"Sweet Bride, Vevina & Luke Story"

"Sweet Bride, Vevina & Luke Story"
22. Whit U...



Luke masih duduk dalam diam, diri nya kini duduk disalah satu bangku yang posisi nya berada disalah satu pojok diruang tunggu namun dari posisi nya sekarang diri nya bisa dengan jelas melihat kearah pintu ruang praktek dokter Kim, dimana Vina beserta mamah Laura masih belum keluar dari sana.


Luke merasa penasaran siapa kah yang sedang diperiksa, diri nya takut bila sang gadis ceroboh nya lah yang sedang diperiksa mengingat kejadian kemarin pagi yang heboh akibat ulah gadis nya itu, yang mana membuat nya geleng-geleng dengan senyum lebar dibalik masker yang kini dikenakan nya.


Disaat nya diri nya masih memperhatikan pintu ruang praktek dokter Kim yang belum juga terbuka, Luke mendengar seorang ibu dan anak yang sedang berbicara dengan tangis sang ibu yang terdengar pilu tak jauh dari posisi diri nya duduk sekarang.


Posisi kedua nya yang saling memeluk membuat mereka tak menyadari keberadaan Luke dipojok ruang tersebut, dari posisi nya Luke sedikit banyak bisa mendengar pembicaraan mereka, sang anak yang menguatkan sang ibu bahwa sang adik pasti akan segera pulih dan sehat serta tidak akan tergantung dengan obat-obatan lagi setelah menjalankan operasi yang akan berlangsung beberapa jam lagi.


Sang ibu semakin terisak memeluk sang anak, sang ibu mengatakan sangat menyayangi kedua putri nya. Luke ikut merasa kan sesak di dadanya, mendengar dan melihat bagaimana ibu tersebut menangis namun diri nya masih diam dan tetap memperhatikan pintu ruang praktek dokter Kim dengan harapan kalau gadis nya cepat keluar dari sana dalam keadaan baik-baik saja.


Setelah sang ibu tersebut tenang, sang anak pun menerangkan kepada sang ibu bahwa biaya operasi dan perawatan sang adik selama berada di rumah sakit hanya akan dikenakan setengah nya kepada mereka dari seluruh biaya yang seharusnya. Sang ibu yang mendengar hal tersebut hanya diam dengan raut wajah kebingungan, sang anak kemudian menjelaskan bahwa itu adalah kebijakan dari pihak klinik dikarenakan dulu almarhum sang ayah adalah salah satu pegawai klinik tersebut.


"Kita harus mengucapkan terima kasih atas bantuan mereka yang sangat meringankan tapi...." Ucapan sang ibu menggantung saat seorang pegawai klinik menghampiri mereka berdua. Pegawai tersebut bertanya apakah kedua nya adalah keluarga dan juga wali dari pasien bernama Esther? Sang ibu mengangguk membenarkan, pegawai tersebut lalu meminta kedua nya untuk bisa datang keruangan kantor administrasi klinik tersebut yang terdapat dilantai atas, pegawai tersebut menjelaskan ada beberapa hal yang perlu dibicarakan dan juga ada perwakilan pimpinan dari klinik tersebut yang ingin bertemu langsung dengan keluarga dan wali pasien.


Luke yang dari tadi mendengar kan percakapan ibu dan anak itu pun ikut merasa prihatin atas apa yang sedang dialami keluarga tersebut dengan masih memperhatikan pintu ruang praktek dokter Kim yang masih tertutup, tiba-tiba saja diri nya tersentak kala pegawai dan sang ibu tersebut menyebut nama sang putri yang akan menjalani operasi adalah Esther. Pikiran Luke segera melayang kepada sosok gadis kecil yang telah membangun kan nya kemaren pagi, sosok gadis kecil yang mampu membuat nya tersenyum setelah melewati malam dimana trauma nya kembali kambuh dan menghantuinya.


