
Sementara itu di lobby apartemen tampak Anna yang telah tiba terlebih dahulu, diri nya tidak sendiri karena ada Yuna dan Vina ada menemani nya atau lebih tepatnya Anna lah yang meminta untuk ditemani oleh kedua sahabat nya sebelum kedua nya berangkat ke toko seperti biasa.
"Aku koq baru tau kalau kalian tinggal di gedung apartemen yang sama!!" Ucap Vina dengan wajah terkejut saat setiba nya mereka di lobby apartemen.
Anna dan Yuna hanya saling pandang dan mengabaikan pernyataan Vina dan berjalan memasuki lift yang akan mengantarkan mereka kelantai dimana unit yang mereka tuju. Tak lupa kedua nya menggandeng tangan Vina di kiri dan kanan untuk membawa nya kedalam lift atau lebih tepat sedikit kearah menyeret, hal tersebut mereka lakukan dikarenakan sang sahabat terlihat sedang merajuk kepada kedua nya yang mengabaikan nya tadi.
"Tu lihat bibir nya maju tau, entar mirip sama ikan cucut ih." Ledek Yuna sambil menoel pipi Vina yang masih kesal dengan kedua sahabat nya itu.
"Oohh.. Tu bibir lagi ngirim sinyal buat dicium kali yun?" Anna pun ikut meledek Vina.
"Masa sech An, mana-mana sini aku mau lihat sampai mana sudah sinyal nya. Jangan sampai sinyal nya nyasar sampai kealien An, nanti alien nya ketagihan malah bibir nya dicopot..." Yuna pun tak kalah meledek.
Anna dan Yuna tertawa sambil terus meledek Vina tanpa peduli yang diledek sudah menaikan level kesal nya ke pada kedua sahabat nya itu. Untung nya didalam lift itu hanya ada mereka bertiga sehingga Yuna dan Anna semakin menjadi-jadi melancarkan ledekan nya terhadap sang korban. Tidak tau kah mereka kalau sang korban sedang bersiap untuk melancarkan drama nya atau kedua teman nya itu lupa kalau yang sedang mereka ledek adalah sang ratu drama yang akan beraksi di setiap ada kesempatan untuk nya.
"Terus saja terus sampai kalian merasa bahagia karena telah menyiksa aku seperti ini, aku terima dan pasrah.. Tak akan jadi masalah untuk ku, lanjutkan saja mau kalian." Ucap Vina dengan mata yang berkaca-kaca seolah-olah hendak menangis dan wajah sedih.
Nah kan mulai dech!!!
Yuna yang menyadari akan drama yang sudah dimulai, memutar mata nya malas. Berbeda dengan Anna yang langsung memeluk Vina, namun yang dilakukan nya adalah memeluk erat tubuh mungil Vina yang mana membuat Vina merasa sesak dan meminta ampun untuk dilepaskan. Hal itu dilakukan Anna karena gemas dengan sahabat nya itu, Yuna yang melihat Vina seperti nya sudah mulai sesak nafas itu pun hanya tertawa.
Lift yang membawa mereka kelantai paling atas, dimana disana cuma terdapat dua unit saja. Namun sebelum nya tadi Yuna terlebih dahulu berhenti dan turun di satu lantai dibawah lantai mereka sekarang karena ingin ke unit nya dulu untuk mengambil baju untuk dibawa ke toko dan berjanji menyusul mereka setelah nya.
Kini Anna dan Vina memasuki unit yang mereka tuju, Anna langsung menuju kamar nya karena ingin mandi, karena tadi diri nya sengaja tidak mandi dengan alasan malas saja jadi lah dia hanya cuci muka dan gosok gigi saja.
"Vin, aku mandi dulu ya.." Teriak Anna dari dalam kamar.
"Iya..." Jawab Vina tak kalah nyaring.
Vina yang merasa bosan duduk sendirian diruang tamu pun mulai bangun dari duduk nya, dia mengamati ruangan-ruangan yang ada disana masih dari tempat nya berdiri tadi. Kemudian dia memberanikan diri untuk berkeliling melihat-lihat apa saja yang menarik perhatian nya, unit apartemen yang sekarang dia perhatikan itu sendiri terbilang besar kalau untuk ditinggali sendiri menurut Vina. Dikarenakan memiliki 2 lantai, dan ada beberapa kamar juga dilantai atas dibawah, untuk kamar Anna sendiri ada dibawah tepat disamping tangga kelantai atas.
