"Sweet Bride, Vevina & Luke Story"

"Sweet Bride, Vevina & Luke Story"
Jelas Gak Jelas..



Serena benar-benar merasa sebagai pihak yang sangat dirugikan pada saat ini, namun apa daya diri nya hanya bisa pasrah dan duduk dalam diam dengan seluruh jari dikedua tangan nya yang yang saling meremas.


Bukan perkara gugup atau takut? Ohhh... Tentu tidak!! Karena iya merasa diri nya tidak bersalah dalam perkara yang sedang dijabarkan oleh Adrian kepada sang mertua dan istri dari sang bos nya itu yang duduk dihadapannya.


Serena, gadis manis dengan body proposional dilengkapi dengan kulit yang putih bersih serta garis wajah yang manis hasil mix antara asia dan eropa itu serta tak lupa rambut coklat sebahu nya yang tergerai manja menambah pesona gadis manis dengan tinggi nya 183 cm tersebut.


Adrian sekilas melirik pada Serena yang dari tadi hanya diam saja, entah diri nya ikut menyimak penjelasan dari Adrian atau kah diri nya sedang memikirkan cara untuk membalas Adrian setelah ini, karena Adrian kenal betul watak dari gadis manis yang juga adik sepupunya itu.


Adrian merasa masalah ini tak akan segera selesai walaupun sang istri telah memaafkan nya karena iya tau pasti Serena tidak akan memaafkan nya dengan mudah, yahh Serena pasti akan menguras saldo Adrian dengan sangat bersemangat karena apapun masalah nya yang berkaitan dengan gadis manis itu akan beres bila saldo Serena bertambah digit nya.


"Baik lah, kalau memang itu sumber masalah. Hmm.. Ayah rasa Adrian tidak salah nak. Kamu hanya salah paham."


Ayah David merangkul Lia dan mengelus rambut sang putri dengan lembut.


"Tapi tadi, para karyawan bilang kalau kamu sering gonta-ganti gandeng cewek dilingkungan perusahaan!"


Seru Lia menatap tajam kearah Adrian.


"Kalau itu seperti nya anda salah paham nyonya, yang mereka maksud adalah clien bisnis dan hal tersebut hanya untuk etika dan menghormati clien namun tak semua begitu nyonya. Tidak ada maksud lain selain itu, dan untuk tadi yang ada liat dilobby saya sepenuh nya minta maaf. Perkenalkan saya Serena, sektretaris sekaligus adik sepupu dari suami anda nyonya."


Serena yang dari tadi diam tiba-tiba saja buka suara dengan lantang dan tenang dalam menjelaskan dan memperkenalkan diri nya.


Mendengar penjelasan panjang lebar dari Serena, Lia melirik kearah sang suami untuk meminta pembenaran apa yang dikatakan oleh Serena.


Adrian mengangguk antusias mendengar penjelasan panjang lebar dari Serena dan tersenyum seolah mengiyakan apa yang Serena katakan.


Ayah David bernapas lega akhirnya masalah ini kelar juga, ayah David pun berdiri dari duduk nya dan merapikan jas nya yang tampak kusuk akibat sang putri yang dari tadi nempel bak cicak ditembok kepada nya.


"Baiklah, ayah rasa masalah ini sudah selesai dan tidak usah diperpanjang lagi. Adrian jaga istri mu baik-baik. Mood ibu hamil benar-benar susah ditebak, mengalah akan lebih baik karena itu berpengaruh pada kesehatan ibu dan cucu ku selama dikandungan. Dan untuk mu Lia, jangan cepat emosi, apalagi sekarang ada cucu ayah dikandungan mu. Tolong lebih bersabar lah sayang, jangan sembarang mengeluarkan tenaga dalam ya. Ayah takut cucu ayah nanti ketakutan didalam sana."


"Iya yah."


Jawab sepasang pasutri itu kompak tanpa dikomando, membuat kedua saling tatap. Adrian nampak tersenyum namun tidak dengan Lia yang buang muka karena masih merasa jengkel dengan sang suami.


