
Mamah Laura dan Vina kini telah berdiri didepan lift menunggu pintu lift terbuka bersama dengan beberapa orang lain nya yang juga pengunjung dari cafe tempat mereka makan siang tadi, mamah Laura merasa sedikit kecewa karena sang keponakan tidak dapat bergabung bersama nya dan Vina untuk makan siang bersama.
Sandra dan juga dokter Dita pun telah selesai dengan makan siang mereka, dokter Dita mengajak Sandra untuk berbicara di ruangan nya sekaligus hendak mengobati pipi Sandra yang mulai nampak lebam, Sandra mengiyakan ajakan dokter Dita karena untuk bercerita di cafe bukan lah ide yang baik ternyata karena sekarang bertepatan dengan jam makan siang membuat cafe tersebut lumayan ramai dan tidak leluasa untuk nya bercerita ditambah kejadian tadi yang membuat makan siang mereka terganggu.
Sandra dan dokter Dita berjalan menuju lift yang akan membawa mereka kelantai dua dimana ruangan praktek dokter Dita berada, terlihat ada beberapa orang yang mengantri menunggu didepan pintu lift. Mata dokter Dita melihat sosok gadis yang selama ini begitu membuat nya penasaran, tidak salah lagi itu gadis yang tadi dia lihat bersama Luke. Gadis yang membuat Luke tersenyum, gadis yang bisa dekat dengan intim nya dengan laki-laki yang iya idamkan selama ini.
Dokter Dita sangat yakin melihat perawakan dari postur tubuh, rambut hitam panjang gadis itu semua nya dokter Dita mengingat nya sampai saat ini.
Dokter Dita berlari kecil menuju gadis tersebut, bertekad untuk bisa mengenali wajah dari rival nya. Hingga Sandra yang bicara kepada dokter Dita dari tadi dibuat kebingungan tiba-tiba saja dokter Dita berlari seperti mengejar sesuatu.
Melihat seseorang yang berlari kearah mereka, mamah Laura berpikir kalau dokter tersebut sedang buru-buru hendak masuk kedalam lift yang baru saja terbuka pintu nya sehingga berinisiatif menarik anak gadis nya untuk memberi jalan kepada dokter perempuan tersebut masuk terlebih dahulu masuk kedalam lift.
Vina yang terkejut karena ditarik menepi oleh mamah Laura hanya menurut, diri nya tadi hendak melangkah masuk kedalam lift ketika pintu lift terbuka namun mamah Laura justru menarik nya menjauh dari pintu lift sehingga orang-orang yang juga sedang menunggu lift tersebut mulai masuk kedalam nya.
Dokter Dita yang sudah dekat dengan incaran nya itu hendak menggapai tangan dari gadis yang begitu membuat diri nya penasaran, namun tiba-tiba saja badan nya limbung dan terdorong masuk kedalam lift dengan orang-orang yang masuk kedalam lift juga saat pintu nya terbuka.
"Astaga...." Erang dokter Dita tertahan, karena malah ikut masuk kedalam lift dan disaat hendak berbalik untuk keluar justru pintu lift sudah tertutup.
"Mamah koq narik Vina, kasihan dokter itu tadi hampir aja jatuh." Vina tadi sempat melihat dokter Dita yang limbung saat diri nya bergeser secara tiba-tiba akibat ditarik mamah Laura.
"Iya kah? Mamah gak lihat, mamah sengaja narik Ina karena mamah kasihan sama dokter itu tadi pasti dia lagi buru-buru sampai lari-larian gitu." Jelas mamah Laura.
"Iya juga ya mah, mungkin ada pasien gawat atau ada tindakan emergency yang mengharuskan dokter tersebut buru-buru dan.." Okeh dramatisasi Vina kumat lagi.
"Sudahlah sayang, tidak usah dipikirkan. Itu sudah jadi tugas dia." Mamah Laura menstop dramatisasi Vina.
"Mbak Laura..?!"
Panggil seseorang dari arah belakang mereka, mamah Laura pun berbalik melihat siapakah yang memanggil nya.
"Sandra, kau disini?" Sapa mamah Laura setelah mengetahui siapa yang memanggil nya.
"Iya, aku ada janji dengan dokter disini." Jawab Sandra seraya memperhatikan Vina.
Mamah Laura hanya tersenyum mendengar jawaban Sandra namun diri dibuat salah fokus dengan lebam yang ada dipipi Sandra, begitu pun dengan Vina yang memperhatikan pipi Sandra semenjak mamah Laura dan Sandra saling sapa.
Merasa diperhatikan Sandra jadi salah tingkah dan membatin meruntuki diri nya yang lupa mengenakan masker untuk menutupi luka lebam dipipi nya.
Untung nya pintu lift kembali terbuka hingga mereka bisa terbebas dari situasi canggung antara mereka. Mamah Laura masuk kedalam lift disusul oleh Vina yang mengekor induk nya seperti anak ayam, Sandra pun masuk kedalam lift yang sama.
