"Sweet Bride, Vevina & Luke Story"

"Sweet Bride, Vevina & Luke Story"
18. Ketidak sukaan Anna



Anna melangkah kan kaki nya diikuti oleh koper besar yang iya seret melewati sang ibu sambung, sampai seorang pekerja dirumah itu menghampiri nya untuk membantu membawakan koper besar tersebut.


"Mbak tolong bawa koper ini dan masukan ke bagasi mobil ku ya, terima kasih." Perintah Anna kemudian berlalu menghampiri sang nenek yang masih berada di taman bersama Dita.


Sandra hanya bisa memandangi punggung Anna yang menjauh dari nya, tampak bibir nya tersenyum kecut dan mata yang menatap nanar kearah Anna yang kini telah bergabung bersama sang ibu mertua dan Dita. Sandra kemudian naik kelantai atas setelah mengingat kembali tujuan nya tadi, namun sebelum diri nya mengambil obat yang jadi tujuan nya tadi. Dirinya terlebih dahulu masuk kekamar yang diri nya tempati sekarang, setelah masuk kedalam kamar sandra langsung menuju kamar mandi yang berada didalam kamar itu dan membanting pintu nya untuk melampiaskan kekesalan nya menghadapi Anna yang tak pernah mau menerima kehadiran nya.


"Kenapa kamu begitu keras kepala, kamu benar-benar batu Anna. Tak jauh beda dengan ayah mu yang bodoh itu!!! Kalian ayah dan anak sama-sama bodoh, selalu saja mengabaikan ku.... Aaarrrggg!!!!" Sandar melempar kan barang apa saja yang bisa diraih nya, sebagai pelampiasan kekesalan dan amarah nya didalam kamar mandi. Hal itu diri nya lakukan agar tidak terdengar suara teriakan atau pun suara barang-barang yang pecah saat diri nya meluapkan emosi nya. Setelah dirasa sudah bisa mengendalikan diri dan emosi nya, Sandra memutuskan untuk membersihkan diri nya terlebih dahulu sebelum turun kembali kebawah dan tak lupa mengambil obat yang jadi tujuan nya tadi.


Ditanam nampak lah Anna yang sekarang ikut bergabung dengan sang nenek dan juga Dita, diri nya duduk ditengah-tengah kedua nya setelah menyalami dan memeluk sang nenek tadi.


"Anna, menginap lah disini." Pinta sang nenek


"Eemm..." Jawab Anna tanpa menoleh kepada sang nenek karena diri nya sedang sibuk dengan telpon pintar nya membalas pesan yang masuk dari sang kekasih.


"Suruh Luke juga pulang, biar kita makan malam bersama nanti. Dita kamu juga ya ikutlah makan malam disini." Pinta sang nenek kembali.


"Baik nek, kebetulan Dita malam ini tidak ada acara." Jawab Dita senang.


"Aku usahakan ya nek, tapi kalau Luke entah lah.. Tapi bukan kah tadi pagi dokter nya bilang kalau Luke harus banyak-banyak istirahat dan menghindari stres yang mungkin diakibatkan dari luapan emosi, ya Anna hanya takut nek kalau Luke bisa saja merasa tidak nyaman dengan situasi nya ada." Jawab Anna dengan tangan yang masih sibuk membalas pesan sang kekasih.


Mendengar apa yang Anna katakan sang nenek diam mencoba mencerna apa maksud dari perkataan sang cucu nya tersebut, situasi apa yang Anna maksudkan kenapa Luke merasa tidak nyaman? Dita pun sama bingung nya dengan sang nenek, diri nya tak mengerti apa maksud dari perkataan Anna.


"Dokter Dita sebagai dokter pribadinya Luke bukan kah tadi pagi diri mu yang menganjurkan untuk Luke sebaiknya lebih banyak beristirahat kan, iya kan?" Tanya Anna dengan menoleh menatap kearah Dita.


Dita yang merasa ditatap oleh Anna pun hanya mengangguk kepala nya membenarkan apa yang Anna katakan tadi.


"Kalau hanya beristirahat, disini pun Luke bisa beristirahat, kamar mu dan Luke masih sama seperti terakhir kali tempati. Tinggalan disini selama kapan pun kalian mau, kenapa juga harus pindah keapartemen itu." Nenek menghela nafas nya, rasa nya emosi bila mengingat alasan apa yang diutarakan Anna dan Luke saat memilih pindah dari rumah besar tersebut keapartemen yang sekarang mereka tinggali. Anna hanya diam menanggapi sang nenek, diri nya lebih memilih tak ingin membahas apa yang nenek nya keluhkan.


"Dita bolehkah aku sedikit memberikan saran untuk mu?." Anna memulai percakapan kembali dengan Dita yang nampak bingung kemana arah pembicaraan Anna.