"Dan untuk mu nona Serena, aku benar-benar minta maaf telah menyeret mu ikut dalam drama rumah tangga mereka. Semoga kau bisa lebih sabar apabila ke depan nya akan ada drama-drama yang mungkin saja akan tayang lagi."


Ucap ayah David enteng kepada Serena, Serena yang mendengar perkataan ayah David tersenyum kikuk lalu mengangguk pelan.


Kini Serena pun kembali keruang kerja nya yang berada persis didepan ruang kerja Adrian, disana tak hanya ada diri namun juga beberapa staf lain nya. Saat diri nya masuk kedalam ruangan tersebut, ketiga rekan kerja nya segera mengerumuni meja kerja nya dengan wajah-wajah penasaran.


"Ren, kamu diapain tadi?"


"Ren, koq lama banget didalam cerita dong kepo ni?"


Berondongan pertanyaan dari teman-teman nya membuat Serena tersenyum kecut.


"Baru juga aku duduk udah pada kepo aja, ditanya ini lah itu lah... Dikasih minum kek dulu, dikasih coklat, cemilan atau duit kek.. Mau napas ni, kasih ruang tolong, sana-sana hussssss."


Usir Serena pada teman-teman nya.


Dari balik pintu ruangan sang boss nampak keluar ayah David, Lia dan juga sang boss Adrian. Berjalan beriringan, melihat hal tersebut para staf yang tadi mengerumuni meja Serena langsung berlarian kemeja masing-masing. Serena yang melihat ketiga hanya duduk diam dimeja nya, tak lama ketiga menghilang dibalik pintu lift khusus yang diperuntukkan untuk sang boss dan para karyawan yang berkantong pada lantai tersebut.


Ketiga kini telah berada di mobil masing-masing, ayah David mengendarai mobil nya sendiri langsung kembali pulang kerumah karena diri nya tadi hanya pamit sebentar kepada sang istri yang masih terbaring lemah diatas kasur. Sedangkan Adrian dan Lia dimobil berbeda namun dengan arah yang sama, ya ayah Adrian meminta kepada kedua nya untuk datang menjenguknya sang mamah yang kini sedang sakit.


Awal nya kedua nya nampak ragu namun ayah Adrian menyakinkan mereka bahwa cepat atau lambat mereka harus bertemu dengan keluarga dan menjelaskan apa yang sebenarnya.


Sepasang pasutri tersebut nampak larut dalam pikiran nya masing-masing, hening disepanjang yang mereka lalui. Hingga tibalah mereka didepan gerbang depan rumah kediaman keluarga Tirtayasa, rumah yang menjadi tempat Lia dibesarkan. Nampak Lia meremas jari-jarinya saat perlahan mobil mereka mulai memasuki halaman rumah tersebut.


"Sayang, apa kamu belum siap? Kalau dirasa tidak nyaman kita kembali kesini lain kali saja ya.."


Bujuk Adrian melihat sang istri yang nampak gelisah.


Lia menatap pintu besar rumah tersebut yang terbuka, nampak ayah David telah masuk kedalam tanpa menunggu kedua nya turun.


"Baiklah mungkin sudah saat nya..!" Ujar Lia berbisik pada diri nya sendiri tanpa melepaskan pandangan nya dari pintu rumah tersebut yang masih nampak terbuka lebar.


"Sayang.. Kalau tidak nyaman, kita pulang saja ya. Jangan memaksakan diri, nanti biar aku yang.."


Belum sempat Adrian selesai dengan kata-kata nya pintu mobil nya telah terbuka namun Lia masih belum bergeser untuk keluar dari mobil.


"Sayang.... Ada apa?"


Tanya Adrian melihat raut wajah istri nya yang memelas.


"Bicara sayang, jelaskan ada apa jangan buat aku bicara sendiri dari tadi. Lama-lama aku takut kalau bicara sendiri terus seperti ini. Kamu kenapa?" Tanya Adrian dengan kalut melihat wajah istri nya meringis seperti menahan sakit.


"Aku sakit perut, pengen pup." Cicit sang istri setengah berbisik.


Astaga......