"Besar banget ni unit kalau dihuni sendiri.." Gumam Vina sambil berjalan menuju jendela kaca besar disudut salah satu ruangan, diri nya nampak nya terpesona akan pemandangan perkotaan dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi serta hiruk pikuk nya jalan-jalan dibawah sana dengan mobil-mobil yang berjejer bagaikan semut kecil yang bergerak pelan mungkin karena macet walaupun sudah lewat jam-jam padat di pagi hari. Vina seperti terhipnotis melihat pemandangan tersebut, sampai iya merasakan panggilan alam yang mendesak.
"Duh... Ganggu aja dech, toilet nya dimana ini?" Omel vina sambil mencari-cari dimana letak toilet di ruangan itu. Sampai akhir nya diri nya ke area dapur dan menemukan toilet disana.
Sementara itu Luke pun sudah sampai didepan unit apartemen nya, edo sendiri tidak ikut naik karena diminta kembali kekantor untuk mengambil beberapa berkas penting yang harus segera diserahkan kepada Luke.
Luke yang telah masuk kedalam unit nya langsung menuju dapur untuk meminum beberapa vitamin karena itu sudah jadi kebiasaan nya di pagi hari. Vina yang sudah menyelesaikan panggilan alam nya kini keluar dari toilet dan terkejut karena melihat punggung laki-laki yang seperti nya sedang membongkar salah satu laci yang ada diarea kitchen set disana, Vina yang merasa tadi hanya berdua dengan Anna pada saat masuk dan tak ada orang lain apa lagi laki-laki disana menjadikan nya berpikir bahwa orang itu adalah orang yang menyelinap masuk atau mungkin saja seorang penjahat. Tanpa ragu Vina mengambil kemoceng yang tergantung di dinding didekat toilet yang akan digunakan untuk memukul sang penjahat, dan tampa berpikir lagi kemoceng yang sudah ditangan pun sudah mendarat beberapa kali dipunggung laki-laki dihadapan nya tak hanya itu kini sepatu nya pun tak lupa Vina layangkan tepat mendarat di kepala korban nya.
Lagi-lagi sepatu Vina makan korban!!
Luke yang merasa tiba-tiba ada benda yang menghantam punggung nya bertubi-tubi itu pun tersentak kaget dan melepaskan gelas yang dipakai untuk minum vitamin nya itu yang mana terjun bebas kelantai bersama beberapa vitamin yang belom sempat ditelan nya. Belum reda rasa kaget nya kini dia merasa kepala nya pusing akibat benturan keras dari sebuah benda yang membuat nya terhuyung hampir terjatuh kelantai kalau saja tangan nya tidak reflek bertahan dimeja kompor kitchen set nya.
"Awas kamu ya, berani-berani nya menyusup masuk kesini hah.. Rasakan itu kekuatan sepatu ku!!!" Ucap Vina masih dengan semangat nya memukul punggung Luke yang sudah terhuyung jatuh.
