeda, Lia nampak sedang duduk disofa didalam kamar nya. Diri nya tersenyum dan sekali-kali tertawa membaca pesan yang ada dalam grup chat, didalam grup itu sendiri berisikan mereka berempat namun akhir-akhir ini Lia hanya sering hanya sebagai pembaca saja tanpa ikut serta dalam obrolan para sahabat nya itu.
Lia pun beranjak dari duduk nya dan berjalan menuju cermin besar yang berada disudut kamar itu, Lia berdiri memperhatikan diri nya dari pantulan cermin. Lia mengelus perut nya yang terlihat masih rata namun kini didalam nya terdapat kehidupan sang jabang bayi yang telah jadi pengikat diri nya dengan ayah dari sang jabang bayi.
Lia lalu sekali lagi memastikan penampilan nya, diri nya berencana untuk pergi menemui dan juga menjemput Adrian dari kantor untuk menemani nya memeriksakan kandungan dan tentu saja tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada Adrian karena diri nya ingin memberi kejutan kepada Adrian dengan langsung mengunjungi nya kekantor.
Lia sendiri telah mengecek apa saja jadwal Adrian untuk satu hari ini dari email agenda pekerjaan Adrian yang dikirim oleh sekretaris nya, pada saat Adrian sedang mandi tadi pagi diri nya sengaja mengecek isi email yang masuk pada tablet dan juga telepon pintar yang Adrian gunakan untuk urusan pekerjaan nya.
Setelah merasa siap Lia pun segera beranjak turun menuju garasi, alih-alih memilih untuk diantar kan oleh sang supir yang telah menunggu diri nya dari tadi. Lia lebih memilih menunggangi salah satu motor sport koleksi sang suami yang berwarna hitam sesuai dengan outfit yang iya kenakan sekarang, sang supir yang melihat sang nyonya telah naik menunggangi kuda besi itu pun nampak segera keluar dari mobil yang telah iya siap kan untuk sang nyonya.
"Nyonya... Tunggu nya..!"
Teriak sang supir yang kaget melihat sang nyonya yang telah menggenakan helm dan duduk manis bersiap menunggangi sang kuda besi. Namun sayang Lia tak mendengar teriakan sang supir dan menggeber gas sang kuda besi yang membuat nya bergerak perlahan keluar dari garasi rumah mewah tersebut.
"Astaga.. Nyonya kau bisa membuat ku dikubur hidup-hidup oleh tuan muda." Omel sang supir dengan frustasi.
Tak mau berdiam diri dan menunggu hukuman dikubur hidup-hidup oleh sang tuan muda, sang supir segera berlari masuk kedalam mobil yang telah iya siapkan tadi untuk mengantarkan sang nyonya. Dengan cepat sang supir menyala mesin nya lalu berusaha mengejar sang nyonya yang kini nampak lincah membelah jalanan dengan kuda besi yang iya tunggangi.
Tak butuh waktu lama untuk Lia tiba didepan lobby kantor Adrian, dengan menunggangi kuda besi yang merupakan salah satu koleksi Adrian. Lia bergerak dengan lincah mengendalikan stang dan laju dari motor sport tersebut tak nampak ketakutan dari wajah nya. Sepanjang perjalanan yang iya tempuh diri nya tak berhenti tersenyum karena berhasil menyalip pengendara lain nya terutama mobil-mobil yang bergerak lambat menurut nya.
Nampak beberapa security dan juga karyawan yang ada disekitaran lobby memandang penasaran kepada nya, mereka saling menerka siapa kah perempuan yang nampak seksi diatas kuda besi dengan helm yang masih belum iya lepaskan.
"Siapa tu, apa dikira disini sirkuit balap apa?" Julid salah seorang resepsionis yang memandang tidak suka ke arah Lia.
"Iya siapa ya, siapa tau tamu kali." Jawab resepsionis lain nya, yang juga memandang penasaran siapakah perempuan dibalik helm besar tersebut.