Luke masih memasang telinga nya kembali untuk mendengar dan memastikan apakah benar nama putri sang ibu yang akan menjalani tindakan operasi itu adalah Esther, entah kenapa hati nya berkata kalau putri dari sang ibu yang bernama Esther dan Esther gadis kecil yang diri nya kenal walau sesaat itu adalah orang yang sama. Setelah ketiga orang tadi berlalu dari sana Luke merogoh saku jaket yang dikenakan nya untuk mengambil telpon pintar nya, Luke menekan layar telpon nya untuk menghubungi sang asisten yang terpisah dengan diri nya kala dikejar para pemburu berita tadi.


"Haloo Do, tolong carikan informasi tentang pasien yang akan menjalankan dioperasi hari ini bernama Esther." Perintah Luke dan setelah nya langsung memutuskan sambungan telepon tersebut dan kembali menatap kearah pintu ruang praktek dokter Kim kembali.


Sedangkan diruangan praktek dokter Dita, Edo yang baru saja mengangkat sambungan telpon dibuat kesal oleh Luke. Belum sempat diri nya bicara, Luke sudah memberikan nya perintah dan memutuskan sambungan telpon nya. Namun Edo bisa merasa lega, berarti Luke sedang baik-baik saja sekarang.


Dita yang dari tadi ikut cemas karena Luke yang menghilang menatap Edo dengan penasaran apa yang dikatakan Luke dan dimana Luke sekarang berada, Edo yang sadar ditatap oleh dokter Dita membuat nya punya berpikir untuk bertanya kepada dokter Dita saja tentang apa yang tadi diperintahkan oleh Luke dari pada diri nya harus repot-repot bertanya kebagian administrasi. Kalau ada jalan yang mudah kenapa harus mencari yang sulit pikir Edo, pasti akan lebih mudah akses mencari tau tentang pasien bila sang dokter yang mencari tau kan!


"Bagaimana, dimana Luke sekarang? Ayo kita jemput dia.." Tanya dokter Dita antusias.


"Dia baik-baik saja seperti nya, entah lah! Aku belum sempat bertanya, sudah ditutup duluan." Jawab Edo kesal.


Edo lalu berpikir apakah kira-kira dokter Dita mau atau tidak membantu nya untuk mencari jawaban dari apa yang diperintahkan oleh Luke tadi.


"Benarkah?!! Lalu dimana dia sekarang ya.


Edo hanya mengangkat kedua bahu nya tanda kalau diri nya pun tau dimana Luke sekarang berada.


Tok tok tok


"Permisi dok, ini laporan yang diminta untuk pertemuan dengan keluarga pasien nanti." Seorang perawat yang juga asisten dokter Dita masuk memberikan laporan nya.


"Terima kasih, ini laporan pasien yang akan operasi jantung itu kan ya?"


"Iya dok, maaf saya permisi dulu." Pamit sang asisten keluar dari ruangan tersebut.


Dengan iseng nya Edo mencoba mencuri liat laporan yang diserahkan oleh asisten dokter Dita tadi, posisi duduk Edo yang berhadapan dengan dokter Dita yang dibatasi meja kerja sang dokter entah mengapa membuat nya jadi kepo dengan laporan tersebut.


"Kenapa?" Dokter Dita sepertinya menyadari kalau Edo ingin melihat laporan yang diberikan oleh asisten nya tadi.


"Hanya ingin tau." Jawab Edo cuek.


"Untuk apa? Tak ada keuntungan nya juga kamu tau isi laporan ini." Jawab Dokter Dita.


"Luke meminta tolong untuk mencari seorang pasien yang akan dioperasi hari ini, bisa bantu cari kan?" Jujur Edo


"Untuk apa dan nama nya siapa?" Dokter Dita mengkerutkan alis nya bingung.


Edo hanya mengangkat kedua bahunya.


"Baik lah, siapa nama nya?" Dokter Dita bertanya lagi.


"Luke hanya bilang dia akan dioperasi. Kalau tidak salah nama nya Esther." Jawab Edo santai.


"Entah, kau tanya saja sendiri dengan Luke. Jadi kau tau pasien yang dimaksud Luke?" Yang dijawab dokter Dita dengan anggukan dan menunjuk kembali laporan yang dibawa asisten nya tadi.