Luke yang merasa mengenali suara yang iya dengar, berusaha membalikan badan nya dan menangkap tangan mungil yang dengan semangat memukuli nya dengan kemoceng. Dan benar saja, orang yang memukuli nya adalah Vina yang mana akibat gerakan luke yang tadi tiba-tiba berbalik membuat Vina oleng dan hampir saja menginjak pecahan kaca dari gelas yang terjatuh dari tangan Luke. Luke dengan sigap memeluk dan menjauh kan Vina dari pecahan kaca yang berserakan disana, Vina pun sangat terkejut karena gerakan Luke yang tiba-tiba berbalik dan memeluk nya kemudian mengangkat tubuh mungil nya seperti koala di pelukan Luke yang memindahkan nya dari area dapur keruang makan yang letaknya tak jauh. Luke mendudukkan diri nya diatas meja makan dan memeriksa kaki Vina kalau saja ada yang terkena pecahan gelas yang pecah tadi, Vina hanya diam saja karena masih syok melihat siapa yang ada dihadapan nya saat ini. Orang yang tadi disangka nya seorang penjahat ternyata adalah Luke, belum lagi tadi diri nya memukul dan melempari nya dengan sepatu dan sekarang Luke sedang berlutut memperhatikan kaki nya untuk memastikan tidak terkena pecahan kaca. Ahhhh.... Tolong, Vina malu dan ingin menghilang saja rasa nya, Vina meringis dan menutup muka nya dengan kedua telapak tangan nya karena malu mengingat kejadian tadi. Luke tersenyum melihat Vina tiba-tiba meringis dan menutup muka nya, Luke yakin kalau sekarang Vina sedang merasa malu. Luke pun berdiri dan berjalan mengambil sepatu yang tadi Vina gunakan untuk melempari nya kemudian membersikan sepatu tersebut takut kalau ada pecahan kaca yang masuk kedalam sepatu tersebut lalu memakaikan nya kembali ke kaki Vina dengan posisi Vina yang masih duduk dimeja makan.
"Jangan dipandangi terus, nanti makin jatuh hati terus ingin memiliki.." Ucap Luke yang tersenyum memandang Vina dari bawah karena masih berlutut dihadapan Vina.
Vina masih terpaku memandang senyuman Luke yang membuat nya terpana, dan Luke semakin terkekeh melihat wajah Vina yang lihat tampak bengong itu, Luke pun bangun perlahan dari posisi berlutut nya dan mendekat kan wajah nya hingga hampir tak berjarak dari wajah Vina. Vina pun menutup mata nya sambil menahan nafas nya melihat wajah Luke yang hampir tak berjarak dari wajah nya.
"Vin.... Vina, tolongin dong! kamu dimana sech?" Terdengar suara Anna yang berteriak kencang dari dalam kamar nya.
Mendengar teriakan Anna, Vina yang tadi menutup mata nya pun membuka mata nya dan terkejut dan tiba-tiba saja Luke mengecup bibir nya dengan cepat kemudian menurunkan Vina dari duduk nya diatas meja. Setelah turun dari atas meja, Vina langsung berlari masuk kedalam kamar Anna dengan jantung yang hampir copot belum lagi wajah nya yang merona dan ditambah lagi nafas yang memburu seperti habis lari maraton yang Vina rasa kan kini.
Luke yang melihat Vina yang langsung kabur setelah menampakan kaki nya dilantai itu pun tersenyum senang karena telah berhasil menggoda dan mengecup bibir mungil yang selalu membuat nya gemas, kemudian terdengar suara pintu yang terbuka dari arah depan. Terlihat Edo masuk dengan membawa beberapa berkas dan juga sekeranjang buah, Edo langsung menghampiri Luke yang masih berdiri ditempat nya tadi masih dengan senyuman nya.
"Ada apa, koq senyum-senyum gitu?" Tanya Edo bingung melihat Luke dengan senyuman yang masih mengembang.
"Tolong kamu bersihkan itu ya, aku mau mandi dulu." Bukan nya menjawab pertanyaan Edo, Luke malah menyuruh Edo membersihkan pecahan gelas yang masih berserakan yang ditunjukan dengan dagu nya lalu melenggang naik kelantai dua menuju kamar nya masih dengan senyum nya yang tak luntur.
Edo yang disuruh hanya menganggukkan kepala nya dan segera membereskan kekacauan dari pecahan gelas setelah meletakan keranjang buah dan berkas yang dia bawa tadi diatas meja makan.
Edo dibuat bingung kenapa bisa dapur berantakan dengan pecahan gelas berserakan, ada beberapa butir vitamin juga dan tak lupa bulu kemoceng yang juga berhamburan disana.
"Ada apa ya, koq bisa-bisanya berantakan begini? Dia kan paling gak suka hal yang berantakan, belum lagi senyum-senyum gitu. Ihh koq aku jadi merinding ya." Edo bergidik merasa kalau bulu kuduk nya meremang sambil memperhatikan Luke yang naik kelantai dua dan menghilangkan dibalik pintu kamar nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih untuk dukungan nya 💜borahe💜