"Sweet Bride, Vevina & Luke Story"

"Sweet Bride, Vevina & Luke Story"
31. Rencana Jack.



Kini Anna dan Yuna telah bersama dengan Vina duduk santai di teras samping rumah kediaman Tirtayasa, mereka larut dalam obrolan sambil menikmati kue dan kopi yang dibeli Anna di cafe tadi.


Sedangkan diruang kerja ayah David kini mamah Laura baru saja mengakhiri sambungan telpon dengan sang kakak yang jauh diseberang sana, mamah Laura memijit pangkal hidung nya untuk mengusir rasa pusing yang mendadak datang setelah mendengar kabar yang disampaikan oleh sang kakak.


"Sayang.." Ayah David yang dari tadi duduk disamping Bu sang istri meremas lembut tangan mamah Laura seolah memberi kekuatan untuk nya.


"Sayang, aku tak sanggup kalau harus melihat nya terpuruk lagi.." Ucap mamah Laura sambil terisak.


Ayah David dengan cepat menarik sang istri masuk kedalam pelukan nya dan mengelus lembut punggung sang istri.


"Sayang, bagaimana pun keadaan nya ini sudah suratan takdir mereka." Ayah David berusaha menguatkan sang istri.


Sedangkan dilantai 2 rumah tersebut tepat nya di balkon yang dijadikan taman mini tanaman kaktus koleksi nya Jack, nampak Jack sedang mengobrol dengan seseorang diseberang sana melalui sambungan telepon.


"Baiklah aku tunggu dirumah ya. Sekalian juga ada beberapa dokumen yang harus aku serahkan untuk mu tanda tangan, itu berkaitan dengan lembaga yang akan segera beroperasi. Iya, sampai jumpa." Jack menutup sambungan telepon nya lalu bergegas turun kelantai bawah.


Ditempat lain, nampak Luke bersama Edo sedang berada di kantor agensi setelah menyelesaikan beberapa photo shoot bersama para model lain nya yang juga bernaung dibawah agensi tersebut.


"Kamu yakin dengan keputusan mu, coba pikir-pikir dulu lah Luke." Sang boss nampak frustasi mendengar pengajuan pengunduran diri Luke setelah semua kontrak nya selesai nanti nya.


"Iya, yakin.. Sangat yakin!" Jawab nya dengan senyuman.


Sang boss hanya bisa menghela nafas dengan wajah sangat frustasi.


"Baiklah kalau memang ini keputusan mu, tapi bila kau berubah pikiran semua nya akan siap seperti biasa nya kau butuhkan." Sang boss masih tetap berharap.


Luke hanya tersenyum dan mengangguk saja, lalu berpamitan setelah berjabat tangan dengan sang boss. Luke pun keluar dari gedung agensi tersebut menuju parkiran dimana Edo telah menunggu didalam mobil.


"Bagaimana, lancar?" Tanya Edo saat Luke telah masuk dan duduk dikursi penumpang.


"Ya pasti tidak akan lancar, kau tau sendiri boss bagaimana." Jawab Luke.


"Tapi bisa kan?" Tanya Edo dengan penasaran.


"Iya." Jawab Luke singkat.


Edo pun melajukan mobil nya kemudian disela-sela obrolan mereka yang masih membahas tentang pengunduran diri Luke dari agensi yang selama ini menaungi dirinya.


Ditempat lain selanjutnya, tampak Lia dan Adrian sedang beradu argument. Lia nampak emosi dengan mata berkaca-kaca dan wajah yang masam setelah Adrian menolak ajakan nya untuk datang kerumah kediaman keluarga Tirtayasa setelah tadi mereka pulang dari cafe.


Sebenarnya Adrian tak menolak untuk pergi berkunjung ke sana namun yang Adrian khawatir dengan kondisi sang istri yang semenjak kepergian mereka dari cafe tadi, Lia tampak murung dan menangis walau dalam diam. Adrian takut Lia akan semakin tertekan bila sekarang mereka harus berhadapan langsung dengan keluarga Tirtayasa yang tidak lain adalah keluarga sang istrinya tersebut.


Namun kehendak Lia tak dapat ditolak oleh Adrian, diri nya pun akhirnya mengalah demi sang istri tercinta nya yang sudah mengeluarkan jurus ngambek nya dengan mendiamkan nya sepanjang siang itu dan mengurung diri didalam kamar.


Adrian memilih untuk menguatkan mental dan juga harus siap dengan semua resiko yang akan datang setelah menemui keluarga sang istri, yang juga tak lain itu adalah keluarga dari gadis yang pernah iya lukai hati nya dulu. Adrian diam mematung memandang pantulan dirinya didepan cermin besar yang juga berfungsi sebagai dinding didalam kamar mandi nya, Adrian baru saja selesai membersihkan diri. Bayangan masa lalu seperti tamu yang tak undang mampir diingatan nya.


Terlintas bayangan dimana diri nya merengek kepada sang mami untuk bisa menjodohkan diri nya dengan gadis yang selalu bisa membuat nya nyaman didekat nya saat itu, kemudian bayangan itu bergantian dengan disaat diri nya yang dengan tega nya menghancurkan hati gadis tersebut dan pergi setelah melepaskan tali perjodohan yang dulu diri nya ingin kan.


"Naif... Kau memang bodoh Ardian!!" Maki nya pada diri nya sendiri.


