"Sweet Bride, Vevina & Luke Story"

"Sweet Bride, Vevina & Luke Story"
19. Permintaan Edo



Didalam apartemen kini Luke sedang disibukan dengan membaca beberapa dokumen, dimana dokumen-dokumen tersebut adalah laporan dari beberapa yayasan dan juga tawaran perpanjangan kontrak untuk beberapa pekerjaan yang hampir berakhir. Luke yang sekarang berada disalah satu ruangan dilantai dua unit apartemen nya tersebut yang mana iya jadikan sebagai ruang kerja dan menjadi tempat diri nya menyimpan serta memajang segala bentuk penghargaan yang pernah iya terima selama bergelut di dunia industri hiburan yang telah membesarkan nama nya. Disana juga terdapat barang-barang pemberian fans-fans yang menurut nya layak untuk dipajang, selebih nya barang-barang yang diri nya terima dari para fans nya akan disortir biasa nya dibantu Anna dan Edo untuk disumbangkan kepada panti asuhan yang dinaungi oleh yayasan yang iya bantu danai.


Tak lama terdengar suara ketukan pada pintu di ruangan tersebut yang terbuat dari kaca yang transparan, dapat terlihat dengan jelas Edo yang mengetuk dan berdiri didepan pintu.


"Boleh masuk?" Tanya Edo yang sudah membuka pintu dan masuk kedalam ruangan tersebut.


"Ada apa Do?" Luke bertanya balik ke Edo tanpa melihat nya, diri nya masih fokus membaca dokumen-dokumen yang ada atas dimeja kerja nya sekarang.


"Bisa kita bicara serius? Ini masalah gadis konyol mu itu." Edo menatap Luke yang kini mendongak menatap nya setelah mendengar perkataan Edo.


"Maksud mu apa?" Luke merasa tidak suka dengan perkataan Edo tentang gadis konyol karena Luke tau gadis konyol yang Edo maksud adalah Vina.


"Maaf.. Aku hanya bicara fakta saja." Jelas Edo tanpa rasa bersalah sambil duduk di kursi didepan meja kerja Luke sekarang.


Luke menyenderkan badan nya di kursi yang iya duduki sekarang seraya memperhatikan Edo, tak bisa dipungkiri perkataan Edo ada benar nya juga. Tak salah Edo menyebut nya begitu mengingat kejadian tadi pagi yang membuat nya geleng-geleng kepala.


"Maaf Luke tapi aku serius, kita harus membahas ini. Aku senang kau bisa dekat dengan gadis yang selama ini kau suka, tapi aku harap kau bisa mengendalikan diri mu." Edo menjeda perkataan nya untuk melihat reaksi dari Luke.


Luke yang sedari tadi diam memperhatikan perkataan Edo mulai paham kemana maksud dari perkataan Edo. Diri nya hanya mengangguk-angguk paham saat Edo memandangi nya, iya mengisyaratkan untuk Edo melanjutkan perkataan nya.


"Luke kita semua tau bagaimana besar nya fans mu sekarang, dan jangan lupa para haters yang selalu saja bisa mencari-cari cela. Yang tak ada pun bisa jadi ada, kamu pasti paham maksud ku." Edo kembali mengamati perubahan ekspresi wajah Luke yang diam sedari tadi.


"Jujur saja aku tau bahkan sangat tau gadis mu itu siapa, maksud ku dia adalah adik dari Jack kan? Dan maaf saja Luke aku tidak mau berurusan dengan pengacara galak itu!!" Ucap Edo dengan wajah meringis mengingat kejadian dimana diri nya pernah menerima bogeman mentah dari Jack dikala diri nya yang terlambat menangani haters dari Luke yang menyerang Anna kala itu. Jack yang marah karena gosip yang beredar menyudut kan Anna sehingga Anna sempat dibenci oleh para fans dari Luke, para haters menyebarkan gosip kalau Anna dan Luke bukan lah saudara seperti yang selama ini diakui oleh kedua nya melainkan pasangan yang tinggal bersama tanpa ada ikatan pernikahan. Sehingga banyak gosip yang menjelek-jelekan dan menyudutkan Anna, yang mana sontak saja menyulut amarah sang kekasih yang tidak terima.


