"Sweet Bride, Vevina & Luke Story"

"Sweet Bride, Vevina & Luke Story"
13. Ulah Vina Ckckck...



"Baik lah kau sudah dikamar, apa ada lagi yang kau mau dan butuhkan?" Ucap Luke sembari menyodorkan kotak tisu kepada Vina yang sudah dia turun kan dari gendongan nya di sofa yang ada dikamar Anna.


Vina hanya diam dan menundukkan kepala nya, dia terlihat sibuk dengan membersihkan wajah nya dengan tisu yang disodorkan Luke tadi. Luke berdiri tepat dihadapan nya tak bergerak, diri nya hanya memperhatikan gadis mungil didepan nya itu dengan geleng-geleng kepala.


Luke dibuat tak habis pikir dengan ulah Vina kali ini, diri nya dan ketiga orang yang menyaksikan adegan jatuh nya tadi dibuat ketar ketir panik ketika diri nya hanya diam, meringkuk dan menangis diruang tengah tadi. Mereka takut terjadi hal-hal yang menakutkan dan mengira diri nya yang sedang menahan sakit yang luar biasa yang pada kenyataan nya Vina baik-baik saja, diri nya meringkuk dan menangis disebabkan oleh menahan malu karena mereka yang melihat nya jatuh dengan gaya yang konyol menurut nya.


Sadar Luke yang masih memperhatikan nya, membuat Vina bertambah malu dan tak berani bersuara dan menunduk kan kepala nya dalam. Melihat Vina yang diam saja tak merespon nya Luke pun mendekat nya dan mencium pucuk kepala gadis tersebut, hal itu kontak saja membuat Vina terkejut dan mendongakkan kepala nya yang disambut dengan senyuman Luke ketika pandangan mereka bertemu. Luke bisa melihat dengan jelas mata sembab Vina serta wajah dan hidung Vina yang memerah akibat tangisan tadi, Luke lagi-lagi mencium Vina kali ini di kening nya cukup lama. Vina yang merasa dicium lagi oleh Luke, kali ini benar-benar dibuat hampir pingsan dan sesak nafas. Terasa udara diruang tersebut seketika menipis dan badan nya tak mempunyai kekuatan lagi untuk menopang tubuhnya yang sedang dalam posisi duduk di sofa didalam kamar tersebut.


"Heii... Vin are you okay?" Tanya Luke yang melihat tubuh Vina yang tiba-tiba oleng dan rebah ke sofa.


"Apa ada yang sakit atau kamu butuh dokter biar aku panggil Dita ya." Tanya Luke sambil berjongkok dihadapan Vina.


"Memang nya Dita siapa?" Tanya Vina lemah dengan mata tertutup.


"Dokter Dita." Jawab Luke singkat.


"Gak mau!!! Aku udah gak kenapa-kenapa. Kepala ku hanya pusing saja, gak perlu dokter." Ucap Vina pelan.


"Baik kalau begitu." Luke bangun dan berbalik berniat keluar dari kamar tersebut.


Di Pintu kamar yang terbuka sudah ada Anna yang berdiri bersandar di pintu kamar yang tersebut, tak lupa dengan kedua orang yang berdiri disamping dan belakang nya. Mereka menjadi penonton dan saksi dari apa saja Luke dan Vina lakukan didalam kamar.


Sang dokter dan asisten nya sendiri kini telah berada disalah satu ruangan yang berada dilantai dua unit tersebut, dokter Dita dipanggil bukan hanya untuk memeriksa Vina tapi untuk memeriksa Luke yang semalaman tidak diketahui keberadaan nya. Anna hanya ingin memastikan keadaan Luke, diri nya takut kalau saja Luke lepas kendali atau trauma nya kembali kambuh tadi malam saat tidak diketahui keberadaanya. Itu lah sebab nya Anna meminta dokter Dita untuk datang dan mengecek keadaan Luke pagi ini, tanpa tau akan ada insiden jatuh nya sang sahabat.


"Dia kenapa?" Tanya Anna kepada Luke sembari memicingkan matanya menatap sang sepupu.


