
"Ada apa ini?" Tanya nya berdiri tepat dibelakang Lia.
Kedua resepsionis dan securiti serta beberapa karyawan yang ada disana pun terlihat menunduk hormat kepada perempuan tersebut. Sedangkan Lia masih berdiri ditempat nya dan memperhatikan beberapa orang dihadapannya yang nampak menunduk hormat kepada perempuan dibelakang nya.
"Ini bu, ada kurir gak tau diri. Lagak nya ingin bertemu dengan pak Adrian." Olive menjawab dengan bersemangat.
Mendengar perkataan Olive yang lagi-lagi julid, Yuni dengan sengaja menginjak kaki rekan kerja nya itu dengan hak sepatu yang iya kenakan hingga nampak wajah Olive yang seketika meringis dan menatap tajam kearah Yuni yang disambut Yuni dengan tatapan yang tak kalah tajam seraya melotot yang seolah terlihat mata Yuni hendak melompat keluar dari sarang nya. Melihat pelototan dari rekan kerja sekaligus senior nya itu membuat nyali Olive menciut serta menundukkan pandangan nya kebawah.
" Kurir, maksud kalian dia?" Tanya perempuan tersebut terdengar tegas dengan menunjukkan kearah Lia yang berdiri membelakanginya.
"Maaf bu, nona ini tadi hanya bertanya apa bisa bertemu dengan Pak Adrian. Dan nona ini pun tidak menyatakan kalau sedang mengantar atau mengirim sesuatu." Jelas Yuni dengan tenang.
"Ohh.. Jadi ingin bertemu dengan pak Adrian, ada keperluan apa?" Perempuan tersebut memperhatikan penampilan Lia yang sekarang mengenakan outfit serba hitam.
Lia yang merasa ditanya dengan gerakan perlahan membalikan tubuh nya guna bisa berhadapan dengan perempuan yang ada dibelakang nya.
"Ada keperluan apa ya jadi ingin bertemu dengan pak Adrian?" Tanya perempuan itu kembali setelah diri nya kini telah berhadapan dengan Lia.
Lia yang ditanya kembali oleh perempuan itu berusaha menyembunyikan kekesalan nya dan tersenyum ramah sebelum menjawab pertanyaan perempuan itu, saat Lia hendak mulai mengutarakan maksud nya tampak para beberapa securiti berlarian kearah pintu utama lobby yang juga disusul perempuan yang tadi menanyakan maksud Lia mencari sang boss.
Tak lama beberapa orang pun keluar dari lift yang baru saja terbuka nampak nya seperti buru-buru menuju pintu lobby yang kini telah terparkir beberapa mobil mewah tepat didepan nya, seperti nya akan menyambut tamu atau ada orang penting pikir Lia yang ikut mengamati dari tempat iya berdiri dari tadi.
Tak lama nampak beberapa orang turun dari mobil mewah tersebut dan yang paling menyita perhatian Lia adalah sang suami termasuk salah seorang yang turun dari salah satu mobil tersebut namun Lia nampak tak mengenali mobil itu karena seingat nya itu bukan lah mobil yang suami nya pakai tadi pagi saat berangkat. Melihat sang suami membuat Lia berniat menghampiri nya, namun baru dua langkah kaki nya bergerak diri nya dibuat tertegun melihat pemandangan dihadapan nya sekarang.
Dari dalam mobil yang sama dengan suami nya tumpangi tampak seorang wanita pun turun dengan anggun dan dengan mesra merangkul lengan Adrian saat kedua nya berjalan memasuki lobby.
"Wahh... Boss selera nya benar-benar gak kaleng-kaleng ya, tau aja barang bagus."
"Iya lah, boos gitu loo. Masa iya mau sama yang burik kaya kita gini. Kalau bukan model kelas atas ya pastilah cewek-cewek dari kalangan atas juga lah yang setara."
"Ingat gak, yang minggu lalu seperti nya gak ada apa-apa nya dari yang hari ini ya."
Suara-suara beberapa pegawai yang sedang menggosipkan sang boss terdengar ditelinga Lia yang masih berdiri tertegun seraya menyaksikan sang suami yang berjalan bergandengan dengan seorang wanita.
Dari arah belakang sang boss, tak tau dari mana muncul nya tiba-tiba saja sang supir yang tadi nya ditugaskan untuk mengantarkan sang nyonya datang dengan berlari kecil mengejar sang majikan, setelah berhasil mengejar sang majikan diri segera melaporkan kepada sang majikan bahwa sang nyonya kemungkinan telah sampai di gedung tersebut dengan mengendarai motor yang kini telah terparkir sempurna dibelakang pos securiti gedung tersebut.