Selama mereka didalam lift, Sandra memperhatikan Vina dari kaca yang menjadi dinding lift yang mereka naiki. Seperti nya otak cerdas nya kembali memikirkan rencana, entah rencana baik atau rencana yang kembali membawa hadiah kejutan untuknya sendiri.
Lift berhenti dilantai dua gedung tersebut dimana Sandra akan melangka keluar pada saat pintu lift terbuka, dengan sedikit basa basi sebelum pintu lift terbuka Sandra menyapa kembali mamah Laura dan mengatakan akan menemui dokter dilantai tersebut. Didalam lift pada saat itu tak hanya mereka saja namun ada beberapa orang juga yang ikut keluar dilantai dua bersamaan dengan Sandra.
Saat pintu lift terbuka nampak lah dokter Dita sedang berdiri didepan pintu lift bersama dengan Edo dan Luke yang masih setia memakai topi dan masker nya, Sandra nampak terkejut tapi juga senang melihat dokter Dita bersama dengan Luke disana. Luke yang menyadari gadis nya ada didalam lift dengan cepat menarik Edo masuk kedalam lift tanpa menyapa Sandra yang baru saja keluar dari lift.
Dokter Dita melalui ekor mata nya menangkap bayangan gadis yang tadi diincar nya, diri nya pun bergegas hendak ikut masuk kedalam lift terlebih Luke sudah terlebih dahulu menarik sang asisten nya Edo untuk masuk kedalam lift itu juga. Membuat nya semakin dibakar penasaran, namun sayang langkah nya harus terhenti dikala Sandra malah menggandeng dokter Dita untuk masuk keruangan praktek nya untuk minta diobati.
Yang sabar ya dok....
Didalam lift Edo tidak dapat menahan geli melihat Luke yang tak berkutik didepan mamah Laura. Setelah masuk lift yang hanya menyisakan mereka berempat, Luke melepaskan masker nya dan menyapa mamah Laura ramah dan hormat.
Mamah Laura pun senang bisa bertemu dengan Luke disana, tak lupa mamah Laura menyempatkan untuk mengabadikan momen pertemuan mereka dengan Vina sebagai juru photo nya. Yah untuk menambah koleksi penghuni sosial media nya, mamah Laura berujar sebelum mereka berpose.
"Dokter Dita..."
"Panggil Dita aja tant" Ujar dokter Dita setelah selesai mengoleskan salep dipipi Sandra yang lebam.
"Dita, apa kamu dekat dengan Anna?" Tanya Sandra
"Gimana ya tant, dibilang dekat sech gak soal nya Anna seperti gak suka sama aku." Jawab dokter Dita kembali.
"Dita kalau kamu ingin dekat dengan Luke, tante saranin kamu untuk bisa dekat dulu dengan Anna." Ujar Sandra seraya melihat wajah nya yang lebam dari cermin yang dipegangnya.
"Maksud tante, aku harus bisa berteman dengan Anna?"
"Iya dong, tante kasih tau ya. Orang-orang yang dekat dengan Anna kebanyakan juga bisa dekat dengan Luke, contoh nya para sahabat-sahabat nya Anna." Jelas Sandra kepada dokter Dita.
Dokter Dita yang mendengar nya hanya mengangguk dan mulai memikirkan cara untuk mendekati Anna seperti saran dari Sandra.
"Tapi gimana ya tant, kaya nya susah dech untuk dekatin anak tante tu."
"Iya sech, Anna emang sinis tapi sebenarnya dia baik. Atau kamu deketin teman-teman nya Anna dulu biar mudah masuk kedalam circle pertemanan mereka, gimana?"
"Cara nya? Teman-teman nya Anna saja aku gak kenal tant."
"Dita apa kamu kenal dengan Laura?"
"Laura? Maksud tante Laura si pengacara itu?" Jawab Dita yang mulai kebingungan kemana arah pembicaraan Sandra sekarang, koq rasa nya jauh dari bahasan mereka sebelum nya.
Sandra mengangguk kan kepala nya dengan senyum mengembang dibibir nya.
"Apa kau mengenal anak-anaknya?" Tanya Sandra kembali.
"Aku tau tapi tidak mengenal langsung, anak nya juga seorang pengacara juga. Kalau tidak salah aku pernah mendengar kalau dia dan Luke sedang mengerjakan project charity gitu berupa lembaga atau apa lah gitu."
"Iya, dan satu lagi. Si Anak bungsu nya, apa kau kenal?"
Dokter Dita memandang Sandra dengan kebingungan, diri nya nampak sedang berpikir sampai akhir nya dia pun menggeleng.
"Vevina, nama nya Vevina. Dia adalah teman baik Anna. Coba lah kau dekati dia dan berteman dengan nya untuk bisa mendekati Anna dan setelah nya pasti kau bisa dekat dengan Luke."
"Vevina, baik lah tant. Akan aku coba." Jawab Dita dengan senyuman berkembang dibibir nya.
.
.
.
.
.
.