Yang ditanya hanya, menggeleng pelan dan kembali menatap Vina yang masih belum menyadari ada ketiga pasangan mata yang mengamati diri nya dari pintu kamar.


"Heiii... Ditanya bukan nya jawab malah geleng-geleng aja." Dengus Yuna kesal.


"Apa dia pingsan?" Tanya Edo dari belakang kedua gadis yang menghadang pintu kamar.


Pertanyaan dari Edo membuat kedua gadis didepan nya maju dan masuk kamar tersebut mendekat kearah Vina.


"Dia kenapa?" Pertanyaan itu keluar lagi dari bibir Anna kepada Luke yang malah cuek keluar dari kamar tersebut yang di ekori oleh Edo.


"Isstt... Dasar budek! Ditanya malah pergi." Kesal Yuna melihat Luke yang melengos keluar kamar.


"Udah Yun, biarin aja. Mending urusin aja tu anak." Ucap Anna dengan menyipitkan mata nya memandang Vina.


"Vin... Mending sekarang kamu bangun dan jujur, kamu itu kenapa?!!" Tanya Yuna dengan kedua tangan yang bertengger di pinggang nya.


Anna pun ikut mengangguk-angguk kan kepala nya setuju dengan pernyataan yang Yuna tanyakan pada Vina, Vina membuka mata nya sedikit seperti orang yang mengintip dan menyadari tatapan kedua sahabatnya itu seperti memiliki kekuatan laser yang bisa saja mengiris nya jadi beberapa bagian.


"Gak usah ngintip-ngintip dech!! Bagun cepetan, duduk yang benar trus cerita yang sebenar nya!!" Perintah Yuna dengan mata melotot memandangi Vina.


"Hooh... Bangun ih, atau aku adukan ya ke kakak mu!!" Tambah Anna.


"Iya... iya ini aku bangun, tapi beneran koq kepala ku pusing ini." Ucap Vina yang bangun dan duduk dengan benar di sofa tersebut.


Vina tak berani menatap kedua sahabat nya yang seperti nya sedang bertanduk. Dia hanya menunduk kepala nya dan mulai menjelaskan dari awal disaat diri nya memergoki Luke di dapur memukuli nya, sampai kejadian diruang tengah tadi bahwa diri nya menangis karena malu dan tak menyangka kalau Luke sampai memanggil dokter untuk memeriksa nya. mendengar penjelasan Vina, Anna memijit kepala nya pelan. Rasa nya otak sahabat sekaligus calon adik ipar nya itu benar perlu direparasi biar bisa digunakan dengan benar. Sedangkan Yuna tersenyum kecut sambil menggeleng kan kepala nya mendengar cerita sahabat nya itu, ada hal yang Vina tak cerita kepada kedua sahabat nya. Hal yang membuat jantung nya tak aman setiap berdekatan dengan Luke, dia memilih menyimpan nya untuk diri nya sendiri.


"Vin, apa kamu punya hubungan spesial dengan tiang listrik itu ya?" Tanya Yuna dengan penasaran nya.


"Haaahh... Tiang listrik? Tiang listrik yang mana, hubungan apa? Ihh.. Hubungan bagaimana coba, kalau kesetrum kan ngeri Yun!!! Jawab Vina dengan tampang oon nya dimata Yuna.


Vina dan Yuna saling pandang mendengar pertanyaan Anna, Vina menundukkan kepala nya menyembunyikan pipi nya yang merona mendengar pertanyaan Anna kepada nya. Sedangkan Yuna bingung dengan sikap Vina yang diam tak menjawab pertanyaan Anna.


"Ya sudah, sebaiknya kita siap-siap berangkat ke toko yuk, udah siang ini." Ucap Anna. Anna paham mungkin Vina sedang bingung dengan apa yang dirasakan nya kepada Luke dan Anna tak ingin Vina terpaksa menjawab pertanyaan nya.