"Iya?" Jawab Dita


"Seperti yang kita tau diri mu sekarang ini termasuk dokter yang diperhitungkan dengan karier yang bagus bahkan kamu juga memiliki paras yang cantik dan manis. Pastilah banyak sekali pria diluar sana yang mendekati menaruh hati pada diri mu kan, apa kau tak tertarik mencoba membuka kesempatan mungkin saja salah satu pria dari mereka untuk bisa mengenal lebih dekat dan mungkin saja ada jodoh mu ada diantara mereka." Ucap Anna seraya mengunyah buah-buahan yang tersaji dihadapan nya.


Dita menatap Anna dengan heran dan tiba-tiba saja iya mengingat kembali kejadian tadi pagi, pertanyaan nya tentang gadis mungil yang dengan mudah nya bisa memeluk bahkan dengan begitu intim nya kembali menggelitik nya untuk kembali bertanya siapakah gadis tersebut dan ada hubungan apa gadis tersebut dengan Luke.


"Hehehe... Tak ku sangka ternyata kau juga memperhatikan ku ya Ann, kau tau Ann kau tak salah tapi juga tak sebanyak itu juga hehe.. Memang ada beberapa yang mendekati tapi aku rasa cukup sebatas teman dan profesional pekerjaan akan lebih baik, terlebih untuk sekarang aku ingin lebih fokus untuk pendidikan dan pekerjaan ku dulu.


"Aaahh.... Betul juga pendidikan dan karier memang penting di jaman seperti sekarang ini, ya walau pun aku tidak menempuh pendidikan yang tinggi seperti mu tapi aku setuju dengan pemikiran mu. Aku pun lebih memilih karier ku sekarang ketimbang memikirkan perjodohan ya kan! Lagi pula di jaman modern seperti sekarang apa iya masih mau dijodohkan, kesan nya gak laku ya hahaha..." Anna menertawakan ucapan nya sendiri yang sarat sindiran kepada sang nenek dan sang ibu sambung yang baru saja tiba dengan membawa obat sang mertua.


Anna yakin bahwa perkataan nya tadi didengar oleh Sandra, Dita hanya tersenyum kecut mendengar panjang lebar perkataan Anna barusan. Sedangkan sang nenek sendiri masih nampak diam saja mendengar kan obrolan sang cucu dan Dita. Anna memilih tak peduli dengan reaksi orang-orang disekitar nya sekarang, dia memasang muka acuh nya seakan tak pernah mengatakan apa-apa. Didalam hati nya Anna berharap Dita paham maksud dari kata-katanya barusan.


Sandra yang baru datang mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Anna barusan, Sandra nampak berusaha menyembunyikan kekesalannya terhadap apa yang baru saja iya dengar. Sandra paham betul maksud dari kata-kata sang anak sambung nya itu, seperti nya Anna tau niat nya untuk menjodohkan Dita dengan Luke. Namun Sandra harus menahan diri dan berusaha seperti tak mendengar perkataan Anna barusan, diri nya terlihat sibuk menyiapkan obat yang telah dibawa nya untuk diminum sang ibu mertua.


"Tidak apa-apa san, terima kasih ya."


"Maaf semua seperti nya aku harus undur pamit, ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Anna bangkit dari duduk nya.


"Anna, bukan kah tadi nenek menyuruh mu untuk tinggal. Sekarang hubungi Luke untuk pulang dan makan malam disini." Perintah sang nenek yang kesal karena Anna yang tiba-tiba hendak pamit.


"Nenek, makan malam nya lain kali saja ya. Anna janji akan datang bersama Luke juga tapi untuk sekarang maaf tidak bisa, lagian nenek kan tidak sendirian sekarang." Jawab Anna seraya menekankan suara nya yang menyebut bahwa sang nenek tidak sendirian sekarang.


Kembali lagi Sandra harus menahan kekesalan nya terhadap sang anak sambung dihadapan nya sekarang. Anna yang sudah berdiri berjalan menuju sang nenek, Anna menyalami dan mencium sang nenek sebelum diri nya berlalu dari sana. Setelah anna berlalu, Dita pun menyusul Anna dengan alasan hendak mengambil barang didalam mobil nya. Dengan setengah berlari Dita berhasil menemui Anna sebelum Anna masuk kedalam mobil nya.


"Ann tunggu dulu." Ucap Dita dengan nafas memburu.


"Ada apa?" Jawab Anna seraya memasang kaca mata hitam nya.


"Ann, sebenar nya siapa dia? Tanya Dita dengan berani.


"Bukan kah sudah aku jelaskan, sebaik nya tidak perlu ikut campur urusan yang bukan urusan mu ibu dokter. Lagi pula itu tidak ada urusannya dengan diri mu." Ucap Anna sambil membuka pintu mobil nya setelah diri nya masuk kedalam mobil seraya menurunkan kaca mobil dan melemparkan senyuman kepada Dita lalu berlalu dari sana.


Lagi-lagi Dita hanya bisa diam dan tersenyum getir mendengar jawaban dari Anna.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terima kasih untuk dukungan nya 💜borahe💜