Tampak raut wajah Adrian yang menegangkan dan menatap marah kearah sang supir, namun hal tersebut tak berlangsung lama karena dari jarak nya yang tak terlalu jauh Lia biasa melihat wanita yang dari tadi menggandeng suami nya dengan mesra mengelus punggung laki-laki nya seperti sedang berusaha membuat nya tenang.
Lia mengepalkan kedua tinju nya melihat pemandangan mesra sang suami bersama wanita yang tak iya kenali ditambah lagi diri masih dapat mendengar dengan jelas beberapa pegawai yang tak jauh dari posisi nya berdiri sekarang bergosip tentang sang boss dengan beberapa wanita walau pun dengan suara yang pelan nyaris seperti orang yang sedang berbisik.
Seketika hampir semua mata yang ada diruangan besar tersebut tertuju pada tubuh mungil Lia yang sekarang berdiri tak jauh dari kerumunan yang tadi nya terlihat sibuk menyambut kedatangan sang boss berserta tamu-tamu nya. Adrian pun menoleh kearah suara yang terdengar sarat akan nada kemarahan di intonasi, tak lama mata nya membulat melihat sosok mungil yang berdiri tak jauh dari nya sekarang. Terlebih terlihat tatapan nyalang tertuju pada nya, Adrian seperti membeku tak dapat bergerak hingga bernafas pun terasa sesak untuk sesaat.
Para securiti yang tadi nya ikut terdiam kini dengan cepat berjalan menghampiri Lia dengan maksud untuk mengamankan Lia yang dirasa telah bersikap tak sopan terlebih sekarang ada beberapa tamu penting dan juga sang boss disana. Adrian yang sadar ada yang salah dengan istri nya bermaksud menghampiri sang ibu negara namun langkah nya terhenti kala tangan nya yang digandeng wanita disamping nya justru menahan nya agar tidak mendekat kearah Lia.
"Udah biarin aja securiti yang urus, ngapain buang-buang waktu." Tegas wanita tersebut dengan menarik tangan Adrian.
"Lepas!!"
Adrian menghempas tangan wanita tersebut dengan kuat kala diri nya melihat para securiti semakin mendekat kearah sang istri, wanita tersebut terhuyung hingga mundur beberapa langkah dan terkejut dengan reaksi Adrian.
"Anak bodoh, sudah punya istri juga masih juga ngurusi bocah. Awas saja kalau aku ketemu dengan istri mu, akan ku adukan." Umpat wanita tersebut setelah bisa menyeimbangkan tubuh nya yang hampir saja jatuh tersungkur.
Lia yang telah terpantik emosi akibat kejadian sebelum nya kini bagaikan tersiram bahan bakar dan bersiap meledak, melahap apa saja yang ada dihadapannya. Jangan lupa kan kepalan tinju yang kini telah siap melayang menyapa apa yang bisa digunakan sebagai pelampiasan emosi nya, beberapa securiti yang datang tanpa basa-basi bermaksud menggiring Lia untuk keluar dari ruangan tersebut karena dirasa mengganggu dan telah berbuat onar dengan berteriak tak sopan.
Namun belum juga bisa menyentuh atau pun menggiring nya keluar ruangan, justru tinju Lia sudah terlebih dahulu menyapa kedua securiti yang ada dihadapannya. Kedua nya pun langsung terhuyung menerima tinju nya tanpa perlawanan, tak ayal suasana diruangan besar tersebut semakin ramai dengan kerumunan para pegawai lain nya yang penasaran dengan apa yang terjadi.
Adrian berjalan pelan mendekati Lia yang menatap nya dengan tajam, Adrian nampak pucat setelah menyaksikan kedua karyawan nya yang tumbang akibat tinju sang ibu negara api tersebut.
"Saaa.... Sayang.." Ucap Adrian pelan dan terbata seraya berjalan mendekat kearah sang istri.
Lia semakin menyoroti Adrian dengan tatapan nyalang nya dan juga kepalan tangan nya yang siap kembali meninju. Yang mana hal tersebut membuat para penonton semakin penasaran.
"Lia...." Terdengar suara yang lantang dari arah pintu lobby.
.
.
.
.
.
Terima kasih untuk dukungan nya 💜 Borahe 💜