Diruang praktek dokter Kim, pemeriksaan Vina sudah selesai dilakukan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan hanya saja ada otot-otot yang tertarik pada saat Vina terjatuh yang mengakibatkan nyeri dan sakit, dokter Kim hanya memberikan nya salep dan obat mereda nyeri untuk beberapa hari ke depan.


"Vina lain kali harus lebih hati-hati ya, tak ada yang perlu dikhawatirkan." Jelas dokter Kim dengan senyum.


"Iya dok." Jawab Vina


"Jadi anak saya tidak cidera kan dok?" Tanya mamah Laura memastikan.


"Iya bu, putri ibu baik-baik saja hanya ada luka memar dan mungkin masih syok akibat jatuh." Jelas dokter Kim kembali.


Sedangkan diluar, Luke yang masih menunggu kapan sang gadis nya keluar dari ruangan praktek dokter Kim mendapatkan pesan dari sang asisten kalau sudah mendapatkan apa yang diperintahkan tadi. Kini Edo dan dokter Dita sedang menuju ruang perawatan Esther, Luke pun hendak bergegas ingin memastikan nya sendiri. Pada saat Luke berdiri dari duduk nya diri nya dibuat terkejut dengan seseorang yang berdiri tepat dihadapannya sekarang dengan senyum manis nya.


"Kakak sedang apa disini? Apa kakak sakit? Kakak sendirian saja? Asisten kakak mana trus Anna juga mana kak?" Tanya Vina bertubi-tubi.


Cerewet nya Vin ckckck...


Luke yang terkejut dengan kedatangan Vina yang tiba-tiba berdiri dihadapannya itu lalu mencubit hidung sang gadis dengan gemas nya.


"Kamu datang tiba-tiba sudah seperti hantu saja, kalau aku jantungan bagaimana?" Omel Luke yang dibalas tawa oleh Vina.


Tadi saat Vina dan mamah Laura keluar dari ruangan dokter Kim setelah pemeriksaan nya selesai, Vina menyadari ada sosok yang dia kenal sedang duduk sendirian dipojok ruangan tunggu. Diri nya meminta ijin kepada mamah Laura untuk menyapa orang tersebut, sedangkan mamah Laura sendiri melanjutkan naik kelantai atas untuk bertemu dengan keluarga dari seorang klien nya yang sedang dirawat disana dan meminta Vina untuk menyusul nya nanti.


"Jadi kakak sedang apa disini?" Tanya Vina kembali.


"Menurut mu aku sedang apa?" Tanya Luke balik yang membuat Vina mendelik menatap nya.


"Kamu sendiri sedang apa disini dan siapa yang diperiksa tadi?" Tanya Luke juga penasaran.


"Ohh.. Aku, hanya memar saja tidak ada yang cidera juga." Jawab Vina keceplosan, dan setelah nya menutup mulut nya dengan tangan menyadari diri nya keceplosan.


Dengan gerak cepat Luke tiba-tiba memeluk Vina atau lebih tepat nya menyembunyikan Vina dalam dekapan nya, Vina yang dipeluk tiba-tiba oleh Luke merasa terkejut dan mematung dengan degup jantung yang tak normal. Luke memutar tubuh nya untuk menutupi tubuh mungil yang kini ada didekapnya, karena dari arah berlawanan dengan mereka ada beberapa orang pemburu berita berjalan menuju pintu yang berada di koridor samping yang terhubung dengan ruang tunggu klinik tersebut.


Luke berharap tak ada yang mengenali dan sadar akan diri nya sekarang, sedangkan Vina tanpa sadar menyenderkan kepala nya di dada bidang itu serta menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang telah bercampur dengan aroma parfum yang menenangkan untuk nya. Luke yang menyadari bila sang gadis menyenderkan kepalanya di dada hanya diam dan tersenyum menikmati nya, untung saja keadaan dipojok ruangan tersebut tidak lah ramai hanya ada beberapa orang yang berlalu-lalang melewati pintu koridor samping.


Namun tanpa kedua nya sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari tangga darurat yang berada disisi samping pintu koridor samping tak jauh dari posisi mereka sekarang.


.


.



Edo sang asisten yang panjang sabar.......


.


.


.


.


.


Terima kasih untuk dukungan nya 💜borahe💜