Edo tak akan bisa lupa bagaimana marah nya Jack waktu itu, oleh sebab itu lah diri nya pun takut hal itu akan terulang kembali terlebih gadis konyol yang disukai oleh Luke adalah adik semata wayang dari pengacara galak tersebut. Edo mengusap wajah nya kasar disertai hembusan nafas yang berat dari mulut nya. Luke pun tak jauh beda dari Edo, diri nya pun tak luput dari amukan Jack kala itu. Bila Edo mendapatkan bogem mentah dari Jack kala itu maka diri nya tak hanya tamparan dan kata-kata pedas dari kekasih adik sepupu nya itu yang iya dapat kan tapi juga diri nya melihat secara langsung bagaimana Anna yang terpuruk dan sempat jatuh sakit akibat mental nya yang kala itu tak kuat menerima hujatan dan tuduhan-tuduhan yang tidak-tidak dari berbagai pihak. Karier nya pun sempat goyah kala itu, diri nya dibantu oleh tim dan tentu nya Jack pun dengan tegas kala itu mencari dan mengusut tuntas kasus tersebut sehingga dapat memulihkan nama baik Anna dan juga karier nya.


"Kuharap kali ini kau lebih berhati-hati, lindungi gadis mu dengan baik. Aku dan tim akan selalu membantu mu tapi sebaik nya bila tak ada yang tau identitas nya dulu sekarang mungkin akan sangat baik untuk nya dan juga hubungan kalian." Saran Edo untuk Luke.


Sedangkan ditempat lain, tepat nya di ruangan rawat inap disebuah klinik. Esther nampak sedang menatap jendela ruang inap nya yang menampilkan gumpalan awan putih di langit sore, Esther merasakan lelah pada tubuh nya padahal dari pagi diri nya hanya berbaring di ranjang pasien. seakan paham dengan apa yang dirasakan sang kakak, diri nya hanya diam dan tak mengeluhkan apa yang sekarang dirasakan nya. Sejenak diri nya mencuri pandang kearah sang kakak yang sedang bicara pada sang ibu melalui telepon selulernya, Esther tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan karena jarak yang lumayan jauh. Namun Esther dapat melihat dengan jelas ekspresi sang kakak yang nampak sedih dan lelah, andai saja waktu dapat diputar kembali mungkin tadi pagi diri nya tidak nekat mengantar kan roti kepada pelanggan sang kakak mungkin diri nya akan baik-baik saja tapi itu berarti diri nya tidak bertemu dengan sosok yang iya dan sang kakak idolakan selama ini dong.


Esther gadis kecil yang kini terbaring di ranjang pesakitan itu, menderita penyakit jantung bawaan dari lahir, diri nya tidak boleh melakukan aktivitas berat yang membuat nya kecapean karena akan memicu detak jantung yang tidak stabil dan sangat berbahaya. Namun tadi pagi diri nya nekat untuk membantu sang kakak mengantarkan pesanan roti, diri nya takut roti-roti itu akan terlambat diantar karena sang kakak harus melayani pelanggan yang ramai di toko roti sang ibu. Bukan nya tak ada pegawai yang membantu terlebih untuk mengantarkan pesanan roti-roti tersebut, namun memang diri nya lah yang selalu mencari alasan agar bisa keluar dan tak diawasi oleh kakak dan sang ibu yang kerap kali melarang nya ini dan itu.


Melihat wajah sang kakak yang nampak sedih dan lelah, ada rasa bersalah yang menyelinap masuk kedalam hati nya tapi bila iya mengingat kejadian tadi pagi saat diri nya bisa bertemu bahkan mengobrol langsung dengan sang idola maka tak ada sesal dalam hati nya sekarang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.