"Astaga sampai lupa kan, hari ini ada orderan yang harus diselesaikan pagi ini. Kalau sampai batal itu semua gara-gara kamu ya Vin, awas aku potong gajih mu." Yuna tiba-tiba mengomel mengingat pekerjaan nya yang sempat terlupakan yang disebabkan oleh insiden jatuh nya Vina.


"Iya-iya aku yang salah, aku emang akan selalu salah dan tak pernah benar dimata mu." Ucap Vina drama.


"Dih... Mulai dech drama nya, sana cuci muka mu tu banyak ingus nya!!" Perintah Yuna tanpa melihat Vina.


Mendengar kata-kata Yuna, Anna tergelak tertawa terlebih melihat Vina yang tiba-tiba bangun dari duduknya berlari kekamar mandi dikamar itu. Kurang lebih 30 menit bersiap dan merapikan diri lagi, ketiga gadis itu telah siap untuk pergi ke toko bunga yang jarak nya tak jauh dari gedung apartemen tersebut.


Yuna dan Vina terlebih dahulu keluar unit dan menunggu didekat lift karena Anna yang masih didalam unit apartemen nya dan Luke, Anna menemui dokter Dita sebelum diri pergi ke toko. Diri nya ingin memastikan keadaan Luke yang baru saja selesai diperiksa oleh dokter Dita dan asisten nya, kini Luke sedang beristirahat setelah diberi beberapa obat oleh dokter Dita.


"Bagaimana keadaan nya dok?" Tanya Anna.


"Keadaan nya kurang baik, dia butuh istirahat dan tidur yang cukup. Ini beberapa obat yang harus Luke konsumsi dalam beberapa hari sampai keadaan nya pulih lagi." jelas dokter Dita sembari meminta asisten nya menyerahkan beberapa obat kepada Edo yang juga ada disana.


"Apa kah buruk?" Tanya Anna kwartir.


"Tidak, dia seperti nya sangat lelah. Selebihnya dia baik-baik saja. Hhmm... Ann boleh aku bertanya?" Tanya dokter Dita pelan.


"Maaf Dita, aku harus pergi kalau memang Luke hanya butuh istirahat. Terimakasih ya, ohh ya.. Maaf tapi profesional lah kau tau sendiri bagaimana Luke, dia tak akan suka privasi nya terganggu. Kau pasti tau dan sangat paham kan!" Tegas Anna dengan senyum manis nya kemudian berlalu meninggalkan dokter Dita yang mematung mendengar kan kata-kata Anna tadi.


Edo yang dari tadi memperhatikan kan obrolan antar dokter Dita dan Anna, mengangguk-anggukan kepalanya seolah membenarkan apa yang dikatakan oleh Anna. Kemudian bangun dari duduknya di sofa yang ada diruang tengah tempat dokter Dita dan Anna membahas tentang kesehatan Luke tadi setelah selesai diperiksa oleh dokter Dita, melihat Anna yang sudah melenggang keluar dari unit apartemen tersebut Edo pun mempersilahkan dokter Dita dan asisten nya untuk juga meninggal kan unit tersebut karena sudah tidak ada keperluan lain untuk berlama-lama disana.


Didepan lift Yuna dan Vina nampak sedang membahas sesuatu yang membuat wajah Vina cemberut, seperti nya Yuna masih dalam mode mengomeli Vina yang membuat nya terlambat datang ke toko. Melihat hal tersebut Anna hanya tersenyum dan mengajak kedua nya masuk kedalam lift yang sudah terbuka, disaat ketiga sahabat itu masuk kedalam lift dokter Dita bersama asisten nya datang dan seperti nya hendak ikut masuk kedalam lift tersebut juga namun pintu lift sudah terlebih dahulu tertutup yang mana membuat dokter Dita merasa kesal karena lagi-lagi diri nya tak dapat melihat wajah dari gadis yang tadi begitu dekat bahkan bisa dengan mudah membuat Luke memeluk dan menggendong nya dengan posisi yang intim.


.


.


.


.


.



Luke yang gak habis pikir dengan kelakuan konyol Vina..


.


.


.


.


Terima kasih untuk dukungan nya 💜borahe💜