Ingatan nya pun beralih pada saat diri nya bertemu dengan Lia 1 tahun lalu disebuah klub malam, dimana Lia adalah seorang DJ di klub tersebut. Diri nya yang memang sudah mengenal Lia dibuat terkejut akan pekerjaan Lia saat itu, namun yang lebih membuat nya terkejut adalah diri nya seperti melihat sosok gadis yang dulu iya lukai dalam versi yang berbeda.


Dari saat itu seperti terdapat magnet di antara mereka berdua, terlalu banyak kebetulan yang mempertemukan mereka hingga sebuah kondisi yang membuat kedua nya memilih untuk bersama. Namun kedekatan mereka itu jelas ditentang oleh orang tua Lia, jelas mereka tau siapa Adrian. Hal tersebut lah yang membuat mereka berusaha membuat kedua nya terpisah, tapi semua sia-sia saat Lia memutuskan kabur dan menikah dengan Adrian di Singapura yang tidak lain adalah negara tempat Adrian tinggal.


"Sayang... Kamu dimana?"


Panggilan dari Lia membuat Adrian tersadar dari lamunannya, diri nya mengusap wajah nya kasar dan menghembuskan nafas nya setelah nya.


"Iya.." Adrian keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit ditubuh bagian bawah nya.


Lia yang melihat pemandangan tubuh sang suami yang hampir setengah badan dipenuhi oleh tato dan juga barisan kotak-kotak pada bagian perut itu terdiam dengan bibir yang tersenyum mesum.


"Heii... Kenapa senyum-senyum hah??" Tanya Adrian yang kini tengah mengeringkan rambut nya dengan handuk kecil.


"Sini aku bantu keringkan" Tawar Lia yang berjalan mendekati sang suami.


"Sudah tak apa, aku saja. Sana mandi saja, kata nya mau ketempat mamah Laura." Tolak Adrian saat sang istri mengambil handuk yang dipakainya untuk mengeringkan rambut nya.


Lia pun menyerahkan kembali handuk yang tadi diambil nya dari tangan suaminya, lalu berjalan masuk kedalam kamar mandi dengan wajah yang masam plus bibir yang maju mirip bibir bebek dan pintu kamar mandi yang ditutup dengan cara dibanting keras oleh Lia.


"Eh kenapa?" Adrian meloncat karena terkejut dengan suara pintu yang dibanting oleh Lia. Pasti ngambek lagi ni tebak Adrian dalam hati sambil memandang pintu kamar mandi nya yang tak punya salah apa-apa tapi kerap jadi sasaran pelampiasan.


Kembali kepada Luke dan Edo yang sekarang baru saja turun dari mobil yang sudah terparkir didepan kediaman keluarga Tirtayasa, nampak Jack langsung menyambut kedua nya. Edo pun hanya mengekor kedua nya masuk kedalam rumah langsung menuju ruangan yang berada disebelah ruang kerja ayah David, sebenarnya Edo masih enggan untuk bertemu dengan Jack namun karena sang boss diri nya pun harus ikut menemani pertemuan tersebut.


Baik Luke dan Edo tidak mengetahui kalau Anna pun berada disana namun diruangan berbeda, begitu pula dengan Anna dan yang lain nya saat ini sama tak mengetahui kedatangan Luke dan Edo.


"Silahkan masuk, silahkan tak perlu sungkan." Ramah Jack kepada mereka berdua


Jack dan Luke duduk disofa yang ada diruangan tersebut, sedangkan Edo memilih untuk duduk dibangku yang berada didekat pintu masuk ruangan tersebut. Diri nya tak ingin mengganggu pembicaraan mereka yang sepertinya serius, dia akan mendekat bila diri nya dipanggil atau dibutuhkan oleh Luke.


"Sebenarnya ada apa Jack sampai kau meminta untuk segera bertemu, ini tidak mungkin hanya masalah berkas-berkas itu kan?" Tanya Luke sambil menunjuk kepada tumpukan map berkas yang tadi nya jadi alasan Jack untuk bicara dengan nya.


Jack tersenyum mendengar pertanyaan Luke, dia mengangguk membenarkan pertanyaan dari Luke tadi.


"Seperti kau paham apa maksud nya, baiklah aku tidak akan basa-basi." Jack menarik nafas panjang sebelum mengutarakan maksud nya kepada Luke yang kini menatap nya dengan penasaran.


"Begini, aku ingin melamar Anna pada saat hari ulang tahun nya yang tinggal beberapa hari lagi."


Jack menatap Luke saat mengutarakan maksudnya lalu diam menanti reaksi Luke mendengar kan apa yang telah diutarakan nya tadi. Luke hanya diam tanpa ekspresi, berbanding terbalik dengan Edo yang duduk dibelakang kedua nya yang menutup mulut nya yang menganga karena terkejut mendengar apa yang Jack ucapakan tadi.


"Baik, lanjutkan.." Ucap Luke menangapi pernyataan Jack tadi dengan datar.


Jack yang melihat reaksi Luke mulai nampak gugup, diri nya seperti bingung ingin melanjutkan perkataannya lagi.


"Hemm... Aku ingin memberikan nya pesta kejutan nya." Jack kembali melirik Luke yang masih dengan ekspresi datar nya. "Aku juga ingin mengajak kalian liburan beberapa hari diluar kota dan aku juga sudah menyediakan semua keperluan disana." Ucap Jack dengan berusaha mengusir rasa gugupnya melihat reaksi Luke yang masih tampak datar menyikapi semua ucapan nya.


.


.


.


.


.


.


.


Terima kasih untuk dukungan nya 💜 Borahe 💜