"Buset coiii.. Demen gue kalau pemandangan gini tiap hari." Girang salah seorang security yang berdiri tidak jauh dari tempat para resepsionis bertugas.
"Dih.. Apaan sech, palingan juga itu kurir barang." Jawab resepsionis yang tidak suka melihat Lia yang datang dengan motor sport itu dengan ketus.
"Mana ada kurir naik motor sport neng." Jawab security lainnya.
Lia yang baru saja memarkirkan motor sport atau kuda besi yang iya tunggangi tepat dibelakang post security, tempat parkir untuk kendaraan roda dua yang sengaja disediakan para kurir atau pun ojol. Lia masih duduk diatas motor sport yang iya tunggangi, perlahan iya melepaskan helm nya dan mengibaskan rambut panjang nya setelah helm tersebut telah terlepas dari kepala nya.
Melihat pemandangan bak iklan shampo membuat para sekuriti dan karyawan laki-laki yang ada di sekitaran lobby kantor tersebut memandang Lia dengan beragam macam ekspresi, yang jelas mereka penasaran siapakah perempuan tersebut.
"Maaf permisi.. Bisa saya bertemu dengan pak Adrian?" Tanya Lia ramah kepada kedua resepsionis yang sedang bertugas.
"Ohh nona mau bertemu dengan tuan boss ya?" Sambar salah seorang securiti yang dari tadi telah terpesona dengan aksi Lia mengendarai motor sport yang terparkir diluar.
"Iya pak, bisa kah?" Tanya Lia rama dengan senyuman manis nya.
"Maaf nona, apakah sudah membuat janji dengan beliau?" Tanya salah seorang resepsionis dengan ramah.
"Ohh aku belum buat janji sebelum nya, gimana ya.." Belum selesai Lia berbicara, resepsionis yang dari tadi memandang tidak suka pada Lia langsung memotong.
"Sebaiknya nona pulang saja sana, kalau hanya mau mengantarkan titipan barang sini titip disini saja tidak perlu repot-repot mencari boss segala." Sambar nya judes.
Lia yang mendengar nya pun hanya tersenyum kecut seraya menunduk melirik ke sepatu yang iya kenakan sekarang, dan diri nya merasa ingin sekali menimpuk mulut judes resepsionis tersebut dengan sepatu yang sedang iya kenakan. Melihat perubahan wajah Lia yang setelah mendengar ucapan rekan kerja nya, resepsionis satu nya pun menegur rekan kerja nya itu dengan memukul lengan nya dengan mata melotot memperingatkan bahwa tidak boleh berkata dan bersikap kasar saat bekerja meski tak suka pada tamu tersebut.
"Maafkan rekan saya nona." Ucap resepsionis yang bernama Yuni dengan menundukkan kepalanya.
"Isstt.. Ngapain juga minta maaf segitu nya, emang dia siapa?" Desis nya tak suka melihat Yuni meminta maaf atas perilaku nya tadi.
Lia masih diam dengan wajah yang ditekuk karena masih merasa jengkel dengan perilaku resepsionis yang iya amati dari tag name nya bertuliskan Olive. Merasa diri nya diperhatikan oleh Lia, Olive pun membalas dengan menatap nya tajam dan mengibaskan tangan nya tanda menyuruh Lia untuk pergi dari sana. Salah satu securiti yang melihat kejadian dimeja resepsionis mencoba mendekat takut ada sesuatu yang akan terjadi melihat Lia hanya berdiri dalam diam dan tertunduk jangan lupakan wajah nya yang masam.
Melihat ada keributan dari arah meja resepsionis, dari kejauhan seorang perempuan yang berpenampilan rapi dan sedikit seksi pun mendekat. Beberapa karyawan yang baru saja keluar dari lift pun ikut mengekor dibelakang nya, karena juga melihat ada keributan dari arah meja resepsionis.
"Ada apa ini?" Tanya perempuan itu yang kini berdiri dibelakang Lia.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih untuk dukungan nya 💜 Borahe 💜